Wednesday

sobriety & perspectives upon girls who smoke cigarettes.

(it's a casual writing, not a research.)

it's interesting to finally tempt, tease society with some event thrills, see their responses--the way they see things and reflect their thought about it. i actually didnt try to deliberately show them. i always used to filter which things society can accept and which things they cannot when i wanted to share something, but last nite i tried to play loose. it was not that i show them, but i choose not to hide it. and it's interesting then, to see the waves.

i come from the middle social class with a very strong cultural internalization, the people who stick to the norms. so yea predictably, most of them shocked and frowned. some of them are moderate enough to know that it is actually a choice and it doesnt define somebody's basic attitude. some of them kept silent but i know they're watching because the viewers raised a lot. puput and ipang said people started to stalk them---hehe see.

interesting.

seeing how people reacting is more intriguing than thinking about our public images itself.

i grow up in this cultured environment whose people tend to be judgmental. basically the way they keep the norms is as strong as the way they talk about whoever breaks it. it's funny how society constructed. i myself stick to the norms, i have strong moral values i have no doubt about it. i know what is wrong and what is right, morally.

but not all the things that seem normative are relevant to be called as norms.

over the last one year i happened to casually observe about so many backgrounds and personalities. i know so many people with great normative attitudes, i grew up with them in school. back in junior high, i hate my friends who smoke cigarettes. mereka itu nakal. kurang perhatian. dan lain lain dan lain lain yang diajarkan seminar-semianar dan textbook pada kami semua, tentang kenakalan remaja. until now, i know that drinking liquor is bad. i know that alcohol, drugs, even cigarettes are bad, and it cost us negatively. but it doesnt make the people who drink and smoke a bad person.

ada yang namanya batas. ada yang namanya kontrol. ada yang namanya tujuan dan konteks.

langsung aku substitusi sama apa yang kami lakukan semalam. bagi yang tidak tahu (atau tidak sadar), @ozbezarious adalah puput dan @enakantidur adalah ipang. keduanya teman saya sejak sekolah menengah atas. kami bertiga bahkan satu kelas di kelas 10. kami berasal dari keluarga baik-baik, kami memiliki hidup akademik dan lingkungan yang sehat dan sama-sama pernah tinggal di asrama.

tentu saja, segala hal yang diajarkan dalam seminar-seminar kenakalan remaja itu bertujuan baik. saya setuju bahwa hal-hal itu buruk, dan sebaiknya jangan dilakukan karena cenderung merugikan, terutama bagi kesehatan. yang saya sayangkan kemudian sembari saya mulai beranjak dewasa dan mengenal banyak orang, saya baru sadar, hampir semua ajaran itu cenderung membuat kita berpikir bahwa hal-hal itu buruk secara normatif. padahal norma itu sudah mengakar kuat pada masyarakat sebagai suatu standar yang diyakini, meski norma ada pada hakikatnya untuk mengatur perilaku pada situasi tertentu, bukan secara mutlak memutuskan salah benar (kecuali hukum dan agama). jadi kebanyakan pelajar yang menerima materi cenderung berpikir bahwa itu buruk -- semua orang bilang begitu (secara norma) -- jangan dilakukan. kita tidak di-triger untuk berpikir logis bahwa 'itu buruk, sebaiknya jangan dilakukan' tapi lebih didoktrin bahwa 'itu buruk, jangan sampai dilakukan.' dengan adanya pemahaman yang general (pukul rata, mungkin dengan tujuan mengantisipasi kemungkinan terburuk), akhirnya kita cenderung memiliki asosiasi negatif dengan segala hal yang berkaitan dengan misalnya minum, atau merokok, tanpa berpikir logis terlebih dahulu.

bagi saya, merokok dan minum sampai mabuk itu buruk. bagi beberapa norma agama, minuman yang memabukkan itu haram. narkoba sudah tentu berbahaya.

tapi merokok dan minum tidak lantas membuat seseorang buruk secara sosial. melakukan hal itu tidak lantas membuat kita mengasosiasikan seseorang pada stereotype yang pukul rata. derajat seseorang tidak ada hubungannya dengan rokok atau kegiatan yang ia lakukan. ada konteks, ada batas dan ada yang namanya kontrol, selain itu merupakan pilihan pribadi orang tersebut.

merokok buruk bagi kesehatan. bagi orang lain yang menghirup asap rokok. merokok di kantin kampus yang sesak misalnya, tentu itu baiknya dihindarkan meski katanya merokok sehabis makan itu luar biasa nikmat. tapi itu bukan warung umum dan kampus merupakan institusi pendidikan dimana kegiatan utama mereka yang berada di dalamnya ialah edukasi formal. merokok buruk bagi kesehatan seseorang, ada baiknya kita mengingatkan orang atau mencegah orang tersebut atas nama kesehatannya, bukan secara sosial (bahkan atas nama derajat) menganggapnya buruk. saat masih di sekolah berseragam, kita memang masih di bawah umur sehingga ada baiknya mendapat pelajaran tentang perilaku yang benar atau sebaiknya dilakukan. sayangnya dengan kecenderungan asosiasi yang terlanjur terpatri, setiap ada teman sekolah yang kemudian merokok setelah lulus, terlihatnya buruk. derajatnya turun. lagi-lagi mungkin karena asosiasi normatif.

ngomong-ngomong, mungkin kalau cowok memang lebih bisa diterima ya. tapi yang malah bikin pertanyaan, kenapa sih kalau cewek yang ngerokok daat tanggapan yang agak berbeda?

memang rokok itu masalah gender ya? karena toh saya jarang sekali menemui orang yang memicingkan mata melihat teman perempuan merokok langsung menjurus tentang rahim dan janin mereka. nyaris semuanya soal bahwa ia itu perempuan. seharusnya tidak merokok. lagi-lagi perkara kacamata sosial. asosiasi normatif.

oke, kalau protes ia merokok karena kesehatannya, itu memang rasa peduli. logis sekali. toh kembali lagi itu pilihan yang tak bisa dipaksakan. tapi kalau sampai bilang perempuan tidak boleh merokok. itu.... aneh sekali.

saya pernah ada di masa ketika melihat teman merokok, entah lelaki atau perempuan, saya jadi risih. kemudian saya masuk kuliah dan saya mulai menjadi terbuka. kemudian teman-teman perempuan saya merokok, awalnya saya tidak biasa, kemudian saya tahu. saya termakan asosiasi normatif yang terlanjur negatif yang saya telan mentah-mentah ketika masih berseragam.

teman-teman perempuan saya yang merokok semuanya anak baik-baik. ipk mereka nyaris sempurna. mereka sehat dan ginuk-ginuk. merokok tidak ada hubungannya dengan perilaku sosial mereka.

jika moral dibentuk oleh budaya setempat, maka moral dihasilkan secara kolektif oleh suatu kumpulan manusia, yang sebenarnya juga punya logika untuk berpikir bukan? bisa sedikit memberi jeda untuk melihat konteks, iya kan?

saya tidak menyoal maupun menyalahkan orang yang menganggap apa yang kami lakukan salah. saya hanya menyayangkan. pun saya gak menyalahkan teman-teman saya yang minum atau merokok, saya hanya bisa mencegah, dan jika itu pilihan mereka, saya hanya bisa menyayangkan. namun yang paling saya sayangkan adalah masyarakat yang inevitably judgmental ini kok terlanjur memiliki asosiasi negatif tanpa mau merunut logika terlebih dahulu.

teman saya berkerudung, ia anak baik-baik, datang dan besar dari keluarga baik-baik, berkuliah dengan baik dan aktif dalam keorganisasian bahkan sudah magang sana-sini. ia tidak lepas-lepas kerudung dan dia tetap berpakaian sopan bahkan sholat lima waktu. ia perempuan. dan ia merokok. saya berusaha membuatnya mengurangi bahkan berhenti suatu hari (dalam 2 jam ia bisa habis 7 batang bayangkan, itupun karena teman lelaki saya ikut mengambil stok dalam kardusnya), tapi saya tidak beranggapan buruk pada personalnya. ia adalah pribadi yang sama selain ia sudah gak sehat. titik. derajatnya sama, justru saya sempat kagum akan kemerdekaannya dari pengaruh konstruksi sosial. ia buruk secara riwayat kesehatan, sudah pasti. tapi rokok tidak terasosiasi dengan kepribadiannya. ia mengonsumsi rokok, ia goblok karena itu tidak sehat. sudah, sampai di situ.

saya pribadi bukan perokok, sempat tertarik karena makin kesini saya makin terlepas dari doktrin asosiasi negatif dan justru melihat bahwa rokok bukan untuk dipermasalahkan. saya melihat kakak kakak yang smart dan profesional dengan rokok di antara jari tengah dan telunjuknya. tidak ada asosiasi apa-apa. mereka bukan keren karena smart tapi merokok. mereka bukan keren karena berani merokok. mereka keren karena bisa membuat saya menghilangkan asosiasi apapun yang ditimbulkan rokok pada adjektiva lain yang melekat pada diri seseorang. mereka merdeka. meskipun kesehatannya terjajah. paru-parunya tidak sehat. sudah. seperti minuman kardus yang dikonsumsi, mereka hanya mengonsumsi rokok. tidak ada asosiasi normatif dalam benak saya. tapi kembali lagi, saya cuman sempat tertarik, bukan pengen. maka saya tidak mengonsumsinya. semalam saya mencoba menghabiskan sebatang, dan saya tidak menemukan kenikmatan, maka saya memutuskan untuk tidak mengonsumsi karena tidak ingin.

tentang minum beer. beer berbeda dengan liquor ya, meski sama-sama alkohol. minum 2 botol beer saja masih akan sangat sober. mungkin saya cuman jadi tambah gendut. tapi tidak mabuk (meski itu tergantung kekuatan orang-orang). saya bukan minum buat mabuk-mabukan. buat apa. tapi menurut saya, beer itu bukan 'minum' karena ibarat minuman beer hanyalah es teh yang rasanya seperti jus tape nenek saya. nanti saya malah ditertawakan yang level minumannya jago.

dari stroy yang bikin heboh semalam, bagi yang penasaran, saya minum 2 botol beer ringan dan saya sober hingga pulang. saya justru berani minum juga karena kami bertiga sudah menjadi teman baik dan kami sama-sama anak baik-baik yang mengerti apa yang kami lakukan. toh kami sudah cukup usia, dan puput sangat penasaran dengan rasanya. bagi yang mungkin berpikir saya yang memengaruhi puput atau menularkan hal buruk, itu saya sudah menolak ajakan puput. lagian saya mau diet untuk kondangan teman minggu ini (hahaha). tapi ya sudah. kami tidak 'minum-minum' atau 'mabuk-mabukan'. kami hanya bercerita sambil memesan minuman. kebetulan minumannya sedikit mengandung alkohol, 3-5%. nenek saya aja minum. om om saya juga minum beer saat kami merayakan pergantian tahun. tidak mabuk. bukan liquor. yang penting tahu batas. saya juga sudah bilang ibu saya, dan beliau bilang beer nggak apa asal jangan mabuk. mama saya tahu saya ngerti batas. sayang asosiasi negatif terlanjur mengakar.

saya sempat menulis story pagi ini untuk menanggapi banyaknya respon yang saya terima, meski saya hapus:

i was sober last nite, i drive
we are good friends since hi school
we are good people, we know what we did
i didnt smoke still, tried but fail
and i start a healthy diet this morning.
life is good y'all, i'm 21, chill.
(when u grow up in certain environment)
(mom said it was ok to drink if i cud stay sober) (granny said the same, she drinks beer, not a drinker tho)

just because somebody drinks doesn't mean s/he's a bad person.
just because a girl smoke cigarette doesn't mean she's bad person.

and it's beers. i doubt we can call it 'drink'
it won't crack u unless u want to.

and, yea, even if s/he is a bad person and drunk doesn't mean they are worse than you.
who are you to give score on people's level? like, really, derajat orang? derajat apa? dewata kah kita?


BUT I DONT PERSUADE OR ENTICE OR INVITE U TO TRY IT. dont confuse between perspectives and doctrines.

ps. bonus. saya bukan tipe orang yang datang ke klab malam karena tidak terlalu suka keramaian meski saya bisa menikmatinya 'secara sosial'. socially drink, socially dance. karena lagi-lagi saya datang dari lingkungan sosial yang sangat normatif. tapi saya tumbuh dan besar dengan sangat liberal. hanya saya ngga pernah mabuk dan sangat mengerti batas. beberapa kali saya berkesempatan untuk melihat orang mabuk oleh red wine, dalam situasi yang aman. saya pernah melihat orang menangis sambil minum vodka. dan jujur, membahas sobriety atas nama beer sebenarnya sedikit membuat gemas.

Monday

tersesat.

tersesat memang diakibatkan karena salah mengambil jalan. tapi kemudian kita punya pilihan dalam mengambil sikap saat tersesat. tersesat itu bisa melemahkan, atau justru konstruktif.

katanya, peta kehidupan itu sudah ada yang menggariskan ya. tapi ternyata si pencipta memutuskan bahwa kita boleh menjalani hidup yang seru. tidak tertebak, dan membuat berdebar-debar. mungkin agar tidak spoiler. mungkin agar tetap semangat karena yang bersambung-bersambung biasanya membuat gemas; gemas ingin tahu kelanjutannya, atau gemas ingin berakhir saja. makanya ada tokoh seperti hannah di serial populer tiga belas alasan mengapa.

si pencipta (saya nda mau menyinggung yang percaya kita ini ada karena proses semesta yang sedemikian rupa lho, tapi saya pribadi memang percaya adanya Sang Pencipta, yang maha yoi dan maha artsi) rupanya memberikan kita sebuah otonomi, untuk menafsirkan dan memilih jalan yang kita ambil pada peta kehidupan kita.

saya sih banyak revisi ya. mungkin karena saya orangnya sok ide dan suka trial-and-error gitu. jangan ditiru. nanti labil dan njelimet. tapi serunya bisa punya koleksi 'luka-luka sandung' yang berbeda di titik-titik berbeda dari area-area yang berbeda dalam peta hidup saya.

mungkin yang mengikuti kendablekan saya di blog ini, atau kenal saya pribadi dan cukup dekat untuk bisa sedikit mendengarkan curhatan saya yang banyak.. bisa dirunut bagaimana seringnya saya begitu senang, kemudian begitu sedih, kadang terlalu skeptis, dan seringkali mengeluh. bertanya tapi tidak menemukan jawaban. kemudian menyalahkan keadaan. kemudian membela diri. kemudian mencari retorika yang menyokong pembelaan diri tadi. kadang dengan pongah, kadang alpa dan lupa diri. kadang satir. kadang romantis.

ya, itulah bagaimana gaya saya memanfaatkan otonomi yang selama 21 tahun ini disematkan pada saya. bukan gaya nungging atau gaya katak ya. banyak revisi. muter-muter. nyasar. kadang stuck di satu tempat--karena mager, atau karena lelah berjalan dan takut kembali tidak menemukan jalan yang benar. kadang malah ternyata menemukan jalan pintas yang ajaib.

dulu, saya kira konsep nyasar atau tersesat itu adalah di saat kita mengambil jalan yang salah. tapi njuk saya sadar, bukan, bukan gitu. tersesat memang diakibatkan karena salah mengambil jalan. tapi kemudian kita punya pilihan dalam mengambil sikap saat tersesat. bisa ling lung, bisa sigap, bisa takut, bisa gemas, bisa marah, bisa senang, bisa kerasan, karena baru sadar kalau bukan salah jalan, tapi salah menentukan tujuan. tersesat itu bisa melemahkan, atau justru konstruktif.

atau jangan-jangan, tersesat adalah kesempatan bagi kamu untuk beristirahat dan berpikir jernih. jangan-jangan dengan tersesat kamu diberi kesempatan untuk merunut ulang jalan yang kamu ambil, bahkan tujuan yang kamu cari. mungkin tersesat adalah cara bagi kamu untuk memiliki lebih dari satu pintu yang 'benar'. mungkin tersesat adalah cara si penggaris peta memberi kamu ruang untuk kembali bertanya pada diri kamu sendiri, dan melihat kemantapan kamu.

kalau saya sih, sebenarnya cuma bingung mau cari basa-basi apa untuk memulai gulungan entri yang sepertinya akan mengular setelah hampir separo tahun memutuskan mengurangi menulis reflektif dan lebih menyibukkan diri 'berpartisipasi', bahkan berhenti (dan jadi mikir dua kali untuk) menulis caption yang kata orang-orang dulu, kayak nulis cerpen.

'pipod i le gawe caption ko sepur'
'mesti cerpen to caption e'
'lak dowo mengko hahaha'

dulu.

celetukan yang pada suatu masa sangat awam saya dengar di sekitar. (kalo sekarang celetukannya karena spam instastory ya haha). dan waktu itu saya jadi.. hmm apa iya ya, saya seharusnya tidak seperti itu. jadi merasa berlebihan, romantisasi, kadang dramatis dan sentimental. rasanya belum dewasa dan jadi cheesy, tidak chill. (sama seperti sekarang, saya jadi suka risih sendiri kalau lihat garis putus-putus insta story saya melebihi lima linier. njuk biasanya saya hapusi haha maaf milenial.)

padahal enggak. ternyata enggak. menulis caption panjang itu gak papa. menulis reflektif itu boleh. menulislah dengan bebas, lepaskan semuanya. ternyata saya cuman kemakan omongan orang. tersesat yang dekonstruktif. selama bukan hal yang membuat polusi, kita boleh kok, jadi diri kita sendiri. asalkan bisa memfilter. toh banyak opsi yang bisa mereka lakukan juga. misalnya kalau saya terlalu spam insta story, ada pilihan untuk mute story profil saya. atau kalau blog dengan tidak mengunjungi blog saya. dan alhamdulilah ada read more jika caption melebihi 3 baris.

masalah tersesat karena omongan, salah satu dampaknya ya begini, tulisan saya tidak semengalir dulu, kalau dulu rasanya kayak jari saya punya otak sendiri karena setelah selesai nulis dan membaca ulang saya suka bingung apakah saya menulis ini.

tapi saya punya misi baru. saya mau mengurangi instastory. jadi, silakan bertandang kemari kalau kangen saya. hahaha. saya cuma bercanda. bukan jablay.

kerasan

lalu kalau kerasan, bagaimana? gimana kita tahu apakah yang kita kerasani itu sudah tepat atau belum?

saya masih ingat jelas bagaimana pertengahan tahun 2014 hingga tengah tahun 2016 menjadi tahun slump bagi saya. saya menjadi pribadi yang satir, terhadap lingkungan saya, terhadap diri saya sendiri, pada keadaan dan yang paling saya dukani, major studi saya.

saya ngerasa salah jalan. tersesat. jengkel karena sulit keluar. jengkel karena rutenya harus muter jauh untuk kembali pada tujuan yang benar. dalam paradoks realita saya, nyatanya belajar akuntansi adalah jalan yang benar dan berprofesi senada adalah tujuan utama. sebenarnya saya hanya merasa terjebak. saya capek tapi banyak ngeluh. banyak retorika kebanyakan satir.

namun sungguh bagaimana caranya kita bisa tahu apakah yang sedang kita perjuangkan (dan gagal mulu) itu memang harus diperjuangkan atau harus ditinggal karena mungkin, bukan jodohnya?

kalau toh kita memang legowo karena yang kita paksakan memang bukan jodoh, bagaimana cara kita tahu bahwa apa yang kita tinggal sebenarnya sudah sedikit lagi?

bagaimana cara kita tahu, apa yang kita perjuangkan itu pantas kita perjuangkan, atau sebenarnya kita hanya memaksakan dan buang waktu?

saya juga nggak tahu.

kita hidup itu gambling guys. biar seru juga. sayangnya, kita terlalu sering bermain ekspektasi. berharap berlebihan lalu kecewa. meremehkan lalu kuwalat. menungso rek. nduwe akal sonu mbulet dewe.

tapi judi tanpa pertaruhan ga afdol. meski salah. judi itu salah guys jangan judi ya. ini cuma analogi. oke, saya akan mengucapkan hal klise yang sebelum ini lebih banyak saya mentahkan, saya bantah karena terdengar naif. tapi kini saya akan memberi testimoni, bukan teori. jadi, mari berjuang sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya. jalan terus aja. jalan aja. percaya aja. percaya aja, jangan takut. selama kita ga sabotase jalan dan peta orang, keajaiban itu ga cuman ada di filmnya tim burton. mungkin ini klise, tapi peta kehidupan memang sudah digariskan dan Pencipta nya maha yoi.

suatu saat ketika kamu merasa tersesat, tetaplah percaya diri, pada lumut dan arah matahari, lalu berjalanlah terus. jika merasa kembali dan hanya berputar-putar, jangan takut dan berjalan terus saja. tidak semua hal yang terjadi pada kamu ada dalam kendalimu. ada kekuatan di luar sana yang mengawasi kita dari jauh, dan pada suatu waktu rimba akan terbuka. tetaplah berjalan. jika kamu berjuang dan gagal, mungkin saja kamu kurang berjuang, atau mungkin itu bukan waktumu. jalanmu sedang disiapkan. bersabarlah. tapi tetaplah berjalan.

lalu bagaimana jika kerasan?

ada sedikit gagasan lucu dalam benak saya beberapa waktu yang lalu. saya pikir, saya tersesat. saya pikir saya salah jalan. saya pikir saya terjebak. kemudian setelah beberapa waktu (yang tidak sebentar) saya jadi dark, emo, protes sana-sini seperti masih bisa dilihat berceceran di blog ini 2 tahun terakhir... tiba-tiba, menjelang akhir tahun lalu, jalan mulai terbuka dan sepertinya ternyata saya nggak tersesat. saya mengintip jalan alternatif yang terbuka, dan jebul saya kerasan. lucunya, saya jadi ngerasa beruntung malah diberi kesempatan untuk mengintip, bukan menjalani jalan itu.

saya rasa, saya nggak akan sanggup. saya rasa, saya harusnya tahu diri. talenta saya ndak nutupi, gabakal bisa mengkover apa yang akan saya hadapi. jalan saya sebenarnya sudah benar. saya aja yang selama ini merengek karena belum dibelikan permen yang saya mau. setelah itu saya toh marem. seperti sekarang.

saya masih belum tahu apakah saya akan meneruskan menapaki jalan alternatif itu, ataukah saya akan kembali ke titik dimana saya tersesat dan kembali menempuh jalan utama. tapi saya lega.

saya lega karena bisa membedakan apa itu kerasan dan penasaran.

Sunday

sebelum turut mengambil bagian.

[last lines]

Charlie: [voice-over] I don't know if I will have the time to write any more letters because I might be too busy trying to participate.


saya memang penyendiri. saya sebenarnya orangnya berisik, tapi beranjak remaja saya menemukan kenyamanan dalam menjadi penyendiri jika waktunya memungkinkan. untuk membaca buku, mengamati sekitar, bising akan suara di tengah pesta, silau akan lampu sorot, kadang insecure, kadang malu, kadang enggan, dan kadang lelah.

saya suka duduk sendirian di balkon kamar asrama saya dulu, di atas bukit di lantai tiga. memandangi langit, melihat dunia basah saat hujan, memandangi mercusuar, ladang tebu dari ketinggian. melihat gunung dari kejauhan. saya suka duduk di samping jendela di bus, sambil mendengarkan lagu. saya suka ke perpustakaan, membaca buku (selain karena ruangannya enak, mungkin saya memang anti sosial). saya suka diam dan mengamati. bukan karena saya pendiam, tapi saya memang menikmati saat menjadi penyendiri. bukan karena saya individualis, tapi saya merasakan kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan jika saya sedang sendirian.

setiap hari minggu pagi, saya akan diantar ke gereja oleh angkot sewaan sekolah ke daerah sarinah (malang) bersama teman-teman yang akan misa dan kebaktian. biasanya di dalam angkot, karena masih pagi, kebetulan kami lebih sering tenggelam dalam headset masing-masing. sambil melihat ke luar jendela, menyusuri jalanan tlogowaru hingga alun-alun di tengah kota. suasananya sangat menyenangkan. melewati ladang-ladang tebu di pagi hari, sinar-sinar matahari yang masih teduh dari balik pepohonan jalan, aktivitas pagi di beberapa pasar yang dilalui, jalan raya sepi karena biasanya hari minggu adalah saat bagi semua orang untuk bangun lebih siang.

karena biasanya misa dimulai satu jam kemudian, kami akan duduk-duduk di mcd yang terletak tepat di samping gereja. kami memang memiliki privilege kecil: kami boleh mengenakan baju bebas, yang sedikit menguntungkan memang hehehe. biasanya setiap siswa asrama atau anak dorm (karena ada siswa non-asrama atau siswa day) harus mengenakan seragam jika keluar asrama. kewajiban itu mutlak dan berlaku dalam hal apapun, termasuk parent visit dan kegiatan lainnya. maka kemudian, hak istimewa kecil itu sering kami salahgunakan untuk jalan-jalan.

salah satu hal yang selalu membekas dalam ingatan saya adalah saat saya jalan menyusuri pertokoan kayutangan dari sarinah ke bca pusat di jalan kahuripan. sendirian. waktu itu hari masih pagi sekali, hanya segelintir kendaraan yang berlalu lalang, dan udara membuat malang rasa eropa. sendirian, mengenakan baju bebas, menikmati udara pagi kota malang di jalan dengan pertokoan gaya lama, diiringi lagu-lagu. rasanya indah sekali. saat-saat itu jiwa solitary saya sedang mestakung-mestakungnya.

waktu itu iphone masih menginjak seri ke 4. hape saya masih samsung. saya masih bermain kamera besar, tapi entah kenapa karena instagram belum sepenting sekarang dan saya ga mainan fesbuk, saya lebih banyak melakukan segalanya dengan jenuin. saya lebih menghargai penglihatan dan memori saya. meski sekarang toh saya menyesal, andaikan saya sudah membawa kamera analog kemana-mana hari-hari itu.

di rumah, saya merupakan anak tunggal dan ibu saya bekerja, jadi saya punya lebih banyak privilege untuk menjalani kesukaan saya. menyendiri. oleh karena itu mungkin saya sangat suka dengan buku, film, lagu, mengamati dan kegiatan yang berhubungan dengan kesendirian. atau jangan-jangan, iya ya, karena itulah mungkin saya jadi suka menyendiri.

saya suka menyendiri, tapi saya tidak kesepian.

blog adalah sarana saya menyalurkan waktu-waktu menyendiri saya. saya menulis, saya berbagi gagasan, saya mengobrol dengan diri saya sendiri. lama kelamaan, karena semakin lama saya makin harus berinteraksi, blog menjadi sara saya dalam menyaur utang saya saat saya tidak sempat menyendiri. saya menceritakan peristiwa-peristiwa, kejadian, dan pengamatan yang tertunda. menulis menjadi hal yang reflektif bagi saya.

entah bagaimana, kemudian menulis reflektif menjadi sangat adiktif. saya jadi menyisihkan waktu tersendiri untuk melakukannya. hingga, saat saya benar-benar tidak sempat melakukannya, saya jadi menunda-nunda hingga tidak melakukannya sama sekali seperti yang terjadi di tahun 2015. bertepatan dengan transisi keseharian saya menjadi sorang mahasiswa yang sibuk dan kala itu ngambis, menulis menjadi sedikit membebani. ditambah lagi saya lebih sering berbagi melalui instagram yang menjelma microblog, dimana caption panjang saya sedikit banyak sudah bisa merangkum peristiwa. saat mencoba kembali menulis, ternyata yang keluar malah rasa-rasa yang negatif: sedih, marah, galau, kesepian, satir, curhatan. blog saya jadi dark dan emo. menulis reflektif justru membuat saya tenggelam dalam kesenduan. menyendiri membuat saya jadi kesepian. hingga tahun 2016 datang. tahun itu, banyak hal dalam hidup saya yang mengalami perubahan. kemudian saya memutuskan untuk mengurangi membuat caption panjang dan overexposing di instagram, bahkan berhenti bermain media sosial lainnya seperti path, snapchat, askfm. toh ada instastories yang bisa merangkum semuanya. instastory yang simple, sambil lalu, hilang dalam 24 jam, memungkinkan orang untuk melewatinya atau memutenya, dan memungkinkan interaksi secara langsung melalui dm. lalu dengan adanya insta story itu ternyata saya jadi labil lagi. saya overexpose melalui story (which is saya ga ngerasa karena semuanya hanya jepretan sambil lalu) dan jadi merasa untuk tidak perlu menulis reflektif atau bercerita melalui tulisan.

awal tahun 2017 saya memutuskan untuk mengurangi bahkan berhenti menulis di blog ini. blog ini saya deactivate. saya hanya menulis review film suka-suka saya dan draft buku yang memang harus saya selesaikan. saya membuat portal baru yang saya anonimkan, namun isinya bukanlah tulisan reflektif. saya, seperti Charlie di akhir cerita, memutuskan untuk lebih menyibukkan diri ambil bagian.

saya menjalani saja hari-hari saya. saya datangi apa yang saya ingin datangi. saya lakukan apa yang saya ingin lakukan. saya tinggalkan apa yang tidak saya inginkan. saya berusaha hidup tanpa beban. hidup bebas, dan mencintai diri saya sendiri. menjadi diri saya sendiri.

kemudian saya ingat lanjutannya.

And there are people who forget what it's like to be 16 when they turn 17. I know these will all be stories someday. And our pictures will become old photographs. We'll all become somebody's mom or dad. But right now these moments are not stories. This is happening. This one moment when you know you're not a sad story. You are alive, and you stand up and see the lights on the buildings and everything that makes you wonder. And you're listening to that song and that drive with the people you love most in this world. And in this moment I swear, we are infinite.


_______________________________________
*sekarang sekolah saya beralih kepengurusan berada di bawah naungan pemprov jatim--sebelumnya pemkot malang--dan berubah menjadi SMA Taruna Nala Jawa Timur, baru saja diresmikan awal juni lalu oleh bapak Jokowi.

hari-hari dimana saya memutuskan lebih sibuk ikut ambil bagian.

saya udah hampir lupa gimana gampangnya nulis caption panjang.
saya udah nyaris lupa gimana nulis yang enak dibaca, yang ngalir.
saya hampir lupa gimana caranya harus bercerita. saya bahkan bingung mau pake saya dan nulis indah, mau pake aku dan nulis kasual, atau pake gue dan nulis rese. akhirnya saya gabungin aja ketiganya.

suatu hari yang saya lupa kapan, saya sangat sedih. kemudian saya tidur dan medapat mimpi buruk. lalu saya terbangun dan memutuskan untuk.. ikut ambil bagian. seperti kata charlie. meninggalkan apa yang menjadi beban. menjemput apa yang diinginkan. terserah kata orang. gapapa meski sendirian tanpa teman. saya mendeaktivasi blog. saya melupakan seluruh obilgasi saya pada diri sendiri dan pada pembaca blog saya bahwa saya akan menulis dengan rajin karena saya ga akan sempat main kemana-mana semester enam. dan saya meninggalkan portal refleksi saya.

waktu itu, teman-teman makan siang dengan saya sepertinya sedang sibuk kuliah dan bekerja. levy puput dan nando sepertinya terasa begitu jauh di jakal. ones sibuk kerja sambilan di lokal. mega sedang magang di jakarta membuat film bersama upi. lalu saya sekelas dengan windy dan kos kami dekat. saya sudah kenal dengan windy sejak semester pertama, tapi kami jarang sekelas dan sebelumnya saya kebanyakan pacaran kalau sedang tidak kuliah dan ngevent ini itu. hari-hari itu, bahkan teman-teman yang sudah lama kenal saja banyak yang enggan mengontak karena saya terlihat sangat sibuk, atau karena ternyata pesannya tidak saya balas (yang baru saya sadari setelah selow saat menghapusi history chats). atau setidaknya begitulah jawaban mereka saat saya marah-marah kalau ketemu, marah kok saya jarang dikabarin lagi, diajak main lagi. lalu saya jadi sering mengajak wincung makan. lalu kami sering menonton serial drama amerika bersama. basically we shared many things in common so yea we could have topics to talk and things to do bersama-sama. (cung, gak sah ge-er koe). lalu kami iseng melakukan kesukaan terpendam kami, seni. kesukaan, bukan kemampuan. kami tiba-tiba iseng main ke acara seni. kami membelah jogja di hari selasa saat selang sesi kuliah. kadang hujan-hujan dan sepatu kami jadi basah. haha geblek.

begitulah. setelah saya memutuskan melepaskan banyak hal dan menjalani keseharian baru, saya akhirnya punya waktu--yang trenyata berlebih--untuk melakukan segala hal yang dulu saya lewatkan. misalnya berteman, menghabiskan waktu bersama keluarga, membaca buku, ke perpustakaan, ke gig musik, tidur nyenyak, nonton film dan akhirnya, kuliah sepenuhnya. saya jadi lebih banyak ikut berpartisipasi, mengambil bagian. sayang saya jadi jarang nulis dan menjurnal. karena takut jadi sedih dan overthinking yang berlebihan.

setahun terakhir ini, ya tepat setahun ternyata, saya akhirnya jadi diri sendiri. di tahun 2017, setelah tidak membuat resolusi, akhirnya proses ambil bagian saya membuahkan hasil,. tahun ini, saya akhirnya menemukan tombol on yang sempat ketelisut. semua itu ternyata berkat saya menyibukkan diri berpartisipasi.

tapi sayangnya, semuanya jarang ada yang ter-refleksi. semuanya terjadi begitu saja. awalnya karena sengaja berhenti, lama kelamaan jadi terbiasa. mungkin itu yang dikatakan teori bahwa kita sedang bahagia. kita terlalu sibuk ambil bagian hingga tidak sempat mengabadikan.

maka kini, biarkan saya bercerita. meski tulisannya kaku dan wagu karena sudah lama tidak dideraskan.

jadi, saya habis putus. saya agak geli nulisnya karena bagi saya saya sudah terlalu berumur untuk membicarakan soal status, putus, balikan, dsb. sudah bukan waktunya.

saya... saya rasa saya akan bikin satu entry sendiri untuk cerita soal yang itu.