Monday

A Journal of Merb.

last week i said i would blog about merbabu by thursday.

i didnt. but i will begin to type the entire journal right now.

Wednesday

sobriety & perspectives upon girls who smoke cigarettes.

(it's a casual writing, not a research.)

it's interesting to finally tempt, tease society with some event thrills, see their responses--the way they see things and reflect their thought about it. i actually didnt try to deliberately show them. i always used to filter which things society can accept and which things they cannot when i wanted to share something, but last nite i tried to play loose. it was not that i show them, but i choose not to hide it. and it's interesting then, to see the waves.

i come from the middle social class with a very strong cultural internalization, the people who stick to the norms. so yea predictably, most of them shocked and frowned. some of them are moderate enough to know that it is actually a choice and it doesnt define somebody's basic attitude. some of them kept silent but i know they're watching because the viewers raised a lot. puput and ipang said people started to stalk them---hehe see.

interesting.

seeing how people reacting is more intriguing than thinking about our public images itself.

i grow up in this cultured environment whose people tend to be judgmental. basically the way they keep the norms is as strong as the way they talk about whoever breaks it. it's funny how society constructed. i myself stick to the norms, i have strong moral values i have no doubt about it. i know what is wrong and what is right, morally.

but not all the things that seem normative are relevant to be called as norms.

over the last one year i happened to casually observe about so many backgrounds and personalities. i know so many people with great normative attitudes, i grew up with them in school. back in junior high, i hate my friends who smoke cigarettes. mereka itu nakal. kurang perhatian. dan lain lain dan lain lain yang diajarkan seminar-semianar dan textbook pada kami semua, tentang kenakalan remaja. until now, i know that drinking liquor is bad. i know that alcohol, drugs, even cigarettes are bad, and it cost us negatively. but it doesnt make the people who drink and smoke a bad person.

ada yang namanya batas. ada yang namanya kontrol. ada yang namanya tujuan dan konteks.

langsung aku substitusi sama apa yang kami lakukan semalam. bagi yang tidak tahu (atau tidak sadar), @ozbezarious adalah puput dan @enakantidur adalah ipang. keduanya teman saya sejak sekolah menengah atas. kami bertiga bahkan satu kelas di kelas 10. kami berasal dari keluarga baik-baik, kami memiliki hidup akademik dan lingkungan yang sehat dan sama-sama pernah tinggal di asrama.

tentu saja, segala hal yang diajarkan dalam seminar-seminar kenakalan remaja itu bertujuan baik. saya setuju bahwa hal-hal itu buruk, dan sebaiknya jangan dilakukan karena cenderung merugikan, terutama bagi kesehatan. yang saya sayangkan kemudian sembari saya mulai beranjak dewasa dan mengenal banyak orang, saya baru sadar, hampir semua ajaran itu cenderung membuat kita berpikir bahwa hal-hal itu buruk secara normatif. padahal norma itu sudah mengakar kuat pada masyarakat sebagai suatu standar yang diyakini, meski norma ada pada hakikatnya untuk mengatur perilaku pada situasi tertentu, bukan secara mutlak memutuskan salah benar (kecuali hukum dan agama). jadi kebanyakan pelajar yang menerima materi cenderung berpikir bahwa itu buruk -- semua orang bilang begitu (secara norma) -- jangan dilakukan. kita tidak di-triger untuk berpikir logis bahwa 'itu buruk, sebaiknya jangan dilakukan' tapi lebih didoktrin bahwa 'itu buruk, jangan sampai dilakukan.' dengan adanya pemahaman yang general (pukul rata, mungkin dengan tujuan mengantisipasi kemungkinan terburuk), akhirnya kita cenderung memiliki asosiasi negatif dengan segala hal yang berkaitan dengan misalnya minum, atau merokok, tanpa berpikir logis terlebih dahulu.

bagi saya, merokok dan minum sampai mabuk itu buruk. bagi beberapa norma agama, minuman yang memabukkan itu haram. narkoba sudah tentu berbahaya.

tapi merokok dan minum tidak lantas membuat seseorang buruk secara sosial. melakukan hal itu tidak lantas membuat kita mengasosiasikan seseorang pada stereotype yang pukul rata. derajat seseorang tidak ada hubungannya dengan rokok atau kegiatan yang ia lakukan. ada konteks, ada batas dan ada yang namanya kontrol, selain itu merupakan pilihan pribadi orang tersebut.

merokok buruk bagi kesehatan. bagi orang lain yang menghirup asap rokok. merokok di kantin kampus yang sesak misalnya, tentu itu baiknya dihindarkan meski katanya merokok sehabis makan itu luar biasa nikmat. tapi itu bukan warung umum dan kampus merupakan institusi pendidikan dimana kegiatan utama mereka yang berada di dalamnya ialah edukasi formal. merokok buruk bagi kesehatan seseorang, ada baiknya kita mengingatkan orang atau mencegah orang tersebut atas nama kesehatannya, bukan secara sosial (bahkan atas nama derajat) menganggapnya buruk. saat masih di sekolah berseragam, kita memang masih di bawah umur sehingga ada baiknya mendapat pelajaran tentang perilaku yang benar atau sebaiknya dilakukan. sayangnya dengan kecenderungan asosiasi yang terlanjur terpatri, setiap ada teman sekolah yang kemudian merokok setelah lulus, terlihatnya buruk. derajatnya turun. lagi-lagi mungkin karena asosiasi normatif.

ngomong-ngomong, mungkin kalau cowok memang lebih bisa diterima ya. tapi yang malah bikin pertanyaan, kenapa sih kalau cewek yang ngerokok daat tanggapan yang agak berbeda?

memang rokok itu masalah gender ya? karena toh saya jarang sekali menemui orang yang memicingkan mata melihat teman perempuan merokok langsung menjurus tentang rahim dan janin mereka. nyaris semuanya soal bahwa ia itu perempuan. seharusnya tidak merokok. lagi-lagi perkara kacamata sosial. asosiasi normatif.

oke, kalau protes ia merokok karena kesehatannya, itu memang rasa peduli. logis sekali. toh kembali lagi itu pilihan yang tak bisa dipaksakan. tapi kalau sampai bilang perempuan tidak boleh merokok. itu.... aneh sekali.

saya pernah ada di masa ketika melihat teman merokok, entah lelaki atau perempuan, saya jadi risih. kemudian saya masuk kuliah dan saya mulai menjadi terbuka. kemudian teman-teman perempuan saya merokok, awalnya saya tidak biasa, kemudian saya tahu. saya termakan asosiasi normatif yang terlanjur negatif yang saya telan mentah-mentah ketika masih berseragam.

teman-teman perempuan saya yang merokok semuanya anak baik-baik. ipk mereka nyaris sempurna. mereka sehat dan ginuk-ginuk. merokok tidak ada hubungannya dengan perilaku sosial mereka.

jika moral dibentuk oleh budaya setempat, maka moral dihasilkan secara kolektif oleh suatu kumpulan manusia, yang sebenarnya juga punya logika untuk berpikir bukan? bisa sedikit memberi jeda untuk melihat konteks, iya kan?

saya tidak menyoal maupun menyalahkan orang yang menganggap apa yang kami lakukan salah. saya hanya menyayangkan. pun saya gak menyalahkan teman-teman saya yang minum atau merokok, saya hanya bisa mencegah, dan jika itu pilihan mereka, saya hanya bisa menyayangkan. namun yang paling saya sayangkan adalah masyarakat yang inevitably judgmental ini kok terlanjur memiliki asosiasi negatif tanpa mau merunut logika terlebih dahulu.

teman saya berkerudung, ia anak baik-baik, datang dan besar dari keluarga baik-baik, berkuliah dengan baik dan aktif dalam keorganisasian bahkan sudah magang sana-sini. ia tidak lepas-lepas kerudung dan dia tetap berpakaian sopan bahkan sholat lima waktu. ia perempuan. dan ia merokok. saya berusaha membuatnya mengurangi bahkan berhenti suatu hari (dalam 2 jam ia bisa habis 7 batang bayangkan, itupun karena teman lelaki saya ikut mengambil stok dalam kardusnya), tapi saya tidak beranggapan buruk pada personalnya. ia adalah pribadi yang sama selain ia sudah gak sehat. titik. derajatnya sama, justru saya sempat kagum akan kemerdekaannya dari pengaruh konstruksi sosial. ia buruk secara riwayat kesehatan, sudah pasti. tapi rokok tidak terasosiasi dengan kepribadiannya. ia mengonsumsi rokok, ia goblok karena itu tidak sehat. sudah, sampai di situ.

saya pribadi bukan perokok, sempat tertarik karena makin kesini saya makin terlepas dari doktrin asosiasi negatif dan justru melihat bahwa rokok bukan untuk dipermasalahkan. saya melihat kakak kakak yang smart dan profesional dengan rokok di antara jari tengah dan telunjuknya. tidak ada asosiasi apa-apa. mereka bukan keren karena smart tapi merokok. mereka bukan keren karena berani merokok. mereka keren karena bisa membuat saya menghilangkan asosiasi apapun yang ditimbulkan rokok pada adjektiva lain yang melekat pada diri seseorang. mereka merdeka. meskipun kesehatannya terjajah. paru-parunya tidak sehat. sudah. seperti minuman kardus yang dikonsumsi, mereka hanya mengonsumsi rokok. tidak ada asosiasi normatif dalam benak saya. tapi kembali lagi, saya cuman sempat tertarik, bukan pengen. maka saya tidak mengonsumsinya. semalam saya mencoba menghabiskan sebatang, dan saya tidak menemukan kenikmatan, maka saya memutuskan untuk tidak mengonsumsi karena tidak ingin.

tentang minum beer. beer berbeda dengan liquor ya, meski sama-sama alkohol. minum 2 botol beer saja masih akan sangat sober. mungkin saya cuman jadi tambah gendut. tapi tidak mabuk (meski itu tergantung kekuatan orang-orang). saya bukan minum buat mabuk-mabukan. buat apa. tapi menurut saya, beer itu bukan 'minum' karena ibarat minuman beer hanyalah es teh yang rasanya seperti jus tape nenek saya. nanti saya malah ditertawakan yang level minumannya jago.

dari stroy yang bikin heboh semalam, bagi yang penasaran, saya minum 2 botol beer ringan dan saya sober hingga pulang. saya justru berani minum juga karena kami bertiga sudah menjadi teman baik dan kami sama-sama anak baik-baik yang mengerti apa yang kami lakukan. toh kami sudah cukup usia, dan puput sangat penasaran dengan rasanya. bagi yang mungkin berpikir saya yang memengaruhi puput atau menularkan hal buruk, itu saya sudah menolak ajakan puput. lagian saya mau diet untuk kondangan teman minggu ini (hahaha). tapi ya sudah. kami tidak 'minum-minum' atau 'mabuk-mabukan'. kami hanya bercerita sambil memesan minuman. kebetulan minumannya sedikit mengandung alkohol, 3-5%. nenek saya aja minum. om om saya juga minum beer saat kami merayakan pergantian tahun. tidak mabuk. bukan liquor. yang penting tahu batas. saya juga sudah bilang ibu saya, dan beliau bilang beer nggak apa asal jangan mabuk. mama saya tahu saya ngerti batas. sayang asosiasi negatif terlanjur mengakar.

saya sempat menulis story pagi ini untuk menanggapi banyaknya respon yang saya terima, meski saya hapus:

i was sober last nite, i drive
we are good friends since hi school
we are good people, we know what we did
i didnt smoke still, tried but fail
and i start a healthy diet this morning.
life is good y'all, i'm 21, chill.
(when u grow up in certain environment)
(mom said it was ok to drink if i cud stay sober) (granny said the same, she drinks beer, not a drinker tho)

just because somebody drinks doesn't mean s/he's a bad person.
just because a girl smoke cigarette doesn't mean she's bad person.

and it's beers. i doubt we can call it 'drink'
it won't crack u unless u want to.

and, yea, even if s/he is a bad person and drunk doesn't mean they are worse than you.
who are you to give score on people's level? like, really, derajat orang? derajat apa? dewata kah kita?


BUT I DONT PERSUADE OR ENTICE OR INVITE U TO TRY IT. dont confuse between perspectives and doctrines.

ps. bonus. saya bukan tipe orang yang datang ke klab malam karena tidak terlalu suka keramaian meski saya bisa menikmatinya 'secara sosial'. socially drink, socially dance. karena lagi-lagi saya datang dari lingkungan sosial yang sangat normatif. tapi saya tumbuh dan besar dengan sangat liberal. hanya saya ngga pernah mabuk dan sangat mengerti batas. beberapa kali saya berkesempatan untuk melihat orang mabuk oleh red wine, dalam situasi yang aman. saya pernah melihat orang menangis sambil minum vodka. dan jujur, membahas sobriety atas nama beer sebenarnya sedikit membuat gemas.

Monday

tersesat.

tersesat memang diakibatkan karena salah mengambil jalan. tapi kemudian kita punya pilihan dalam mengambil sikap saat tersesat. tersesat itu bisa melemahkan, atau justru konstruktif.

katanya, peta kehidupan itu sudah ada yang menggariskan ya. tapi ternyata si pencipta memutuskan bahwa kita boleh menjalani hidup yang seru. tidak tertebak, dan membuat berdebar-debar. mungkin agar tidak spoiler. mungkin agar tetap semangat karena yang bersambung-bersambung biasanya membuat gemas; gemas ingin tahu kelanjutannya, atau gemas ingin berakhir saja. makanya ada tokoh seperti hannah di serial populer tiga belas alasan mengapa.

si pencipta (saya nda mau menyinggung yang percaya kita ini ada karena proses semesta yang sedemikian rupa lho, tapi saya pribadi memang percaya adanya Sang Pencipta, yang maha yoi dan maha artsi) rupanya memberikan kita sebuah otonomi, untuk menafsirkan dan memilih jalan yang kita ambil pada peta kehidupan kita.

saya sih banyak revisi ya. mungkin karena saya orangnya sok ide dan suka trial-and-error gitu. jangan ditiru. nanti labil dan njelimet. tapi serunya bisa punya koleksi 'luka-luka sandung' yang berbeda di titik-titik berbeda dari area-area yang berbeda dalam peta hidup saya.

mungkin yang mengikuti kendablekan saya di blog ini, atau kenal saya pribadi dan cukup dekat untuk bisa sedikit mendengarkan curhatan saya yang banyak.. bisa dirunut bagaimana seringnya saya begitu senang, kemudian begitu sedih, kadang terlalu skeptis, dan seringkali mengeluh. bertanya tapi tidak menemukan jawaban. kemudian menyalahkan keadaan. kemudian membela diri. kemudian mencari retorika yang menyokong pembelaan diri tadi. kadang dengan pongah, kadang alpa dan lupa diri. kadang satir. kadang romantis.

ya, itulah bagaimana gaya saya memanfaatkan otonomi yang selama 21 tahun ini disematkan pada saya. bukan gaya nungging atau gaya katak ya. banyak revisi. muter-muter. nyasar. kadang stuck di satu tempat--karena mager, atau karena lelah berjalan dan takut kembali tidak menemukan jalan yang benar. kadang malah ternyata menemukan jalan pintas yang ajaib.

dulu, saya kira konsep nyasar atau tersesat itu adalah di saat kita mengambil jalan yang salah. tapi njuk saya sadar, bukan, bukan gitu. tersesat memang diakibatkan karena salah mengambil jalan. tapi kemudian kita punya pilihan dalam mengambil sikap saat tersesat. bisa ling lung, bisa sigap, bisa takut, bisa gemas, bisa marah, bisa senang, bisa kerasan, karena baru sadar kalau bukan salah jalan, tapi salah menentukan tujuan. tersesat itu bisa melemahkan, atau justru konstruktif.

atau jangan-jangan, tersesat adalah kesempatan bagi kamu untuk beristirahat dan berpikir jernih. jangan-jangan dengan tersesat kamu diberi kesempatan untuk merunut ulang jalan yang kamu ambil, bahkan tujuan yang kamu cari. mungkin tersesat adalah cara bagi kamu untuk memiliki lebih dari satu pintu yang 'benar'. mungkin tersesat adalah cara si penggaris peta memberi kamu ruang untuk kembali bertanya pada diri kamu sendiri, dan melihat kemantapan kamu.

kalau saya sih, sebenarnya cuma bingung mau cari basa-basi apa untuk memulai gulungan entri yang sepertinya akan mengular setelah hampir separo tahun memutuskan mengurangi menulis reflektif dan lebih menyibukkan diri 'berpartisipasi', bahkan berhenti (dan jadi mikir dua kali untuk) menulis caption yang kata orang-orang dulu, kayak nulis cerpen.

'pipod i le gawe caption ko sepur'
'mesti cerpen to caption e'
'lak dowo mengko hahaha'

dulu.

celetukan yang pada suatu masa sangat awam saya dengar di sekitar. (kalo sekarang celetukannya karena spam instastory ya haha). dan waktu itu saya jadi.. hmm apa iya ya, saya seharusnya tidak seperti itu. jadi merasa berlebihan, romantisasi, kadang dramatis dan sentimental. rasanya belum dewasa dan jadi cheesy, tidak chill. (sama seperti sekarang, saya jadi suka risih sendiri kalau lihat garis putus-putus insta story saya melebihi lima linier. njuk biasanya saya hapusi haha maaf milenial.)

padahal enggak. ternyata enggak. menulis caption panjang itu gak papa. menulis reflektif itu boleh. menulislah dengan bebas, lepaskan semuanya. ternyata saya cuman kemakan omongan orang. tersesat yang dekonstruktif. selama bukan hal yang membuat polusi, kita boleh kok, jadi diri kita sendiri. asalkan bisa memfilter. toh banyak opsi yang bisa mereka lakukan juga. misalnya kalau saya terlalu spam insta story, ada pilihan untuk mute story profil saya. atau kalau blog dengan tidak mengunjungi blog saya. dan alhamdulilah ada read more jika caption melebihi 3 baris.

masalah tersesat karena omongan, salah satu dampaknya ya begini, tulisan saya tidak semengalir dulu, kalau dulu rasanya kayak jari saya punya otak sendiri karena setelah selesai nulis dan membaca ulang saya suka bingung apakah saya menulis ini.

tapi saya punya misi baru. saya mau mengurangi instastory. jadi, silakan bertandang kemari kalau kangen saya. hahaha. saya cuma bercanda. bukan jablay.

kerasan

lalu kalau kerasan, bagaimana? gimana kita tahu apakah yang kita kerasani itu sudah tepat atau belum?

saya masih ingat jelas bagaimana pertengahan tahun 2014 hingga tengah tahun 2016 menjadi tahun slump bagi saya. saya menjadi pribadi yang satir, terhadap lingkungan saya, terhadap diri saya sendiri, pada keadaan dan yang paling saya dukani, major studi saya.

saya ngerasa salah jalan. tersesat. jengkel karena sulit keluar. jengkel karena rutenya harus muter jauh untuk kembali pada tujuan yang benar. dalam paradoks realita saya, nyatanya belajar akuntansi adalah jalan yang benar dan berprofesi senada adalah tujuan utama. sebenarnya saya hanya merasa terjebak. saya capek tapi banyak ngeluh. banyak retorika kebanyakan satir.

namun sungguh bagaimana caranya kita bisa tahu apakah yang sedang kita perjuangkan (dan gagal mulu) itu memang harus diperjuangkan atau harus ditinggal karena mungkin, bukan jodohnya?

kalau toh kita memang legowo karena yang kita paksakan memang bukan jodoh, bagaimana cara kita tahu bahwa apa yang kita tinggal sebenarnya sudah sedikit lagi?

bagaimana cara kita tahu, apa yang kita perjuangkan itu pantas kita perjuangkan, atau sebenarnya kita hanya memaksakan dan buang waktu?

saya juga nggak tahu.

kita hidup itu gambling guys. biar seru juga. sayangnya, kita terlalu sering bermain ekspektasi. berharap berlebihan lalu kecewa. meremehkan lalu kuwalat. menungso rek. nduwe akal sonu mbulet dewe.

tapi judi tanpa pertaruhan ga afdol. meski salah. judi itu salah guys jangan judi ya. ini cuma analogi. oke, saya akan mengucapkan hal klise yang sebelum ini lebih banyak saya mentahkan, saya bantah karena terdengar naif. tapi kini saya akan memberi testimoni, bukan teori. jadi, mari berjuang sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya. jalan terus aja. jalan aja. percaya aja. percaya aja, jangan takut. selama kita ga sabotase jalan dan peta orang, keajaiban itu ga cuman ada di filmnya tim burton. mungkin ini klise, tapi peta kehidupan memang sudah digariskan dan Pencipta nya maha yoi.

suatu saat ketika kamu merasa tersesat, tetaplah percaya diri, pada lumut dan arah matahari, lalu berjalanlah terus. jika merasa kembali dan hanya berputar-putar, jangan takut dan berjalan terus saja. tidak semua hal yang terjadi pada kamu ada dalam kendalimu. ada kekuatan di luar sana yang mengawasi kita dari jauh, dan pada suatu waktu rimba akan terbuka. tetaplah berjalan. jika kamu berjuang dan gagal, mungkin saja kamu kurang berjuang, atau mungkin itu bukan waktumu. jalanmu sedang disiapkan. bersabarlah. tapi tetaplah berjalan.

lalu bagaimana jika kerasan?

ada sedikit gagasan lucu dalam benak saya beberapa waktu yang lalu. saya pikir, saya tersesat. saya pikir saya salah jalan. saya pikir saya terjebak. kemudian setelah beberapa waktu (yang tidak sebentar) saya jadi dark, emo, protes sana-sini seperti masih bisa dilihat berceceran di blog ini 2 tahun terakhir... tiba-tiba, menjelang akhir tahun lalu, jalan mulai terbuka dan sepertinya ternyata saya nggak tersesat. saya mengintip jalan alternatif yang terbuka, dan jebul saya kerasan. lucunya, saya jadi ngerasa beruntung malah diberi kesempatan untuk mengintip, bukan menjalani jalan itu.

saya rasa, saya nggak akan sanggup. saya rasa, saya harusnya tahu diri. talenta saya ndak nutupi, gabakal bisa mengkover apa yang akan saya hadapi. jalan saya sebenarnya sudah benar. saya aja yang selama ini merengek karena belum dibelikan permen yang saya mau. setelah itu saya toh marem. seperti sekarang.

saya masih belum tahu apakah saya akan meneruskan menapaki jalan alternatif itu, ataukah saya akan kembali ke titik dimana saya tersesat dan kembali menempuh jalan utama. tapi saya lega.

saya lega karena bisa membedakan apa itu kerasan dan penasaran.