Friday

the thing is, my friend, to keep being yourself and
doing what you really love wholeheartedly. it doesnt
have to be the best out of everything, the greatest or
all, but to be sincere,

because every single thing you do with your heart

will light up one more star in the sky

that slowly, you can see a way unfolds in front of you,

even in the darkest of times.


_

Tuesday

Sesajian di Jalan

Beberapa titik jalan di sekitar kota Yogyakarta sempat digegerkan dengan adanya penemuan sesaji. Titik-titik jalan tersebut seperti, pelengkung wijilan, jalan panembahan, Pelengkung Gading, perempatan Wirobrajan dan sekitar Kota Baru. Hal ini dibuktikan dengan beredarnya foto yang menangkap wujud sesaji di depan pelengkung Wijilan. Pria yang ber inisial EK ini secara tidak sengaja menemukan sajen ketika hendak pulang, setelah seharian berkeliling mengantarkan penumpang. Pengemudi ojek online ini, tidak cukup kaget dengan penemuan sesaji di sekitar jalan yang dilaluinya. “saya ndak terlalu kaget kok mas, tapi kok yo onok wangi dupane barang” yang ditemui ketika tidak sengaja berhenti untuk mengabadikan momen tersebut.

(Pelengkung Wijilan, tempat sesaji diletakan)

Sesaji, memang erat dikaitkan dengan konteks bahasa rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa. Adapun hal ini juga sebagai ungkapan untuk menolak dari datangnya bencana atau melindungi dari marabahaya. Manusia memiliki caranya sendiri untuk dapat mengungkapkan rasa syukur dan kegelisahannya kepada semesta. Istilah sesaji ini, memang sudah tidak asing di telinga kita. Sejak jaman dahulu, bahasa ini ada dan memang diturunkan dari nenek moyang kita hingga menjadi sebuah tradisi. Tradisi ini yang sebenarnya sudah menepi secara perlahan karena arus modernisasi.

Melihat peristiwa ini sebenarnya juga menjadi menarik untuk dikaitkan dengan konteks Yogyakarta hari ini. Kota yang terkenal dengan tradisi budayanya ini, kini dihadapkan dengan kebudayaan masyarakat milenial. Yang mana kondisi masyarakatnya sudah sangat berkembang pesat sejalan dengan dengan perkembangan teknologi. Hal-hal yang demikian pun, akhirnya tidak lagi akrab di kehidupan mereka. Jika masih ada pun, hanya orang tua atau kalangan tertentu yang masih melestarikan ritual ini.


Pak Ogah dan Penguasa Jalanan


Ruas-ruas utama jalanan Yogyakarta begitu padat memasuki rush hour, selain bunyi mesin kendaraan, suara klakson selalu mengiringi kebisingannya. Masyarakat yang dikenal ramah dan halus, bisa seketika menjadi ganas dan liar di jalanan dengan kendaraannya masing-masing. Dalam situasi ini dibutuhkan peran apparat untuk mengatur kekacauan-kekacuan ini. Sementara aparat yang sudah digaji untuk melakukan tugas ini kerap abai, atau justru malah menugaskan orang lain, “Pak Ogah”. Berkat keabaian dari aparat ini, peran “Pak Ogah” terasa sangat berjasa, padahal jika dilaksanakan oleh yang sudah sewajarnya berkewajiban tentunya jadi biasa saja. “Pak Ogah” yang mengatur lalu lintas Jogja di jam-jam sibuk ini seketika dapat menjadi penguasa jalanan atas kekacauan. Dengan seragam dan peralatan seadanya, kendaraan-kenadaraan berpacu tinggi ini mematuhi himbauan untuk berhenti atau jalan terus. Nyatanya memang jika diatur dengan baik, toh pengendara jalan bisa teratur juga.


Terlihat antara 11 Oktober-15 Oktober, 2-3 orang berseragam Prajurit Keraton Yogyakarta, Lombok Abang, sebagai pengatur lalu lintas di beberapa titik ruas padat jalanan Yogyakarta. Mereka tersebar di, Jalan Sayidan, Patangpuluhan, Jalan Solo, Jalan Affandi, Jalan Kaliurang, Sarjito, Perempatan Tugu Pal Putih, Taman Budaya Yogyakarta, Progo, Jalan Paris, pada waktu pagi, siang dan sore hari. Aktivitas ini sontak menarik perhatian warga, tidak hanya aktivitas, tetapi juga outfit yang dikenakan “petugas lalu intas” ini.

Warga net merespon dengan beragam melalui cuitannya di akun twitter. Akun @lalinjogja menuliskan “Siang tadi, kembali melihat kearifan lokal dalam  bekerja, nyebrangin pengendara dengan bajy prajurit Wirabraja di Jln. Parangtritis, pertigaan bank BNI”. Kemudian @guyonangkring mencuitkan “15:37 gon potongan jalan ngarep angkringan gejayan sik ngatur lalin anggo seragam prajurit, mantap jaya!”

(Aksi Pak Ogah Prajurit Keraton Lombok Abang)

Reresik Sampah Visual

Kenangan, ketenangan, kenyamanan, keindahan dan kesederhanaan, merupakan kesan yang terlintas ketika menggambarkan kota Yogyakarta. Sebuah kota yang kaya akan alam, sejarah, pengetahuan, kesenian, budayanya menjadi magnet bagi siapa pun. Karena itu lah, kota ini menjadi salah satu tujuan utama bagi para turis, baik domestik maupun luar negeri untuk menghabiskan waktu liburan bersama sanak famili. Namun siapa sangka, dibalik itu semua, Jogja begitu orang memanggilnya, yang begitu mempesona, juga memiliki persoalan yang menarik untuk dicermati.

Sampah visual, objek ini sering ditemui di berbagai sudut tempat atau ruang secara nyata di kota ini. Tentu saja objek tersebut merujuk pada sebuah benda yang sengaja diletakan oleh sekumpulan orang yang tidak bertanggung jawab, di beberapa titik ruang kosong, yang dianggap layak dan terlihat di mata publik. Beberapa lebar kertas saling tumpeng tindih, menutupi objek apa saja yang ada disekelilingnya dengan tujuan untuk menyampaikan informasi. Hampir semua informasi yang disampaikan melalui selebaran tersebut mengumumkan hal yang tidak penting untuk disimak, seperti “sedot wc”, “butuh dana segar, hubungi nomer ini”, “terima gadai bpkb cepat” atau poster acara band adalah visual yang “menghiasi” sudut kota Yogyakarta hari ini.

(Aksi “reresik” sampah visual oleh seorang seniman jalanan Yogyakarta)

Aksi reresik ini, kemudian mendapatkan berbagai macam respon dari netizen yang dicuitkan oleh melalui media sosial twitter. Dari akun @gothed: vandalisme di siang bolong, yang lewat hanya melihat, tanpa berani menegur, piye iki min?”. Ada pula yang menanggapinya dengan berswafoto di akun twitternya, seperti yang dilakukan oleh @anerbref: “Gardu listriknya ngeblend ma jilbab eike belum ya?”

Apa yang ditawarkan melalui beberapa aksi tersebut, merupakan respon dari tebaran sampah visual yang kian hari kian tak terkendali penyebarannya. Aksi kecil seperti ini dirasa menjadi langkah solusional untuk menghias kota Yogyakarta agar tetap mempesona, terlepas dari pandangan publik yang mengatakan sebagai aksi vandalism atau bukan. Tapi beginilah cara kesenian merespon persoalan yang ada di sekitarnya.