Saturday

This has been how I living.

Almost a month I've been jailed in the dorm.
Yeah, it'd been so hard for a week. Those tears, the homesick, the selfless. I wasn't the same. It was a week of School Orientation and I was an invisible girl who did nothing. The first day, ribbon group, library, choir, and even in the BONFIRE. It was on the third day. There were two main rituals in the School Orientation, and it were called by THE CALLING and BONFIRE, yeah. What was meant by 'the calling'? A ritual where all of Sampoerna Academy had to write their BIGGEST DREAM (their heart's calling) in a small paper which would be put in the little capsule/tube (as small as our middle finger actually), and these capsules would be put in the locked box. The box wouldn't be opened by anyone till we graduated or in our reuni. All of us really did that. Yes, and at the same night, the ritual of Bonfire held. In the calling, it was all about the dream, things what we wanna do, things that made a spirit in every of us. But about Bonfire, it was about our FEAR. The biggest fear of every student. We had to write our biggest fear on a piece of a small wood by the chalk, then we walked to the Futsal Court where the great bonfire existed. We walked in the line of our own House (I'll explain about it later on) which is.. yes, MANTA RAY :). In front of every line of House, there were couple of bricks where we're going to break our wood with our hand. Yes, like Karate. We never do that before, we didn't know how to break woods with hand only, we never know how was our strength. We just had to break that. Before we did that awesome 'breaking', we did PLEDGE. Yes, like Sumpah Pemuda, and it's about our goal in the future. And finally, after that pledge, one by one, we really broke that wood. By our own hand.

***
INAUGURATION.
I won't explain this session as well as possible cause there were soooooooooooo many sweet details that cannot be imagined by words. All of us went forward to the very big great stage, and we were all about more than 300 students. Wow. I stood in the very front line actually, and it was ahmazing. We sang SPREAD OUR WINGS (and also our school's march of course), a song that had planted deeply in every heart of us. We are really one big family. We cried. Then the giving flowers. We gave our parents a rose. And I was crying so hard in my Momma's hugging. She-is-really-the-strongest-Mom-in-the-world. She is the best one. She is single parent. She is beautiful. She is.very.strong. Oh my God. ThankYou for boarding me out into this Lady. I'm very gifted, God. I am.

Okay then we had lunch together, we taken photos.. We gathered with all of Manta Ray's families, and our SA. SA is Student Advisor and it's like Wali Kelas in regular school. But we aren't class. We are House. and we (Manta Ray) don't have a same class. If you don't get it, it's okay. You don't need to know all of my details.

Right. Then every student was permitted to hang out with their parents. That was really not enough of time, but ooooooorrggh it just made me miss my Mom badly when she brought me back to the dorm. (Bayangin, karena minimnya kendaraan--karena sekolah saya memang terletak di dlm perumahan--kami terpaksa jalan kaki ke Indomart. Terus jalan balik lagi ke sekolah buat ketemu becak. Untung ketemu. Dan terus dengan becak itu kami pergi ke ATM--yang lumayan jauh. Terus ke tempat mama nginep, dan itu bukan hal mudah buat pak becak mencari rumah yang dimaksud, sedangkan waktu terus berjalan. Dan saya kembali nangis di sana. betapa saya merindukan rumah. Betapa saya sangat berbeda, betapa semuanya berbeda. Adaptasi, sebetulnya. Ya, cerita akan mulai berubah seiring anda membaca entri ini.)

***

WELCOMING PARTY.
Dan 2 minggu berikutnya kami lalui dengan menjalani Foundation Study dengan sisipan CORNPARTY di pergantian minggunya. It was really great night. Disusul Halal Bi Halal night yang juga penuh kehangatan. Yak until pada minggu ini, akhir minggu ke-4.
FYI, I entered the class of X-1, which is called as the group of INQUIRE by the seniors. Every class has their own characteristics. And yeah, may be I am that one--inquire. You know, I always ask and ask :)

Manta Ray.

We're consisted by 16 students. And we lived in the top of the dorm--Third Floor.
Okay, I decide to explain this section on the other post :P

Day by day passed away, and MUCH MORE HAPPINESS around my eyes :')
The first TARAWIH.
I just called Mega, Asti n Yonez, and absolutely, I cried during that calling. I was on the attic of my room and there was a big mountain and the wide sky in front of me. Stars. No, my eyes was--because it lighted in the dark. After that calling I've been sooo ahmazing. I can be free. I touch that freedom. I'm smiling as well, this is life. I'm back.

The next night. I sent 3 pages of cellular message to (for about) 40 kiddos from my lovely JHS! :'D And almost of them replied my messages and it was really awesome to know that I am still remembered. It was just too sweet guys. It was.

Yeah. And Journalist. Thank God, for giving me that chance to be 10 selected students that included as the main team of Newspaper and Newsletter of Smandasa! It is really really a great gift. Haha. *Paling gak, jadi 10 yang terpilih dari 80 anak itu.. yah, menyenangkan.

And The Churching?
Yess momma, I do still do Church. If you wanna meet me on Sunday, just go to Kayutangan Church. Or every first Friday of Month at the Ijen Cathedral :) Because if in the first Friday of Month there is a Mass which is presented by all of the SHS-ers from all over Malang City.

See yah.

Tuesday

some rips from my unknown short stories :)

PS. Sebelum ini, 'robekan' dari dua cerpen di bawah ini hanya pernah dibaca oleh Sukma Arum Pragmangesti.



Aku datang padamu dengan segala luka dan cerita.
Aku datang dengan penuh peluh dan air mata.
Namun sayapku telah tiada, aku hanya bisa terjatuh.
Akulah Hujan.

Aku tumbuh dari sebuah bibit yang terbuang.
Aku kokoh di tengah segala kerapuhan.
Aku tak memilikki akar, aku hanya mencoba bertahan hidup.
Aku adalah Hutan.

(From Saveera Vivid's short story: Hutan, Hujan, dan Samudra - 10/05/2011)


Dan bahkan Ara tidak bisa menenangkan pikirannya saat melihat punggung Alan menjauh. “Dia.. benarkah akan datang?” Sesaat ia teringat akan percakapannya dengan Berra,
            “Kalau lo yakin, kenapa lo ragu?”
            “Gue gak—?“
            “Mata lo, Ar, banyak keraguan di sana.”
            “Kok lo mendadak puitis sih?”
            “Ini bukan soal puitis atau enggak. Kalau lo gak yakin, jangan dipaksain. Kalau lo ragu, jangan lakuin atau lo cuma mau nyakitin diri lo sendiri. Jangan maksain sesuatu buat hal yang gak pasti. Kalau emang masih bisa diperbaikki, kenapa enggak? Gak ada salahnya merelakan sesuatu, tapi jangan menyesal di kemudian hari. Kalau memang masih bisa dipegang, kenapa harus dilepasin? Kalau memang masih bisa dilihat, kenapa memaksa menutup mata? Gelap, dan gak tentu. Sayang itu rasa yang dalem banget, Ar. Sebuah hal yang benar-benar abstrak. Gue harap lo bakal berpikir dua kali.”
            “Kenapa terus menggenggam sesuatu yang gak akan bisa kita milikki, Berr? Toh itu bukan milik kita, dan gak akan pernah jadi—“
            “Jangan bilang gitu dulu. Mungkin dia adalah sesuatu yang selama ini hilang dan lo cari?”
            Hening.
            “Entahlah. Tapi dia adalah sesuatu yang... membuat gue..” Ara meyakinkan dirinya sendiri, “ngerasa ada.”
            “Clear. Ikuti kata hati lo.”
            Dering handphone mengagetkan Ara.
            “Berra...” Ara memutar kedua bola matanya. Sebelum membaca pesan singkat dari Berra, ia memejamkan mata untuk meredam kegagetannya dan menghela napas.
Ikuti kata hati lo.” Ara tak membalasanya, Ia menaruh benda mungil itu kembali. Pandangannya beralih pada buku bersampul hijau yang mejadi titik utama kedatangannya ke sana. Buku itu... harus kembali pada tuannya. Tuan yang seharusnya.
           

Ara tahu, ia takkan dapat menggenggamnya lagi ketika ia telah melepaskannya. Ia takkan pernah memiliki sesuatu yang dapat menghubungkannya lagi dengan masa lalu, masa lalu yang harus dikuburnya secepat ia bisa, sebelum terlambat. Sebelum rasa itu menjadi sebuah benalu yang akan menghantuinya seumur hidup. Tapi tak mungkin. Ia memang telah terlambat. Perasaan itu... bahkan lebih dari sekedar benalu. Rasa yang sudah terbenam hingga ke nafasnya, perasaan yang ikut berdegup dalam nadinya. Untuk itulah—karena itulah ia akan melepaskan buku itu. Karena ia memiliki sesuatu yang lebih dalam dan abadi dalam dirinya—walau tak tersentuh seperti buku—dalam nadi dan nafasnya sendiri.
            Sepersekian detik kemudian kesesakan menjalari dirinya. Ia mencari kekuatan, mencari dukungan. Gagal, seluruh tubuhnya tak bisa membendung perasaan itu.

(From Saveera Vivid's short story: Jalanan Kosong - 30/04/2011)





(putar foto di atas seratus delapan puluh derajat.)


-Yours.

Monday

Selfless in the Selfishness

Suatu saat aku pernah beranggapan bahwa semuanya benar. Inilah diriku, hidupku, dan aku sangat menikmatinya. Sungguh indah. Semuanya bagaikan tidak usah menunggu perintah untuk dinikmati. Apa yang aku harus lakukan hanyalah bersyukur bersyukur dan bersyukur, dan tentu saja, menganggap semuanya adalah anugerah.
Orang-orang yang mengeluh padaku bahwa hidupnya sungguh berat dan berkata betapa beruntungnya diriku, menjadi sebuah sorotan sehari-hari yang malah tidak pernah kusadari, sungguh dalamnya yang mungkin terjadi.

Aku baru saja mengalaminya sendiri. Benar-benar sendirian.

Aku pun kembali berkaca. Semua potret masa lalu yang kini terlihat sangat manis itu.. memang benar-benar indah.

Sungguh mengerikan mengetahui bahwa hidupku telah menggelinding bebas dan berbanding terbalik seratus tujuh puluh lima derajat dalam sehari.

Aku bukanlah aku yang dulu lagi. Aku adalah aku yang tak bernyawa. Aku bagaikan telah dihantam tsunami segitiga bermuda dan tenggelam bersama pusaran air yang menuju pada kehampaan yang tak berujung.
Aku mungkin tak akan pernah sama lagi.

Semua berubah setelah tsunami tadi menyerang.
.....

Setiap orang memilikki massa kisahnya masing-masing.
Aku, engkau, dia, mereka, dan kita... akan memilih jalan dan cara tempuh kita sendiri-sendiri.
Kita telah melewati sebuah perjalanan yang sama selama tiga tahun lamanya. Kuantum yang sama, massa yang berbeda-beda, dalam momentum yang tentu saja, berbeda. Tentu saja, kita memilikki cara tempuh dan vektor masing-masing, walau kita memilikki start awal yang sama, karena potensi kita berbeda satu dengan yang lainnya.

I'm not expert in Physics. Don't blame me.
Maka dari itu, aku menyadari, bahwa sebenarnya hidup bukanlah datang dari segala yang terbaik. Tapi kitalah yang harus menjadikan segalanya baik.

Semalam Tarawih pertama. Aku menghubungi Asti, Mega, dan Yonez. Tumpah seluruh air mata ini. Mungkin inilah yang sejak Malam Inagurasi menggondok di dahi. Kini aku tidak mati rasa lagi. terima kasih kawan... Aku sudah bisa lepas di sini.

Manta Ray (my family for three years later and forever), Lantai 3 (where Manta Ray lives), Kamar 9 (where I live), X-1 (where I study as The Inquire), semuanya...
Shark, Dolphin, Lion, Komodo, Rhino, Eagle, Dove, Hornbill, dan Manta Ray sendiri... For one big family! :'))
X-1 sampai X-12... Banyuwangi sampai Pacitan... Gedung A sampai Gedung B... Lantai 1 sampai 3...

3 tahun ke depan... We'll spread our wings ..so wide


.....

Wow, ini 1 Agustus ya?? Welcome, Mr August :) July has been so hard. Hope we can make a sweet relationship ya? ;)




-A Girl Inside the Dorm-