Wednesday

Dikira malsu


Sinyal Wifi, Monyet, dan
Manusia Abad Dua Satu
Oleh Saveera Vivid


Dunia dan Roda Kempes
Seperti roda, dunia terus berputar. Tidak ke mana-mana memang, melainkan tetap pada porosnya. Yang terus bergerak adalah waktu. Seiring waktu melaju, kaki-kaki peradaban pun ikut mlaku. Entah pada suatu titik atau bertitik-titik lainnya, lahirlah banyak ilmuwan baru, orang-orang cerdas baru, yakni penemu-penemu baru. Ada yang menemukan hal yang sudah ditemukan orang lain, ada yang menemukan benda ketelisut, ada yang memalsu, dan ada yang terima-terima saja temuannya dipalsu.
Sama seperti roda, dunia juga bisa kempes. Bukan ulah para penabur paku yang senang kalau ada sasaran mendekat karena usaha tambal bannya akan laku, tapi ulah kita sendiri, makhluk-makhluk yang mengaku Manusia Abad Dua Puluh Satu. Para manusia yang bertahan dalam seleksi alam, meniti evolusi, dan membuktikan bahwa mereka bukanlah kerabat monyet. Bukan karena tidak mau disamakan―toh monyet juga bergerak, berkembang biak, beradaptasi, perlu makan, bahkan bernapas―hanya sayang, mereka yang dulunya dibilang masih kerabat kita itu begitu tidak manusiawi. Menurut kita, manusia itu pintar, berakal, berbudi, dan berpekerti. Manusia punya rasa malu, monyet tidak. Manusia butuh baju, monyet tidak. Manusia butuh internet, monyet tidak. Manusia butuh facebook dan twitter, monyet tidak. Manusia butuh sinyal wifi, monyet tidak. Manusia butuh oksigen, monyet yang mempertanyakan.

Manusia Abad Dua Satu
Manusia Abad Dua Satu sangat suka ngeksis. Pasang status di facebook, berharap di-like orang banyak. Pasang tweet, banyak retweet, tidak berhenti ngetweet. Makin banyak follower, makin banyak ngetweet. Manusia Abad Dua Satu suka yang praktis. Toko-toko online menjamur di mana-mana. Pesan sekali langsung datang, katanya. Wong jarak satu meter saja masih sms-an. Mendekatkan yang jauh, katanya. London-Indonesia pun terasa sedekat Anyer-Jakarta. Semua butuh internet. Mahasiswa, artis, sarjana, pengusaha, anak sekolah, tukang bakso, semua butuh jejaring sosial. Semua butuh eksitensi.  Semua ingin terkoneksi. Kemudian saat semua sudah terkoneksi, dunia akan meleburkan batas-batas ruang dan waktu. Dunia kembali bergulir. Semua seperti berjalan dengan lebih efisien. Meski efisien yang dimaksud adalah lupa makan, lupa mandi, lupa waktu, lupa bergerak, dan lupa bernapas. Seperti roda yang berputar. Seperti melaju, namun tetap pada porosnya. Yang tidak kentara, sudah mulai kempes.
Manusia Abad Dua Satu tidak mau repot. Sudah banyak yang membuat repot. Ada tagihan listrik, uang bensin, uang belanja istri, uang sekolah anak, dan pulsa paket internet. Boro-boro memikirkan reboisasi hutan, memikirkan timeline twitter saja bisa bikin keringat dingin. Lantas Manusia Abad Dua Satu ini mengaku sering galau. Pusing mikirin mantan, gebetan, bahkan paketan internet yang bisa habis tiba-tiba. Kalau sudah begini, banyak yang akan berbondong-bondong mengantre kopi di kafe-kafe agar bisa nunut wifi. Semua bawa laptop, salah, sudah ketinggalan zaman. Semua menenteng case berisi tablet keluaran terbaru dan handphone-handphone layar sentuh berkamera canggih. Ada yang datang untuk mengerjakan tugas, mengunduh email dari atasan, menuntaskan deadline, ada juga yang hanya untuk berfoto bersama makanan dan mengunggahnya lewat media foto elektronik. Sekali lagi, makin banyak yang ngelike, makin seringlah mereka berfoto dan mengunggahnya.
Manusia Abad Dua Satu tidak boleh ketinggan berita. Sembari mengerjakan tugas dari dosen, dibuatlah tab baru untuk mengintip apa yang dilakukan si mantan atau si gebetan. Diawali oleh sebuah unggahan status, sudah bisa dipastikan bermenit-bemenit (yang tidak bisa diperkirakan) selanjutnya, layar akan bertahan. Sebuah nama muncul menyambut tab-tab baru guna mencari tahu siapa orang-orang di balik nama tersebut. Lain halnya dengan urusan kerja. Beranda pesan elektronik yang selalu menampilkan berita teraktual dan menarik dijadikan kambing hitam saat halaman-halaman yang kemudian terbuka bukanlah email dari atasan, melainkan isu-isu terkini seperti putusnya pasangan artis ini dan cerainya pasutri itu. Kritik dilontarkan, gerutu kecewa berkeliaran. Kembali lagi, Manusia Abad Dua Satu sangat banyak pikiran.
Pikiran-pikiran tersebut memang tak selamanya buruk. Tugas sekolah, contohnya. Sudahlah dunia tahu, tak banyak siswa yang meminta tugas―selain menghindari tugas yang lebih besar. Untuk urusan itu, Manusia Abad Dua Satu tidak perlu khawatir. Para orang tua Manusia Abad Dua Satu sudah banyak yang berpikiran maju dan terbuka. Mereka selalu mengimbangi perkembangan anak dengan perkembangan serta tuntutan zaman. Para Manusia Abad Dua Satu menganggap sumber informasi dapat menyokong kebutuhan-kebutuhan mereka, termasuk di dalamnya pendidikan. Pendidikan bukan melulu lagi soal bangku sekolah atau ulangan harian. Sistem pembelajaran presentasi juga ikut membuat siswa beberapa kali disibukkan oleh pencarian data dari internet yang mengaku bisa menyediakan segala sumber informasi yang dibutuhkan mau pun tidak. Maka sekolah pun dilengkapi oleh hotspot area. Semakin lancar sinyal wifi, semakin baiklah citra sekolah tersebut karena dianggap maju dan canggih. Belum lagi karena tuntutan starndarisasi yang menyebabkannya begitu. Di mana-mana ada wifi. Di mana-mana ada pangkuan laptop dan tablet. Sederhana saja, Manusia Abad Satu ingin membuktikan eksistensinya pada dunia yang berseleksi alam ini. Manusia Abad Dua Satu tidak ingin disamakan dengan monyet, meski monyet menjadi lebih manusiawi karena lebih memusingkan soal kerusakan ekosistem dan bumi yang semakin panas. Entah karena sinyal wifi atau kurangnya pohon. Entah kaerna pemanasan global tidak lagi dianggap popular untuk menjadi bahan pembacaraan atau dianggap kasep, monyet tetap saja memusingkannya.
Penyebab kurangnya kepedulian Manusia Abad Dua Satu terhadap lingkungan sudah bukan rahasia lagi. Tidak banyak yang peduli, namun tidak sedikit juga yang mau bergerak. Banyak komunitas-komunitas bermunculan untuk mengumpulkan aksi terhadap lingkungan. Banyak artikel-artikel serta berita yang menampilkan fakta mengenai lingkungan, banyak pula yang berempati atasnya. Sudah makin banyak dukungan dan donasi yang dilakukan oleh berbagai pihak. Semakin banyak pula sinyal-sinyal wifi yang digunakan untuk mengklik halaman-halaman tersebut. Semakin banyak kopi-kopi dibeli dan dijadikan tujuan mengantre demi seutas sinyal wifi. Semakin banyak kafe-kafe dibuka. Semakin banyak sinyal wifi dipasang. Semakin banyak manusia peduli. Semakin tinggi pendapatan dari para pengusaha kafe. Semakin tergeraklah perekonomian di negeri-negeri Manusia Abad Dua Satu.
Di negeri Manusia Abad Dua Satu tidak ada batas ruang dan waktu. Semuanya bergerak, semuanya berputar. Seluruh komponennya maju ke depan, tidak ada yang ketinggalan. Jika ketinggalan akan dianggap kuno, lalu secara alamiah tersingkir. Mungkin tidak sendiri, tapi menyingkir bersama. Membuat komunitas sendiri, walau dianggap berbeda. Itulah seleksi alam pada zaman Manusia Abad Dua Satu. Alam yang sudah tidak alami. Alam yang hutan-hutannya dijejali sinyal wifi. Alam yang sudah tidak lagi membumi. Alam yang sudah mulai ditinggalkan karena dunia bukan lagi seonggok bumi, tapi pixel-pixel di ujung jari.
Bumi kempes. Hening. Jari-jari mengetik, pemanasan global dan cara menanggulanginya. Paru-paru dunia semakin menciut. Hening. Terdengar klik-klik para donator reboisasi hutan.
Sudahlah sangat indah saat ada tangan-tangan yang turun untuk menanam pohon-pohon guna membantu mereka yang dulu dianggap kerabat kita, monyet. Kasihan mereka, tidak lagi bernapas dengan sempurna. Ya, mereka memang berbeda dari kita yang masih enak terasa, walau kualitas napas menurun, karena masih ada sinyal wifi, ada hiburan. Maka mereka yang mulai berkeringat karena berkurangnya produksi oksigen dan memanasnya dunia, hanya bisa mewanti-wanti tempat bergantung saat dunia mulai kempes, mulai melesak ke dalam.
Dunia berputar. Peradaban melaju. Manusia Abad Dua Satu makin maju. Makin berbeda dari monyet. Makin tidak ketinggalan zaman. Makin meninggalkan alam, meninggalkan kodratnya untuk menjaga semesta. Meninggalkan tanggung jawab karena merasa sudah bisa mandiri. Merasa sudah berbuat banyak untuk dunia. Untuk kemajuan dan laju zaman. Untuk melancarkan perputaran roda yang kian berlomba dengan waktu―meski harus menguangkannya. Demi kecepatan dan kualitas, meski harus memaksakan, dan membiarkan roda terus berjalan, kemudian menjadi aus.
Manusia Abad Dua Satu tidak mau repot. Repot bergerak saat sudah bisa mendekatkan jarak. Lupa kalau seringng manjauhkan yang dekat karena terlalu sibuk mendekatkan yang jauh.
Dunia sungguh seperti roda, yang berputar dan menjadi terbalik posisinya. Roda terus berjalan walau sedikit demi sedikit mulai kempes, karena tidak ada ynag sampai akal memompanya. Akalnya sudah habis digunakan untuk mencari cara menggalang kepedulian tehadap lingkungan, meski pada akhirnya hal-hal seperti itu hanya menjadi alasan demi mendapatkan sebuah eksistensi atau status. Ya, Manusia Abad Dua Satu sangat mahfum dengan eksistensi.
Maka dunia bukan lagi mengenai kepedulian, melainkan laju peradaban. Ketepatan, efisiensi, eksistensi, dan kualitas menjadi indikatornya. Praktis, cepat dan dekat adalah tujuannya. Manusia Abad Dua Satu tidak suka berbasa-basi, meski demi reboisasi harus pintar melobi agar dapat tambahan gaji. Meski demi rebosisasi harus pasang status agar dapat eksistensi. Meski demi pasang status harus sibuk cari sinyal wifi agar hemat. Meski untuk hemat, aksi menjadi kehilangan esensi karenanya.

Monyet Abad Dua Satu
            Satu pohon, dua pohon, seribu pohon. Jumlah yang tidak sebanding dengan populasi manusia. Andai saja penanaman pohon bisa dilakukan secara online. Andai saja satu pohon akan ditukar dengan satu follower di twitter. Andai saja satu like di facebook bisa dengan otomatis menanam satu pohon.
Andai saja Manusia Abad Dua Satu tidak banyak pikiran. Andai mereka bisa online lewat pohon. Andai seluruh akar pohon terangkai membentuk sebuah jaringan tingkat dunia. Andai menebar benih semudah menyebarkan informasi di internet.
Andai Manusia Abad Dua Satu juga membawa monyet ke abad dua satu. Tidak, jangan, nanti kafe penuh monyet. Andai saja setiap bytes sinyal wifi bernilai satu bibit pohon.
Andai saja pohon memproduksi sinyal wifi. Sayang, ia hanya bisa memproduksi oksigen yang kita gunakan untuk bernapas…

Satu Bulan [Ngilang Lagi] Bok! Ngapain ajaaa..

Sebulan sejak entri terakhir. Many things had been happening til I've finally awaken when September ended. Halah maksa.

Mulai dari benda-benda halus yang migrasi ke seantero asrama, kasus-kasus misterius yang bikin setiap anak gak berani keluar kamar di atas jam 9 (itu lebay btw), sampe The Conjuring Part 2 yang dihelat right here at my emejing dormitory.
Kediri punya cerita. Minggu pagi bareng anak-anak homey (Abet, Ncis, Ipank, Dus, Sandro, Dona, Alfred, Dessy dan Bu Rina) bagai liburan keluarga, serasa anak SMA, dan bahagia. Pohon pinus, matahari pagi, jendela mobil, soft weather, kamera, Ariana Grande... belum cukup sampai situ, 4 jam perjalanan diganjar sama berpiring-piring makanan yang bikin kami kicep total. Udah banyak, enak, murah, demi ultramen wes. Terus Misa, lanjut ziarah. Berangkat habis subuh pulang hampir tengah malem. Puas.
Ada juga lomba fotografi cap deteksi yang sebenernya bukan berkensan di lombanya. Tapi dispen plus apa yang terjadi selama dispen. Udah di mall, acaranya music & dance yang sumpah, bukan lomba pun, itu malem yang ajoy banget. Goyang kiri setengah kanan seprempat kiri, encok akhirnya, eak, maksudnya puas banget nyanyi bareng, moto-moto, makan-makan, jalan-jalan, ketawa-ketawa, menikmati hari!
Yah, meski harus rela ga mudik dan ngelewatin  Festival Reyog Nasional (lagi). I swear there's nothing better than nonton Grebeg Suro di Ponorogo. Even midnight shop di NYTS. Nope. Dan. gue. melewatkan. buat. ketiga. kalinya. Payah.





Gila boring amat ya hidup gue ternyata.
Syukur masih sempet nyolong-nyolong ngemall sama Levy. Hm.

Udah kalo kangen follow instagram @saveeravi aja. Kayaknya itu akan cukup merangkum semuanya. Iya deh. Pindah situ aja. Twitter sama path juga udah mulai disfungsi. Apalagi blog.

Adios.

Sunday

Kemana aja?


Asing. Aneh ya rasanya, kembali ke 'taman bermain' yang dulu hampir setiap hari dikunjungi terus mendadak hampir 2 bulan gak ke sana terus ya... gini ini. Mau mulai lagi kasep, mau ninggal kok ya nanggung. Kangen.

Oh, mungkin begini.

Sebentar.

Gini. Dulu aku mulai ngeblog karena pasti orang-orang keren itu ngeblog. Awalnya cuman jadi konsumen tetap alias absolute stalker. Lama-lama (mungkin juga karena ngerasa hina dan defisit ya, iya.. maksudnya kan gak pernah produktif tapi jadi konsumen tetap) bikin juga deh. Hinanya lagi, aku mulai ngeblog ketika Mama udah quit ngeblog dan viewernya nyampe 10 ribu ke atas. Lagi-lagi, gue kalah gaul. Berbekal segala sesuatu yang udah gue eh kok gue, aku consume sebelumnya, mulailah aku produksi walau hanya tulisan sedikit goblok yang dikit-dikit ngopi iklan Mizone. Ya biasalah ya anak baru ngalay gitu, ngatur-ngatur segala layout dan settingnya sehingga warna dan gradasi yang dipadukan berhasil ngerusak mata dan, to be honest, waktu itu gue puas banget. "Yes! Gue tau gue berpotensi" haha.

Wes. Sampe kelas 11. Datanglah SPRING (jeng jeng) dan sejak saat itu, kalo boleh jujur, tanpa bermaksud nyinggung pihak mana pun, I lost my sense of the blog. Hehe. Aku jadi kayak dibebani oleh deadlines dan didesak tema. Gak bebas. While, mungkin aku bisa pakai blog baru untuk itu, but the guilty fault, I didn't. Waktu ngeblog yang gak seberapa jadi terpakai untuk spring, walau, syukurlah masih bisa menyisipkan satu-dua post, tapi Skrivnost pun jadi berasa jurnal, bukan Skrivnost lagi. Gaya bahasa bergeser, pola entry berubah, dan lama kelamaan. I've really lost the sense.

Bukan cuma sense untuk ngeblog, tapi sense untuk melihat dan memperlakukan sesuatu.
Dulu, aku bisa banget excited karena hal-hal kecil bahkan sepele, dan entah apa pun itu, mesin di balik mata dan otakku mengalirkan sesuatu pada tangan yang kemudian dinamai sebagai aktivitas menulis. Mesin tadi sering aku duga punya nama lain: refleksi. Dengan ini, aku bisa membuat segala yang gak nikmat itu enak dan memrosesnya untuk kemudian ditulis, dan tentunya dibaca orang. Ketika itulah, kebanyakan orang juga akan merasakan kenikmatannya walaupun mungkin kalau mereka alami sendiri, hal itu gak ada apa-apanya.

Get it? Lama-lama, aku jadi orang itu. Yang cuma ngeliat dan ngerasa gak ada apa-apa.

Atau.. banyak hal-hal baru yang udah ngalihin duniaku? kelas tiga? instagram? path? apa pun itu? Mungkin. Pernah tau gak sih ada yang bilang gini: i once wanted to be a stage photographer until i knew how fun it is to enjoy the show with no gadget. See? Mungkin ini bukan karena aku hilang sense. Mungkin karena memang hal-hal terbaik better passed tanpa sengaja, tanpa paksaan, tanpa refleksi. Begitu saja.

Tapi....

Eman. Banyak hal yang perlu dikristalkan. Banyak hal yang perlu diabadikan. Banyak hal yang gak terjadi dua kali.


..dan banyak hal yang harus terlewat begitu saja....

---------

1) I'm lovin' it 2) FRIENDS! 3) I'm lovin' it more 4) Edufair 5) Keepers 6) My precious 7) Wind. 8) PG Kebon Agung 9) KUD Batu - KSB Susu Murniii Nasional~ 10) Representatives for Bank Indonesia Visit 11-12) Upcoming NLt Cover 13) There's no photo of Mayor of Malang Visit bcs.. nevermind. I lost my settings that day and.. nevermind.

Friday

August 16th. Alone.

I've just wondered. Either i am going older or the time goes too fast, it drives me nowhere and since it's haunting me, i say i am totally sick.

I used to hate routines. It sounds a-fucking-big-no and boring. Like i know what im doing and i know what to do the next day or in other words i know how to die with a boredom feels. I love new things. if there isn't, i love surprises. I always tried to come up and smile to those challenges or chances. But i tell you, it's not what it seems now.

3 weeks of holiday and i thought i could have anything at once. I do. Procrastination.

Week one. Sleep is the best word to define my first seven days. No one has called me or came around to have me outta home. But the funny part, everyone seemed want me there when i had to go to Jogja.
"I'm going, i'm not, i'm going, i'm not" i conviced myself. Then i went there and got that high fever for the half of the week. PS. With no books handed home.

Went back home and picked Matthew from bus stt. The next 3 days labeled with  fun. Nasi padang, Angkringan bebek, angkringan kopi, buryam, nasgor jumbo and all of the silly yet sweet things left... then I had to drive him back to the same bus stt, seeing him leaving. I would go back dorm and had my bodies bathed when it happened (high fever again) then mom delayed my dormcoming. Matthew in another side was on his way to surabaya when i called him to tell my delayed dep. He went back. A day more of  fun. We were having es teller, basket ball and playing it, a coffedate and the rest day staying home because of my fever. He was leaving this morning and here i am writing it alone.

I should have been in dormitory now, having my neat bed with done-duties. But look at me. Waiting mom come from office with overwarm body, alone. Feelingstupid and, to be honest, stressed and depressed.


I forget my dormlife. Am not even ready to go back. While.. i felt like i was dorm forever the night before i went home. But now, i felt forever home.
Ah! A month passed on. And I missed this blog like chewing minions. Kidding.
Papoy! Randomly peeping on my blog stats until I found them, my old writing. Actually it's my grade 9 (in junior highschool) blog, which was created when I was still under 14. No, that is not the point. What caught me first was, this site has stalked me this week. HOW COME?!!! Feeling exciting to surf there then the waves swallowed my wholly excitement. There is no latest post. So maybe somebody will tell me later how it did came. Scrolling down, and found it.


Sabtu, 09 April 2011

KEHILANGAN 
Oleh : Saveera V
(tidak dikopi-paste dari mana pun)


Diambil dari kata dasar : Hilang.
Apa itu 'hilang'? Hilang adalah sebuah keadaan yang tidak diketahui.
Seperti 'dingin' yang ada karena ketidakhadiran panas, hilang ada karena ketidakhadiran sesuatu.

Apa jadinya jika kita kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai?
Tidak, tidak. Itu picisan.

Hm, bagaimana jika kita kehilangan sesuatu yang membuat kita 'ada'?

Nah silakan anda berpikir sejenak.


Hilang adalah hal yang tidak dapat dipungkiri, tapi masih bisa dihindari.
Hilang memang telah begitu banyak menimbulkan penyesalan yang mendalam, entah menyesal karena telah 'menghilangkannya' atau menyesal karena 'tidak menghilangkannya dari dulu'.

Memang banyak orang yang tidak meminta kehilangan di saat ia harus kehilangan.
Tapi tidak sedikit yang mencoba menghilangkan sesuatu dengan sekuat tenaga di saat ia tidak pernah bisa berhasil menghilangkan 'sesuatu' tersebut sekuat apa pun ia mencoba.
Ia mencoba dan mencoba, dan akan terus mencoba hingga suatu hari di saat ia mengerti sebuah keadaan di mana 'sesuatu' itu menghilang, ia puas, lalu tidak lama kemudian menyesal.
"Kehilangan" selalu membuat kita belajar dan lebih pintar untuk 'mengarang' jawaban dari seluruh kemungkinan yang ada, sedangkan "menghilangkan" hanya menyiksa diri sendiri. Kehilagan selalu nanar, tapi menghilangkan hanya membuat nanar jiwa kita sendiri.

Berbeda halnya dengan dihilangkan.
Sakit, pasti. Yang terburuk dari semuanya.
Di saat-saat seperti ini pun semua tampak kabur--berkabut. Ya, ada dihilangkan secara tidak sengaja, ada yang memang harus dihilangkan karena suatu keadaan yang memaksa (dengan kata lain takdir), ada yang 'sengaja' dihilangkan secara semena-mena, bahkan tidak menutup kemungkinan secara 'blak-blak'an.
"Dihilangkan" tidak hanya menimbulkan tanya, tapi juga sakit yang luar biasa, dan tanpa kita sadari, membuat kita yang telah dihilangkan ini menjadi sangat mudah untuk membenci orang yang telah membuat kita merasa dihilangkan tersebut.

Kehilangan, Menghilang, Menghilangkan, Dihilangkan, hingga HILANG itu sendiri.
Satu yang belum kita bahas; menghilang.

Yang terakhir ini adalah keadaan yang berbanding lurus dengan dihilangkan, namun bukan mendorong, tetapi lebih kepada menarik diri.

***

Jika sesuatu sudah hilang, entah karena kita hilangkan hingga ia merasa dihilangkan, sampai pada akhirnya kita sendiri merasa kehilangan.. dari kesemuanya itu, yang paling dapat bertahan begitu lama dan menggerogoti jiwa kita tanpa mengurangi kenangan-kenangan yang terlewati, dan akan selalu tertanam, dan ajan membuat kita memendam kerinduan yang mendalam adalah jika sesorang 'menarik diri' dari kehidupan kita.


Kita akan selalu lebih bisa memaknai arti dari sebuah kehadiran, dan betapa berharganya,
jika hal itu telah hilang.



HILANG adalah sepotong kata yang sangat abstrak.

______________________________________________


Kamu sangat berarti, istimewa di hati,
Selamanya rasa ini..
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing,
Ingatlah hari ini..


Diposkan oleh IX NAPOLEON 1011 di 16.55 Tidak ada komentar


I feel grown up now -_-
Hey tomorrow is the day I'm going back home. Aaaaaaaaah but it is too comfy nowww!!! I just don't think that the next morning I should be leaving. The weather. The bed. The window. The routine. This laptop and I don't know. Is it what they feel? When people will go that far soon?

Thursday

Family.


I often told you about a thing called Napoleon. Typed. It's more than a thing. It is family. Class of 2010/2011.

  Half of the ladies, included our Momma (right photo: in the middle, yap, the one who's looked peeking on me haha)


Jadi tadi pagi aku lagi enak-enaknya dipijit sama Mbah Uti. Lalu henfonku berdering minta diangkat. Kirain Memet, ternyata Sukma. "Lapo Suk?" "HEH! AWAKMU GAK NGEROSO LAGI DIENTENI?" "Hah!" "Iki wes ndek kene kabeh yato!" "Maksude?" "Iki kabeh wis podo ngumpul ng omahe Anhar, Ucha gak sms koe?" "Aku gak nduwe pulsa! Gak nduwe motor, digawe Mama! Jemput!" Telepon ditutup. Aku mandi. Belum selesai, Sukma udah nongol di teras rumah.

Hip! Napoleon was the reform of Gamma, our class in Grade 7. At first, we had 31 members. Terus kehilangan 2 members karena pindah ke luar kota. Terus kita pisah di kelas 8. Terus ketemu lagi di kelas 9, ketambahan 4 murid baru! Hihihi... Terlalu banyak legenda, fabel, cerita, derita kita alemin bareng-bareng. Sampe aku pernah bikin label sendiri buat napoleon. Bahkan pernah ada yang sempet bentrok waktu kita pada punya identitas baru di kelas 8. Eh, pas balik lagi as Napoleon, gak cuman sahabat. Kita udah kayak keluarga. Kelas udah kayak rumah. Dan bagi aku, Miss Dien udah kayak Emak sendiri. Meski ada beberapa jagoan akademik di sini, tapi kita juga pernah beberapa kali bikin ulah. Kena marah sekelas. Ngecewain Bu Dwi. Ngerusakin pintu lab komputer sampe satu kelas kekunci di dalem (untung pas itu aku di luar huahaha). Iket-iketan sekelas terus Mada sampe jatoh. Ngiketin tali sepatu sekelas sebelum pulang. Keroyokan tempe di Mbak Kem. Dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Too much! too much!

And... this were how we spent today. Snap!

Whoaaaaa as today was hot to trot, we tried to find some oceans hereabouts.

Yaaaaah, habis gini jangan keliru liat Mega (Semarang) as Pipod. Maafkan dia, dia cuman khilaf.
Yang pertama dia sama Dise (SMK Telkom), terus sama Edbert (Surabaya), terus sama Redo (Kosayu), terus sama si Empunya Rumah Gathering Anhar (SMA 3 Madiun). Harusnya ada Bejo (Jogja), Johan (Surabaya), Tio (alias adek se-ibu-nama-doang, mirip banget sama Mikha Angelo cuman kurang gendut sama keriting, Sidoarjo), terus... siapa lagi ya yang mencar? Oh kelupaan. My big buddy! Ogiv (Magetan :) Sudah. Itu saja, yang lain masih cinta banget sama kota reyog kayaknya hahahaha. Aaaaa thank you buat hari iniiiii..... Reuni yang gak harus banyak perencanaan, gak ribet, gak cekcok, tinggal bilang, beli oleh-oleh buat Miss Din gak banyak cuap, urunan belakangan. Woles, ringkes. Tapi jadi. Berangkat kemana tinggal ayo, misah ya ayo, terus selesai kumpul lagi. Ah, terbaik..... *ciumin satu-satu*

Tuesday

Acoustic Nite Batch 3: Malam Khilaf!

Background: Kenapa Eleven Goes Twelve?
Soalnya pas itu bingung harus nutup rapat pake yel-yel apa. Trus nyeplos aja, Eleven goes... Twelve!

Kyaaaaaaaa! Begini jadinya kalo udah lama gak jumpa terus di'byok'in ke satu arena. Pake diiket lagi! Pecaaaaaaahhhahahaha. Well, semalem telah dibuka arena pogo bersama di acara tahunan kelas 11: Acoustic Nite. Acara ini spesial di-handle oleh 9 PIC Movienite tahun lalu (Nando, Syahid, Syeh, Yogik, Vidya, Aku, Sulthon, Rizki Mubarok, dan Asrul) di bawah naungan Program Developer. Jadi PIC-PIC tadi milih salah satu anak dari housenya buat ikut jadi Panitia. Kami ber-18 dibawahi oleh seorang PIC lagi yaitu Fanny Astikasari, partner nelatku tiap rapat Program Developer hehe. Si Fanny masih dikontrol sama Afif (bos Prodev) yang sebenernya masih dibawahi Nando. Wis mbulet pokoke gausah dipikir soale yo rodok ga penting hehe

Dan sebenernya acara ini udah ketunda setahun, karena berbagai alasan logis. Rizki Mubarok sibuk ngetua osis, nando sibuk ngurus asrama, dsb dsb dsb. Hal-hal kayak drama, perkusi, dan event-event lain juga bikin kita lupa, kalo ini adalah acara pertama angkatan 3 di kelas 11 sekaligus acara penutup yang bakal nganter kita naik ke kelas 12. Maka dari itu, di sini panitia pengen bikin suatu event yang ga ngeribetin yang dateng. Mereka dateng cuman buat nglepasin semua, releasing all the burdens they've been carrying along the year, di mana mereka juga ga perlu terpaksa terkotak oleh identitas house ataupun kelas. Mereka kita iket (beneran iket pake rumput jepang) per kelompok (yang kemudian dinamai oleh nama makanan) yang berisi orang-orang rame dan diem, yang udah kita blend berdasar data anak rame & anak diem dari masing-masing house. Mereka yang tadinya 'gak deket' jadi mesraaaaa banget bagai keiket (ya emang diiket pod). Mereka semua dateng pake baju senyaman mereka, mau pake tux, mau pake daster, pake piyama, mau macak, gak mandi kek.. silakan. karena di sini juga gak ada dresscode-dresscode an. buebas. pokoke teko ayok seneng-seneng!


Diawali oleh sesi pengikatan di depan gedung b, acara yang molor gak diobrak-obrak semalem pun berhasil berjalan gak jauh-jauh dari run down. Panitia yang baru pulang-belum mandi tepat ketika pengumuman pengumpulan anak pun sebenernya capek banget habis iket-iket something di beton-beton (sebenernya cuman aku, dhea, featuring odi & nando sih kalo itu) dan iket-iket jajan buat digantung-gantung. Intinya serba mengikat gitu kali ya. Well, tiap kelompok wajib ngambil jajan yang udah digantung-gantung tadi buat konsumsi. Masing-masing anak udah dijatah 2 snacks. Jadi dengan tangan terikat, menuruni jembatan cinta dan ambilin jajan yang digantung tuh serasa gimana gitu yaaaaa.. mmmmmh mesra ngedh pococnya


Sampai di lokasi, masing-masing group disuruh bikin yel-yel related to their group name (jieeee makin akrab ni yeee) terus setelah semua anak udah ngumpul di arena. Acara pun dibuka. Fanny, Afif, dan Mega (Developer) emang gak ikut dalam kepanitiaan, jadi mereka ikut teriket waktu itu. Jadi Fanny musti maju sekelompoknya buat ngasih sambutan di panggung. Habis gitu...

P o g o   d i m u l a i . . .
4 lagu cukup buat mbakar mercu. Aku nduwe videone... Khilaf parah reeeeeeeeeeeeeeeek.... Bisa bayangin juga gimana nasib anak-anak diem tadi pas nyampur sama yang bohai semacam Mahmudi. Atau yang keliatan damai kayak Arsi, bahkan jauh lebih hhhhhot dari Jupe.


Aku yang sebenernya juga dapet tugas buat nilai grup mana yang goyangnya paling heboh sampe mendal kemana-mana begitu terjun ke arena... padahal mereka tuh diiket! Untung si Niko gak papa.. cuma beret-beret doang wkwk. Eh tapi sumpah,waktu itu bahkan aku lihat pake mata kepalaku sendiri kalo anak-anak yang selama ini mustahil banget buat mogo dan gak seen as un-pogo-able ikut menggila.. Sampe ada yang hapenya ilang, sampe ada yang kejiret rumput jepang.. rileks rek rileks _._ setelah lagu berakhir, bisa kelihatan banget anak-anak ga pernah olahraga. Keringetan parah dari dahi sampe celana hahaha.. Udah pada dandan genteng-genteng cantik-cantik pulang pulang ga berbentuk. So, karena acara ini berjudul acoustic nite, maka arena harus lanjut ke.. ngalaow-nggalow yatho kalo kata pak rendra hehe. ada juga music-performance dari anak-anak yang sebenernya master tapi malah ga pernah tampil di depan.

Terus juga kita setelin beberapa video, ada video angkatan, video-video yang khusus kita buat berang Opa, Miss Au, pak satpam, pak muslich, dan testimoni anak-anak.. Ada juga TER-TER AWARDS! Di mana kita panitia udah ngolah data dari polling yang kita lakuin selama 1 minggu. Ada tergalau, terkebo, terkepo, terfeminin, tereksis, aku lupa, aku lupa, pasangan terunyu, dan mantan pasangan terakur. Piala-piala diserahin sama PIC-PIC berdasar urutan movienite, dan yang terakhir unyu banget, karena yang nyerahin adalah Fanny si Big PIC. Dia nyerahin ke Afif dan Vidya, di mana satunya adalah Bosnya Fanny dan satunya bawahan dia selaku PIC Movinitenya Dove juga. Jadi mereka bertiga tahu gimana proses pencalonannya sampe polling, dan pengambilan juara. (Buahaha uakur yoooo.) Acara dilanjut sama speech dari 3 orang spesial (yang juga dipilih berdasarkan polling), di mana anak-anak ini dianggap jarang show off dan wanted banget buat bicara di depan. Kita pingin tahu, gimana sih kalo mereka diminta bicara soal angkatan tiga :)


Acara ditutup oleh penampilan dari XO (Xtra Ordinary). Waktu mereka tampil, panitia ngasih sticky notes ke masing-masing anak.. dan tiap anak wajib nulis dosa/kesalahan terbesar mereka selama di asrama. Sticky notes tadi kemudian ditempel ke monumen pengakuan dosanya angkatan 3! hihi


Setelah monumen 'terhias', XO nyanyiin Spread Our Wings aransemen jazz.. dan seperti biasa, pewaris terakhir spread our wings di malang ini berputar dan bernyanyi bersama-sama. dan seperti biasanya juga, setelah lagu berakhir, kita nyanyiin yel-yel kita lagi. nyatuin tangan lagi. rasanya udah lamaaaaa banget kita terkotak oleh tugas-tugas yang mengatasnamakan kelas atau house. dan sekarang kita satu lagi. seneng rasanya :) makasih ya rek indah banget... Thank you!