Wednesday

The Way of Love

If I speak in the tongues of men and of angels, but have not love, I am a noisy gong or a clanging cymbal.
And if I have prophetic powers, and understand all mysteries and all knowledge, and if I have all faith, so as to remove mountains, but have not love, I am nothing.
If I give away all I have, and if I deliver up my body to be burned, but have not love, I gain nothing.

Love is patient and kind; love does not envy or boast; it is not arrogant
or rude. It does not insist on its own way; it is not irritable or resentful;
it does not rejoice at wrongdoing, but rejoices with the truth.
Love bears all things, believes all things, hopes all things, endures all things.

Love never ends. As for prophecies, they will pass away; as for tongues, they will cease; as for knowledge, it will pass away.
For we know in part and we prophesy in part,
but when the perfect comes, the partial will pass away.
When I was a child, I spoke like a child, I thought like a child, I reasoned like a child. When I became a man, I gave up childish ways.
For now we see in a mirror dimly, but then face to face. Now I know in part; then I shall know fully, even as I have been fully known.

So now faith, hope, and love abide, these three; but the greatest of these is love.
_________________________________
Holy Bible // The New Testament : The First Letter of St. Paul to The Corinthians ch 13
Alkitab // Perjanjian Baru: Surat Pertama Rasul Paulus kpd Jemaat di Korintus pasal 13

Hey this is not quoted from tumblr or teenlit or poet books. Or I can say that Holy Bible is the best book of poets ever, so all proverbs in the world are no longer seen any better.

Even Proverbs itself is a part in Holy Bible, in The Old Testament, arranged by King Salomon, Son of David. It is laid after Psalms, a beautiful collection of hymns, poetic verses and prayers, mostly written by King David. The Psalms are vertical to God, The Proverbs are horizontal about People.

Then you know where all of my love for words and beauty of it comes from. Bible, unconsciously, has influenced me a more than lot. Like i need no Lang leav.

Tuesday

Fruit of the Spirit

Love, joy, peace, forbearance, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, self-control #Gal5

Postmodernism is a late-20th-century movement in the arts, architecture, and criticism that was a departure from modernism. Postmodernism includes skeptical interpretations of culture, literature, art, philosophy, history, economics, architecture, fiction, and literary criticism.

Wednesday

People will kill you over time, and how they’ll kill you is with tiny, harmless phrases, like “be realistic”.

Ladies and gentlemen, we are floating in space


Cinta-isme material.

Ngeri ya, sekarang orang-orang mendadak bisa (dan suka) jadi artis. Sebuah pergeseran dari nomina serapan: astist
yang biasanya secara harafiah dimaknai sebagai seniman.

Love yang biasa dimaknai secara harfiah sebagi cinta (nomina) dan merupakan predikat aktif untuk tindak merasakan afeksi pada objek tertentu (verba), sekarang pun sudah ter-materi-alisasi-kan.

Pergeseran makna harfiah Cinta (nomina) kini merujuk pada ukuran virtual masyarakat internet dalam memberi nilai dan perhatian. Entah nilai baik, bagus, suka, lucu, setuju, dkk.

Materi-alisasi Cinta bisa-bisa melebihi materi-alisasi nilai ekonomi: Uang.
Memiliki banyak uang berarti mampu menyediakan kapital yang banyak. Kapital yang banyak mendatangkan keuntungan, tahta, kekuasaan dan kepuasan yang banyak pula.
Kapitalisme.

Mendapat Cinta yang banyak berarti mampu menyediakan hal yang diperhatikan orang banyak. Diperhatikan orang banyak mendatangan keuntungan, tahta, kekuasaan dan kepuasan yang banyak pula.
Cinta-isme material.

Toh Cinta sekarang sudah ada bentuk materinya. Sudah termaterialisasikan.

            Sometimes, I sit alone under the stars and think of the galaxies inside my heart, and truly
            wonder if anyone will ever want to make sense of all that I am.   (Christopher Poindexter)
The most interesting thing about cultures may not be in the observable things they do—the rituals, eating preferences, codes of behavior, and the like—but in the way they mold our most fundamental conscious and unconscious thinking and perception.
Ethan Watters at Pacific Standard: We Aren’t the World

Oh Society.

Sedih ya ketika kamu mencoba merefleksikan dirimu, kemudian seakan kamu adalah milik dunia dan mereka bebas berkata dan berkomentar apa saja atasmu, membuat perefleksiandirimu menjadi suatu hal yang sengaja ada untuk dinilai dan dinyatakan benar, salah, baik, buruknya.

Itulah hukum yang berlaku di masyarakat, apalagi di masyarakat internet.

Tapi bukankah seharusnya penilaian dan komentar hanya merupakan efek samping dan subreaksi dari tindakan kita?

Mungkin beberapa orang memang terlalu peduli, mungkin beberapa orang terlalu menumpukan suatu sudut pandang terhadap persona tertentu, terlalu berharap lebih, dan yang lebih ironis, merasa kecewa dan tak jarang merasa terlibat dalam upaya perbaikan hal yang mereka anggap penyimpangan itu, saat, penyimpangan itu sendiri hanyalah asumsi yang ditimbulkan sudut pikir mereka.

Kemarin pagi pak Samiaji membahas tentang system recycle pada kelas ais (accounting information system). Berkenaan dengan pencatatan dan pembukuan, akuntansi memang tidak mengenal nilai negatif. Logika merujuk pada perhitungan persediaan ataupun hutang maupun modal dsb. Benar. Lalu seperti biasa beliau secara tak sadar menambahkan hal-hal berbau trivial.

Negatif, katanya sambil lalu, hanyalah imajinasi manusia; konsep rekaan yang dibuat oleh otak kita untuk menunjukkan ketidakhadiran sesuatu atau suatu nilai yang diasumsikan menekankan suatu perbedaan atau hal berkebalikan tertentu.

Suhu negatif misalnya. Itu karena hawa sangat dingin.Bahwa nilai 0 sudah dingin, dan hawa sangat dingin melebihi 0. Kemudian konsep sangat dingin yang 'keluar' dari bilangan asli inilah yang membuat kita mengimajinasikan keberadaan nilai negatif. Nilai yang berkebalikan dan berada di luar nilai yang ada.

Sama seperti dingin. Sebuah konsep yang di-kata-kan untuk mengasumsikan ketidakhadiran panas.
Sama seperti gelap. Sebuah konsep yang di-kata-kan untuk menamai ketidakadaan cahaya dan terang.

Timbul sebuah pertanyaan. Apakah kewajibanmu untuk membuatnya tidak kecewa dan menganggapmu salah dan apakah haknya untuk kecewa jika ia melihat sesuatu yang salah padamu?

Harry Potter mengajarkan cinta kasih.
Narnia mengajarkan keajaiban.
Twilight mengajarkan perjuangan.
Hunger Games mengajarkan keadilan.
Divergent mengajarkan keberagaman.
Lord of the Rings mengajarkan pengendalian diri.
Lima Sekawan mengajarkan kejujuran.
Paper Towns mengajarkan suatu pesan, “What a treacherous thing to believe that a person is more than a person.

Dear people, fyi, she didn't only sing Hello.


Everybody loves the things you do/ from the way you talk/ to the way you move
Everybody here is watching you/ cause you feel like home/ you're like a dream come true

But if by chance you're here alone/ can I have a moment? before I go?
Cause I've been by myself all night long/ hoping you're someone I used to know

You look like a movie/ you sound like a song
My God/ this reminds me, of when we were young

Let me photograph you in this light/ in case it is the last time
That we might be exactly like we were/ before we realized
We were sad of getting old/ it made us restless
It was just like a movie/ it was just like a song

I was so scared to face my fears/ cause nobody told me that you'd be here
And I swore you moved overseas/ that's what you said, when you left me

You still look like a movie/ you still sound like a song
My God, this reminds me/ of when we were young

It's hard to win me back/ everything just takes me back
To when you were there/ to when you were there
And a part of me keeps holding on/ just in case it hasn't gone
I guess I still care/ do you still care?

It was just like a movie/ it was just like a song
My God, this reminds me/ of when we were young

Let me photograph you in this light/ in case it is the last time
That we might be exactly like we were/ before we realized
We were sad of getting old/ it made us restless
I'm so mad I'm getting old/ it makes me reckless
It was just like a movie/ it was just like a song

When we were young.
Words do not express thoughts very well. They always become a little different immediately after they are expressed, a little distorted, a little foolish.
(Hermann Hesse)

Monday

Iya ya.

Kemarin aku, seperti biasa menghabiskan sore dengan matthew. Sering pembicaraan kami malah menghilangkan nuansa percintaan antara sepasang kekasih. Sebaliknya kami berdiskusi tentang banyak hal random secara serius dan tidak jarang berakhir perdebatan tentang konklusi dari hal tersebut.

Aku bertanya padanya.

Matt, kenapa ya akhir-akhir ini banyak yang mengkritisi mahasiswa-jarang-turun-ke-jalan? Dan kenapa turun-ke-jalan identik dengan mahasiswa, kenapa hal itu kayak dibebankan, ditanggungkan pada mahasiswa, bukan anak SMA, sekolah... plus, kalau anak SMP atau SMA turun ke jalan malah dikritisi tidak dididik dengan baik. Kenapa, ya itu tadi, anggapan mahasiswa udah jarang turun ke jalan, lebih kelihatan kayak EO, konferensi, dll, itu negatif?

Dia menjawab.

Nah, itu, aku gak setuju.
Sekarang, mereka nuntut revolusi mental. Orang lampu merah aja mereka masih nerobos. Mereka turun, menuh-menuhin jalan, teriak-teriak soal asap sumatra, pulang-pulang mereka ngerokok di depan orang-orang. Itu cuman masalah waktu. Iya asap kebakaran lahan nelan banyak korban jiwa. Asap rokok juga, tinggal perbedaan skala waktu aja. Momen dimana bem-km teriak-teriak soal satu tahun kepemimpinan jokowi, saat itu aku pengen gantiin naik terus bilang ke mereka,

..he, ndi bus mu sing ket mbiyen mbo janjikke jare meh nggawe bus kampus?

Itu lho, semua itu ada prosesnya. Ketika mereka neriakin jokowi, ya mereka sama aja meneriaki diri sendiri. Lagian mereka itu neriakin kakak kelasnya sendiri lho, almamaternya sendiri. Jokowi kan lulusan ugm.


Iya ya.


Matthew menitikberatkan pada pencerminan diri sendiri dan solusi. Di akhir era orde baru, mahasiswa punya Tritura yang mereka perjuangkan. Itu salah satu bentuk dari solusi konkrit. And it works. Itu pun dengan garis bawah menyikapi kondisi pemerintahan yang mana telah 36 tahun dipimpin satu presiden mutlak. See, semua sama-sama bergerak, yang penting segalanyanya membawa impact sesuai tujuan awal, karena semua memang memakan proses. Yang duduk di meja-meja konferensi, yang berdiri di balik papan-papan kelas, yang mengetik jurnal-jurnal ilmiah, yang berdiri di atas mimbar, semua bergerak dengan caranya. Tinggal evaluasi dari impact yang diakibatkan. Ada yang langsung tepat sasaran dan terlihat. Ada yang berputar dan menunggu indah pada waktunya. Bukannya harus secara harfiah berani menyikapi pemerintah. Mari telisik dulu bagaimana kita bertingkah.

Selain itu aku juga mikir. Kenapa semua harus dijadikan paradoks dulu. Kenapa harus identik dengan term pemberontak dulu baru diikuti? Apa harus jadi anak jalanan, punya banyak tato, minum-minum baru dianggap peduli Indonesia? Apa harus beraliran kiri dulu baru ngubah Indonesia? Apa harus jadi underground atau sidestream dulu? Apa harus jadi kebalikan dari whitecollar dan manusia terpelajar dulu? Apa harus jadi diri sendiri dengan ngelawan norma dan kebiasaan masyarakat dulu baru bisa berontak dan ngritikin pemerintah, bicara soal moral? Disebut gak munafik? Disebut ini lho yang gak macak suci malah yang beneran peduli dan berani?

Gak bisa barengan tuh? Dengan merefleksikan keadaan diri yang baik, kita juga bisa berbuat baik untuk Indonesia kan. Bukan melulu soal munafik, real dan tetek bengeknya. Ironis gak sih saat orang yang peduli Indonesia identik dengan pemberontak, orang minum-minum dan berandalan. Bukannya memandang sebelah mata yang seperti itu (kecuali mereka yang memang jadi-diri-mereka-sendiri, bukan ikut-ikutan atau sekedar ingin dianggap memberontak dan berbeda). Mereka pun secara tidak langsung memandang sebelah mata orang-orang yang tidak memberontak karena dianggap munafik dan gak berani kemudian menjadi sebaliknya, semacam pembuktian tentang pemutarbalikan realita. Padahal semua ini dicerminkan dari diri sendiri. Nggak harus memberontak buat dianggap real. Gak harus jadi domba berbulu serigala dulu kan?

Tidak ada yang salah mengenai konsep idealis dan jadi-diri-sendiri. Namun saat itu sudah bergeser menjadi sesuatu yang secara implisit destruktif, hal itu patut dipertanyakan kembali.

Friday

Saat langit terasa teduh dan alam mengalun syahdu.

Kosong.

Kemarin aku merombak tatanan interior kamar kosku. Tatanan kali ini membuat ruangan menjadi jauh lebih luas dan lega.

Tapi kosong.

Tidak, aku tidak suka banyak perabot atau sesuatu yang terlalu berbau ibu-ibu. Maksudku, aku jauh lebih suka saat semuanya ada secukupnya, sebutuhnya dan sekeringnya. Jarang ada peralatan dapur—aku tidak suka ada ‘dapur di dalam kamar’. Aku juga kurang suka kasur berdipan, maka dari itu keluarga mencarikan kasur setebal 25 cm yang proporsional untuk diletakkan tanpa sanggaan papan.

Lalu aku punya lebih dari 2 cermin. Hal ini membiaskan ruang hingga terlihat lebih luas dan lega.

Tapi kosong.

Sama halnya dengan dipan, aku sangat membatasi penggunan benda berkaki lain seperti meja dan kursi. Aku hanya memiliki satu meja untuk meletakkan tv, tv pun aku memilih yang kuno koleksi tante. Membuatku merasa anak kos, bukan anak kuliah yang memindah kamar rumahnya ke kota rantauan. Hanya ada satu rak yang kuletakkan di bawah, tidak kugantung. Tidak kurusak tembok kamar dengan banyak paku. Juga tidak ada meja rias karena cermin beserta pigura-pigura kutata dengan meletakkannya sedemikian rupa. Aku sedang mencari kursi dakron berbentuk bola mlepem yang biasa digunakan lesehan. Tapi pun aku tidak terlalu membutuhkannya. Intinya, aku tidak suka membuang-buang ruang.

Aku selalu memasukkan jendela-yang-mengarah-ke-dunia-luar sebagai hal wajib pada daftar rikuairmen kos. Karena aku lebih suka cahaya matahari ketimbang lampu. Membuat aku merasa tidak terlalu mirip manusia-robot yang hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, terus melakukan dan hanya melakukan. Aku tidak ingin merasa sekosong itu.

Tapi kenapa sekarang malah aku merasa kosong. Sangat. Kosong.

Barusan aku bangun dari tidur-tidak-seutuhnya-ku.

Kupandangi celah pintu lalu berjalan kearahnya. Kosong.

Tidak ada suara.

Kududukan diriku pada undakan ubin.

Hanya ada bebauan dan suasana yang membuatku sesak. Bukan sesak karena nelangsa. Suasana ini terlalu ramah dan indah, membuatku semakin kesepian karena merasa sendirian.

Lalu bau itu melintas. Bau telur kecap goreng. Entah siapa yang tega membuatnya saat aku sedang rindu rumah. Bau sakral itu, berbaur dengan udara basah dimana hujan tengah menggantung—siap untuk turun, langit yang teduh, alam yang syahdu.. benar-benar musim yang sayang dilewatkan dengan kekosongan.

Aku rindu rumah. Aku rindu masa kecil yang teramat indah. Meski tanpa keluarga yang sempurna, hanya mamah tanpa papah. Meski aku pun rindu duduk di belakang mobil dengan papah, menikmati kota Bandung setelah hujan. Menikmati ibu kota di malam hari. Melihat mamah dengan papah bukan mamah tanpa papah saja seperti sekarang. Dan seterusnya.

Tapi aku juga rindu masa kecil setelah hanya ada mamah. Berkeliling jogja dengan tante-tanteku, adiknya mamah. Menyusuri tiap sudut kota saat belum terjamah ke-karta-annya. Saat jogja masih Jogja dan bukan Jog-jakarta. Saat pendatang-pendatangnya masih ramah dan melepas kemetropolitan kota asal mereka, membaurkan diri dengan kerendahhatian kota istimewa, meramaikan malam tanpa ingar bingar dan foya-foya.

Saat angkringan lebih berjaya dibanding kafe, hotel atau jedub-jeduban. Saat mahasiswa lebih sering mendatangi karya seni dan konser dibanding makan dan berfoto-ria. Saat kota ini memperkaya dirinya sendiri dengan budaya dibanding kemewahan harta.

Saat makan bakso di pinggir jalan setelah hujan terasa seperti surga. Saat makan brongkos di selatan istana terasa seperti cendera mata bernama rasa-kangen-jogja dan ke-jogja-annya.

Saat lebih banyak kendaraan umum dan sepeda kayuh dibanding motor dan mobil yang diisi hanya seorang penumpang yang membuat kota ini semakin meninggalkan jog menuju jakarta.

Saat deresan masih identik dengan sahabat-sahabat yang bercerita sambil minum jus.
Saat mahasiswa seni masih menjadi dewa-dewa yang karyanya menghiasi jalan-jalan.
Saat tanteku masih belum berkeluarga.
Saat aku masih kanak-kanak dan belum mengenal konsep mandiri.
Saat mereka masih mengajakku kemana pun kebebasan mengatas-nama.
Saat aku belum mengenal konsep ketidakcocokan.
Saat aku belum mengenal konsep memperhitungkan uang saku.
Saat ada teman di sekelilingku.

Saat....

Saat jogja menjadi tujuan pulang seluruh hati yang menantikan kebebasan.

Back again to the city where every heart sets free, kutulis suatu hari pada path saat berangkat ‘pulang’ ke jogja.

Keramahannya. Kerendahhatiannya. Kebudayaannya. Kesederhanaannya. Kemembumiannya. Ketulusannya. Ketahudiriannya. Keseniannya. Kecantikannya. Jogja, dan seribu alasan mengapa padanya disematkan kata istimewa.

Aku rindu merasa di rumah. Aku ingin keluar dari penjara bernama rutinitas, menemukan canda dan tawa di tetes-tetes kuah bakso di pinggir jalan setelah hujan.

Aku rindu melihat kelegaan saat langit terasa teduh dan alam mengalun syahdu.

Aku rindu sesosok sahabat yang gemar merakit kenangan pada celah-celah keserhanaan, yang padanya bergantung ketulusan.

Yang selalu ada, yang selalu mau, yang selalu rindu.

Ada di sekitar, mau meretas keadaapaan dari keapaadaan, dan rindu melagukan nikmat yang didapat cuma-cuma.

Di rintik-rintik hujan dan langit yang merekah.
Di sela-sela jalanan kampung yang ramah.
Di atap-atap rumah yang basah.
Di sisa-sisa hati yang resah.
Di sore yang indah.

Di kesederhanaan yang mewujud
rumah.

Wednesday

Menangis menelusuri artikel-artikel tentang Pak Raden.

Artikel lain:
Potret Kehidupan Sang Maestro Dongeng Pak Raden
Inilah Kisah Perjuangan Pak Raden Semasa Hidup dan Kecintaanya terhadap Si Unyil
Biografi Pak Raden - Pencipta Tokoh 'Si Unyil'
Mengkhidmati Pak Raden | pressreader.com | Jawa Pos (bisa login via twitter/google+)
http://pakraden.org/ | ternyata pak raden punya official website. ada yg ngunjungi nggak ya..
Twitter Pak Raden: @drs_suyadi

Video lain di YouTube:
Pak Raden: Jangan Malas (Full Movie)
Terima Kasih Pak Raden - "Mencari Kue"
Terima Kasih Pak Raden - "Selendang Sutera"
Sosok di balik Pak Raden
Tribute To Pak Raden | Hitam Putih 4-11-15
Mengenang Pak Raden | KompasTV

"Dia selalu mikir. Bagaimana anak-anak, bacaan anak-anak sesuai usianya. Beliau khawatir dan sedih kalau anak-anak bacaannya di atas umurnya dan didandani jauh dari usianya," ungkap Ratih saat ditemui di rumah duka di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, Sabtu (30/10).
Almarhum Pak Raden meninggal pada tanggal 30 Oktober 2015 pada pukul 22.20 WIB di rumah sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Pusat. Beliau meninggal pada usia 82 tahun. Rencananya almarhum akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Cipete, Jakarta Selatan.

Catatan Kaki Jodhi Yudono
KOMPAS.com — Beberapa hari lalu, di sebuah acara makan siang bersama beberapa kawan, saya mengatakan, betapa negara ini tidak pandai menghargai orang-orang hebat dan berjasa yang dimiliki negeri ini. Lantas saya pun menyebut satu nama untuk memberi contoh manusia luar biasa yang tidak memperoleh penghargaan yang layak.

"Drs Suyadi alias Pak Raden adalah salah satu contohnya," kata saya.

Lalu, saya pun bercerita saat saya mendokumentasikan beliau secara audiovisual di rumah kontrakannya di daerah Jakarta Timur pada tahun 2005, beberapa hari sebelum beliau menerima Anugerah Kebudayaan dari pemerintah. Saya tercenung cukup lama di ruang tamunya yang berantakan. Mengunjungi rumah kontrakannya saat itu, di Jalan Kebon Nanas I/22, Jakarta Timur, rasanya negeri ini telah berlaku "kejam" kepadanya. Bayangkanlah, orang dengan talenta yang luar biasa dalam bidang kepenulisan, melukis, menggambar, mendongeng, membuat film, tetapi hidupnya masih jauh dari yang disebut makmur. Tak ada barang mewah di rumah itu. Di ruang tamu cuma tampak pesawat televisi 14 inci. Lampu yang biasanya menerangi wajahnya kala ia merias wajahnya menjadi Pak Raden yang berkumis tebal dengan alis menjulang ke atas itu pun telah mati. Sementara itu, lampu penerangan di rumah tersebut memaksa pengguna kamera manual harus menurunkan speed-nya hingga pada angka 2 (dua) saat memotret. Di rumah kontrakannya yang persis berseberangan dengan pasar tradisional itu, Drs Suyadi tinggal bersama Nanang. Namun, begitulah, kendati ia memiliki seorang pembantu, tampak betul jika rumah tinggal itu tak pernah mendapat sentuhan dari seorang perempuan. Ya, hingga usia senja, tiada perempuan berada di sampingnya. Barangkali, memang begitulah suratan hidup Suyadi. Secara berseloroh, ia mengatakan, "Saya ini joko tuo sing ora payu rabi (jejaka tua yang tak laku kawin)."

Lihatlah seisi ruangan di rumah itu. Di ruang tamu, ruang makan, kamar, penuh dengan lukisan, sketsa, boneka, kertas yang berserakan, bekas cat, buku-buku, dan… kucing. Yang terakhir ini adalah makhluk "buangan" para tetangga yang sudah bosan dengan hewan piaraan itu.

"Ada sekitar 20, hasil 'sumbangan' para tetangga," kata Suyadi perihal hewan piaraannya itu. Dia mengatakan, para tetangga itu biasanya mencemplungkan kucing-kucing tersebut melalui pagar rumah tinggalnya. Setelah diberi makan oleh Nanang, biasanya kucing-kucing itu betah tinggal di sana, bersama Suyadi dan Nanang. Pemandangan rumah yang berantakan dan tak terawat ternyata masih terlihat beberapa tahun kemudian saat beliau telah pindah rumah tinggal. Rumah tinggalnya yang terakhir berada di gang sempit di daerah Petamburan, Slipi. Rumah bernomor 27 di RT 003 RW 04 gelap dan kusam. Halamannya yang tidak seberapa luas dipenuhi kaleng cat dan sisa-sisa kayu untuk membuat boneka. Kesan penuh juga ada di ruang tamu. Berbagai lukisan berekamkan cerita-cerita pewayangan dan boneka-boneka ciptaan Suyadi si Pak Raden memenuhi ruang itu.

Harus diakui, Pak Raden adalah tokoh multitalenta yang namanya terus bertahan hingga empat dekade. Sosok rekaan berwujud boneka yang berwatak feodal dalam film boneka Si Unyil yang pemarah dan selalu mengenakan belangkon serta tongkat. Sedemikian terkenalnya sosok Pak Raden sampai-sampai menenggelamkan nama Drs R Suyadi yang ada di balik karakter boneka berkumis yang suka berbahasa campur-campur, Jawa, Indonesia, dan Belanda.

Drs Suyadi adalah putra patih Surabaya di zaman Belanda yang lahir pada 28 November 1932 di Jember, Jawa Timur. Sebagai putra patih, ia dengan mudah menempuh pendidikan hingga lulus di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung pada 1960. Sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara, putra patih (penjabat operasional yang mengatur sebuah pemerintahan kota), ini juga dengan mudah memenuhi kegemarannya menonton film-film Walt Disney. Dari kegemarannya menonton film-film produk Walt Disney itulah, Suyadi mencintai dunia anak-anak sepanjang hidupnya. Karakter yang kuat dalam tiap tokoh Disney dinilai Suyadi amat luar biasa. Inilah yang kemudian mengilhami Suyadi membuat karakter-karakter nan kuat pada tiap tokoh yang ada pada film boneka Si Unyil.

Sambil berjalan tertatih-tatih ia pun dengan garang memoleskan warna ke kanvas. Tak lama kemudian, ia pindah ke meja lainnya. Kini, tangannya lincah menggambar. Sambil menggambar, ia pun bercerita. Lalu, Suyadi pun mengambil kertas kosong lainnya. Digambarinya lagi kertas itu dan diceritakannya kembali isi gambar sambil menulis kalimat di bawahnya. Begitulah cara Suyadi menulis cerita. Ia menggambar dahulu sebelum menulis. Hasilnya adalah puluhan buku anak yang enak dibaca sekaligus enak dipandang. Seribu Kucing untuk Kakek, Pedagang Peci Kecurian, Gua Terlarang, Joko Kendil, dan Siapa Punya Kuali Panjang adalah di antara puluhan judul buku karya-karya Suyadi.

Namun, kini Pak Raden telah pergi, membawa serta semua cerita bahagia dan duka. Bahagia lantaran dia adalah sahabat kanak-kanak sepanjang masa. Pedih karena negeri ini tak memberinya penghargaan yang layak. Tentu kita masih ingat, saat beliau melakukan "protes keras" kepada pemerintah pada tahun 2012. Sebab, setelah lebih dari 30 tahun sejak Suyadi mencipta Unyil, hak cipta Unyil dan kawan-kawan dipegang PPFN melalui surat kontrak Nomor 139/P.PFN/XII/1995 Suyadi sama sekali tidak mendapatkan royalti dari setiap penggunaan karakter dalam serial Unyil. Suyadi hanya dibayar mengisi suara Pak Raden.

"Sebelum meninggal, saya ingin hak saya dikembalikan kepada saya," katanya dalam konferensi pers di kediamannya kala itu.

Dengan protesnya itu, Pak Raden berharap bisa menyadarkan para pegiat seni agar nasib seperti yang dialaminya tidak dirasakan oleh penerusnya. Surat perjanjian bertanda tangan tahun 1995 itu, menurut Pak Raden, memiliki jangka waktu kepemilikan hak cipta atas 11 karakter dalam serial Unyil. Namun, di surat perjanjian selanjutnya tidak lagi dicantumkan jangka waktu kepemilikan hak cipta.

Pak Raden pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berjuang untuk hak cipta atas 11 karakter Unyil tersebut kepada Menteri BUMN waktu itu, Dahlan Iskan. Pertanyaannya, kenapa itu semua dilakukan sekarang? Dengan tenang, Pak Raden menjawab karena dia tidak lagi muda. Tidak seperti dulu ketika masih punya banyak sumber penghasilan. Kini, disiksa oleh encoknya, sulit baginya untuk bekerja seperti dulu lagi. "Saya tidak lagi bisa loncat ke sana loncat ke sini lagi," katanya.

Entahlah bagaimana kabar selanjutnya dari "protes" Pak Raden kala itu. Benar kata beliau, dia memang telah tua dan sakit-sakitan. Pada Jumat (30/10/2015) pukul 22.20 WIB, Pak Raden meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat, karena mengalami infeksi pada paru kanan.
Selamat jalan Pak Raden...
i want a word for the almost-home.
that point where the highway’s monotony becomes familiar
that subway stop whose name will always wake you from day’s-end dozing
that first glimpse of the skyline
that you never loved until you left it behind.

what do you call the exit sign you see even in your dreams?
is there a name for the airport terminal you come back to,
comfortably exhausted?

i need a word for rounding your corner onto your street,
for seeing your city on the horizon,
for flying homewards down your highway.

give me a word for the boundary
between the world you went to see
and the small one you call your own.

i want a word for the moment you know
you’re almost home.
You can ask the universe for all the signs you want, but ultimately, we only see what we want to see when we're ready to see it.
(How I Met Your Mother)

Monday


Walaupun banyak negeri kujalani, yang mashyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku merasa tenang
Tanahku tak kulupakan, Engkau kubanggakan..

".. Dan Indonesia itu gak jelek. Tapi emang ga sesempurna yang diceritain ke kita di buku pelajaran. Masalah kita tuh cuman satu; ada temen gue dari spanyol namanya Miguel, dia bilang, “Indonesia is not a poor country. It’s a rich country, poorly managed. Dan itu betul. Kita tuh ga mau turun tangan nih, untuk ngeberesin Indonesia pemerintah aja yang kita suruh, karena kita pikir itu kerjaan mereka. Padahal itu tanggung jawab kita juga, lu tinggal di negara yang sama gitu.

Gue udah pernah liat Tembok Cina, Tembok Berlin, Hollywood, Big Ben pake mata kepala gue sendiri. Dan semakin jauh gue ninggalin Indonesia, semakin banyak yang gue lihat di dunia, gue tuh semakin kengen, dan semakin sayang sama Indonesia. Sama hal-hal yang kalo di tanah air ga pernah kita angap; seperti.. suara tukang kue putu tengah malem, handalnya tukang ojek dan pasar kaget yang kadang-kadang kita suka sebel sama baunya, tapi saat ini warna-warninya, dan seru-serunya kebayang-bayang gitu ..

Indonesia itu gak sempurna. Tapi dia layak diperjuangkan. Gue gatau nih rencana lu ke depan apa. Tapi moga-moga kita ketemu lagi. Lu dan gue, kita yang bangun Indonesia. Pake tangan kita sendiri. Kita yang memakmurkan negeri kita.

Yang bikin Indonesia jadi mandiri."

Sunday

Nggak Tahan!

Dulu, sewaktu kecil, aku bermasalah dengan imajinasi yang nggak-nggak.

Aku sering gugup berlebihan dan berdoa sungguh-sungguh hanya karena sebelum tidur, aku melihat keran air di kamar mandi masih menetes satu-satu setelah dimatikan. Aku takut bakal banjir. Aku takut kita semua akan tenggelam dan mati.

Beranjak dewasa, aku mengenalnya dengan term: parno.

Suatu pagi saat diantar mama naik motor ke sekolah, aku bilang, "Ma, cita-citaku pengen buat rumah buat orang yang gak punya rumah, nenek-nenek tua dan kurus kering yang biasa jualan koran panas-panas, kakek-kakek tua kurus kering yang masih narik becak kayuh. Yang mungkin setiap pagi kita lewat, belum makan. Di situ mereka bisa tidur, makan, mandi. Pokoknya gak sedih.."

Beranjak dewasa aku mengenal sebutan rumah yang seperti itu: rumah singgah.

Aku sering menangis melihat orang-orang tua berjualan di pinggir jalan, di bawah panas yang menyengat mengayuh sepeda menjajakan jasa sol sepatu, mendorong gerobak bakso yang belum tentu laku, mengusahakan hal-hal yang mungkin tidak berpenghasilan seberapa dibanding semua jerih payah yang mereka lakukan.

Aku suka tahu asongan yang dijajakan di terminal bus solo. Biasanya tanpa pikir panjang aku langsung menyodorkan uang lima ribu rupiah pada penjual pertama yang lewat untuk mendapat 3 plastik tahu. Suatu hari saat aku melakukan kebiasaanku itu, setelah memakan habis ketiga bungkus tahu tersebut (ya, kurang lebih lima belas menit aku bisa melahapnya habis), masuklah serang kakek yang sangat kurus, renta dan serak menjajakan tahu asongan. Aku membeli seharga sepuluh ribu. Meskipun aku tahu perutku tak muat lagi. Aku menangis dalam hati.

Beranjak dewasa, aku mulai menyortir orang mana yang akan aku beli dagangannya di bus. Aku akan memilih yang sangat letih, sangat tua, dan masih banyak dagangannya. Terlihat sangat jahat ya, 'memilih'. Padahal belum tentu dia yang paling menderita. Bisa aja cuman macak, iya kan? Entahlah, aku selalu dihantui rasa bersalah jika melihat mereka.

Aku bermasalah dengan empati yang kadang tidak terkontrol. Suatu siang, saat menunggu transjogja di shelter depan kampus untuk pulang ke ponorogo, aku melihat ada nenek-nenek yang sudah sangat tua menggendong keranjang anyam besar berjalan melintasi trotoar depan fakultas. Aku hanya menatapnya terus. Dadaku terasa sangat nyeri. Kemudian ia bertemu dengan undakan trotoar.. dan.. berhenti sejenak. Kira-kira empat detik lamanya ia berusaha menapakkan satu kakinya ke undakan tersebut. Dengan segenap hati, aku sudah siap untuk keluar dari shelter saat itu juga meski itu dilarang dan uang tiket masukku ludes. Aku tercekat dan orang-orang dalam shelter melihatku melihat pemandangan itu. Hampir saja aku keluar, nenek itu akhirnya bisa menaiki undakan trotoar itu. Tidak sedetik pun kualihkan pandanganku dari nenek itu sampai ia menghilang dari pandangan. Melihat pakaiannya yang masih kebaya, kutebak ia sebenarnya baru turun dari bus kota di ujung jalan. Aku bertanya-tanya, kemanakah ia pergi? Menjual dangangannya? Tapi siapa yang akan membeli? Kali ini aku sungguhan menangis. Kucoba menelepon Matthew untuk menanangkan diri tapi tidak diangkat. Kemudian transjogjaku datang.

Setiap melintasi Kota Solo, aku melihat banyak pemandangan serupa. Kakek-kakek tukang ojek yang bahkan tidak memakai sendal, berlarian mengejar para penumpang yang hendak turun dari bus dengan mata berbinar-binar....yang hilang seketika saat tidak ada yang menyambut tawaran jasanya. Bapak tua berkemeja, sepatu lusuh dan tatapan tulus yang...menjual mainan..

Nenek-nenek renta penjual koran...

SUNGGUH, KEMANA ANAK-ANAK MEREKA PERGI?!

Aku mulai berpikir... bagaimanakah kehidupan mereka pada masa muda? Mengapa mereka bisa seperti demikian, apakah karena kondisi dan suatu keadaan yang tak tereelakkan, apakah mereka kurang berusaha semasa mudanya, ataukah karena mereka malas, ataukah karena pereka dulunya pemabuk dan suka menjadi erandal jalanan.. dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini Jogja panas sekali. Barusan, aku pergi ke indomaret untuk membeli teh pucuk dingin. Kemudian kulihat di emperan, seorang apak-bapak penjual kerupuk sedang tidur, beristirahat sambil menunduk. Topi capingnya masih bertengger di kepala. Di sampingnya ada tas, dompet, air mineral dingin yang setengah terisi. Mungkin sudah di minum. Ia kelihatan lelah sekali. Padahal dua karung kerupuk yang sangat besar masih penuh terisi.

Aku.. tidak.. tahan.. lagi..

Bagaimana mungkin aku bisa naik motor, mengenakan jaket apik, memegang hape, dan makan enak saat masih ada orang-orang seperti itu? Bagaimana mungkin bisa kita naik mobil ber-ac saat masih ada bapak-bapak tua yang mengayuh sepeda untuk menjemput anaknya di bawah terik matahari? Bagaimana mungkin aku bisa membeli sepatu baru saat bahkan banyak orang-orang di luar sana yang bangga akan sepatu pantofel bututnya, berkata itu sepatu terbaik yang dimilikinya? Bagaimana mungkin teman-temanku dengan mudahnya membeli iphone 6 s setelah memilik iphone seri sebelumnya saat bahkan nenek-nenek dan kakek tua di luar sana tidak bisa menghubungi anak-anaknya?

Aku tahu orang-orang belajar mencari ilmu dan mengusahakan masa depan serta kesejahteraan bagi bangsa ini. Tapi semua itu butuh proses, tidak akan bisa menyentuh permasalahan sedetail dan secepat itu. Aku hanya tidak sanggup lagi. Aku tidak sanggup melihat ini semua.

Saturday

Thursday

Midnight Thoughts.

Certain songs. Aku nggak terbiasa buat mendengarkan lagu hanya berdasar pada kondisi hati saat itu aja. Mendengarkan lagu romantis saat sedang jatuh cinta. Mendengarkan lirik mengiris saat ada nyeri di dada. Mendengarkan hanya karena gelombang yang merambat nyaman di telinga.

Menurutku, lagu yang baik mampu bercerita. Membawa orang-orang ke tempat yang belum pernah mereka kunjungi, pada kisah-kisah yang menjadi milik lagu itu sendiri. Menurutku, lagu yang bisa impersonate people's feelings sound great. Tapi hanya lagu jenius yang bisa membuat orang yang mendengar merasakan apa yang diceritakan lagu tersebut, bahkan saat orang itu sedang tidak mengalami perasaan yang sama.

Aku punya sindrom suka memikirkan jutaan potong gambar saat mendengarkan lagu, terutama saat sedang berada di atas kendaraan--entah yang belum atau sudah terjadi, mungkin lebih sering belum terjadi. Mungkin bukan aku aja. Kadang, dan hanya pada saat-saat yang istimewa, aku bertemu orang-orang yang merasa dan mengalami hal serupa. Dan betapa nyamannya saat-saat itu, bersama dengan orang yang berbicara dengan bahasa yang sama. Nada-nada, irama, ketukan yang serupa. Seakan kata-kata hanyalah satu di antara ribuan sarana. Seakan-akan, hanya dengan mendengar lagu yang sama dan memejamkan mata, kemudian membayangkan hal yang sama, membuat waktu seakan berhenti selamanya.

Ini beberapa judul lagu yang beberapa minggu terakhir aku dengerin.

Kodaline - Way Back When
Kindness - Swingin Party
Chick and soup - Favorite Afternoon
Of Monster and men – Lakehouse
My Chemical Romance - Summertime
Lifehouse - Nobody Listen

Nggak semuanya baru, nggak semuanya baru aku tahu. Summertime misalnya, adalah lagu yang pernah jadi bagian dari seseorang dari masa lalu. Lagu-lagu lama, lagu-lagu baru, aku nggak peduli. Aku sudah berada pada titik di mana mengikuti apa yang sedang dunia gandrungi bukanlah hal penting lagi. Hari-hari ini, aku mulai merasakan masa remajaku sedikit demi sedikit menghilang. Masa remaja itu seakan berhenti. Tapi aku tetap berjalan. Seperti larva yang keluar dari kepompong, tersendat, karena ternyata diganjal sayap. Kepompong itu berhenti, tetap ada, tapi aku udah nggak bersemayam di dalamnya. Aku merasa mulai memiliki alur waktu sendiri, yang berbeda dari sebelumnya, mungkin juga berbeda dari orang-orang lain yang lewat di sekelilingku. Aku sudah tidak terlalu bisa merasa apa yang mereka rasa, tidak tertarik dengan apa yang menarik mereka, dan tidak merasa perlu mengikuti lagi. Aku merasa punya dimensi sendiri. Bukan lagi di dalam kepompong. Tapi di udara bebas. Yang justru pada kenyataan, berparadoks lebih memiliki batas dibanding dunia dalam kepompong. Yang lagi-lagi, juga bisa kutemui pada orang-orang yang mulai menjalani hidup sebagai pribadi yang.. dewasa. Atau mungkin aku hanya lelah jadi remaja. Dan ingin menjadi dewasa.

Menyenangkan, melihat bagaimana dunia bekerja. Ikut mengetahui apa yang semua orang lain tengah lakukan dan alami. Berkendara di jalan yang berkelok-kelok, tertawa, lagu-lagu menemani mereka.. Senang rasanya masih ada orang-orang yang tidak lupa untuk berbahagia dan merasakan waktu yang seakan selalu memburu.


Terlalu banyak hal yang kualami di usiaku.

Aku suka berpergian. Sejak orang tuaku belum bercerai sampai sekarang, rasanya berpergian sudah menjadi bagian dari hidup itu sendiri. Di dalam kandungan aku sudah merasakan berpergian di atas awan. Di umur 3 aku sudah menjelajahi Institut Seni Indonesia dan berkenalan dengan beberapa orang yang sekarang megah berkarya. Tanpa papa mama. Di umur 4 aku sudah membuktikan borobudur memang pantas dinamai keajaiban dunia, musim hujan kota bandung, hotel berbintang di ibu kota, indahnya pantai-pantai bali, menyakini jatim park merupakan miniatur indonesia, dan betapa menenangkan melihat sinar matahari pagi menembus pepohonan dari balik jendela. Duduk di bangku SD, salah satu kerabat mengenalkanku pada seorang profesor di Surabaya. Mama bilang aku harus pindah sekolah ke Surabaya yang bisa melayani kelas akselerasi, karena dari beberapa tes dinyatakan bahwa aku memiliki IQ di atas rata-rata anak seusaku dengan kemampuan membaca, menulis dan memahami cerita.

Aku dibawa ke seminar-seminar. Tapi hal itu menghancurkanku. Aku tidak suka diperlakukan seperti itu. Aku tidak tahu apa-apa. Konsep kompetisi, konsep jenjang pendidikan, pengekangan, kewajiban. Saat itu kelas akselerasi tidak sefleksibel sekarang. Mungkin belum matang, apalagi untuk jenjang sekolah dasar. Aku tertekan. Bullying masih merajalela. Belum genap 2 tahun, aku pun (memaksa) kembali ke kota asalku dan mengulang sekolah dasar.

Aku mulai kembali menjadi diriku.

Sejak kecil, aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak aku suka. Terutama jika dipaksa. Meski aku bisa, aku tidak mau. Meski aku mampu, aku tidak mengusahakan.

Memasuki SMP, aku beruntung bertemu dengan dua guru yang sangat mendukungku. Mereka selalu mendorongku dan sangat memercayakan padaku hal-hal yang bahkan tidak aku yakini. 6 piala tidak akan kubawa pulang tanpa paksaan, tanpa dorongan (dalam arti sebenarnya). Tanpa mereka aku tidak akan repot-repot mendapatkannya. Sungguh. Sudah kubuktikan di bangku SMA. Hanya satu piala, itu pun karena untuk mengikutinya aku diminta. Tidak terlalu ada usaha, iseng, dan hanya membawa pulang juara tiga. Setelah itu pun aku tidak berminat mengikuti lagi.

Aku masih tidak melakukan hal-hal yang tidak membuatku tertarik. Tapi saat hal itu datang, butuh modal dan peralatan untuk membuatnya, menjadikan dan mengembangkannya. Film pendek misalnya. Aku bisa, dengan alat seadanya pun bisa. Namun aku biasanya memikirkan hal yang membutuhkan benda-benda yang lebih dari apa yang ada. Karena, to be realistic, triger videography, industri kreatif dan sejanisnya, selain butuh kreativitas dan lingkungan sosial yang mendukung, juga utuh alat-alat sophisticated terntetu, yang butuh duit hahahaha atau beberapa potong keberuntungan. Ga deng hahah i'm on my way for it. Doakan ya. Sedang menggodok dan menyusun 'peta' baru, jalan yang akan sedikit memutar untuk bisa kembali ke jalur passion awalku. Nggak mudah dengan kondisi yang serumit sekarang, but i know it is a process.


Sebenernya sampai sekarang aku bertanya-tanya, mengapa aku tidak mempunyai ambisi. Terutama ambisi untuk menang. Meski aku bisa. Meski aku mampu. Atau mungkin aku adalah seorang pemalas. Kemudian aku bertanya-tanya. Apakah 'ambisi' dan 'menang' ini memang refers to the race di dalam 'stadion'ku yang itu aja? Berarti aku sedang masuk ke stadion yang salah? Engga. Sepertinya, seluruh dunia ini bisa dianggap semesta. Dan setiap individu berhak untuk memilih menjadi anggota himpunan yang mana. Kita sedang tidak berkompetisi jika bahkan permainan yang kita ikuti berbeda. Mungkin memang ada permainan induk yang terbesar (dan terkompleks yang pernah ada) bernama semesta, di mana terdapat, dalam konteks ini, human race itu sendiri. Tapi di dalamnya masih ada jutaan himpunan. Dan menilik kasusku sebelumnya, kelumpuhan karakterku, karena aku mungkin memforce diriku sendiri untuk tetap berada dalam suatu himpunan yang tidak seharusnya. Karena saat aku ditugaskan atau mengerjakan bidang yang sangat aku suka, aku justru kelewat perfeksionis dan seliar kuda. Dan to be somse, memang banyak yang suka. Sayangnya, hal-hal ini dianggap tidak penting oleh orang-orang di sekitarku yang sebelumnya. Hal-hal yang mungkin bahasa gaulnya sidestream. Underground. Gak prestisius dan gak bisa bawa ke luar negri. Bukan konferensi, bukan prestasi ilmiah, bukan kecerdasan matematis, bukan kecerdasan tampil di muka umum. Suck.

Sampai Pak Dibyo menemukan tulisanku. Dan beliau tertarik akan 'keanehanku' ini. Suatu saat ia mengumpulkan tulisan-tulisan kami. Dari setiap kelas, biasanya dipilih 3-4 karya. Dari kelasku ada Puput, Nana, Reyhan dan aku. Pada beberapa kesempatan setelahnya beliau (yang genar mendiskusikan banyak hal) kembali menyinggung hal-hal itu. Pada suatu pembicaraan beliau mengungkit soal pendidikan dan sistemnya, outputnya dan implementasinya. Beliau kemudian mengutarakan bahwa aku menarik. Beliau mendengar dari guru lain tentang kemampuan akademisku. Aku sangat menonjol pada suatu hal, tapi sangat kurang di suatu hal lain. Kata beliau di depan kelas, seharusnya orang sepertiku sayang kalau bersekolah di sistem seperti ini. Harusnya aku bisa berkembang dan jadi diriku sendiri pada sekolah khusus. Terutama yang menganut sistem liberal arts. Semoga bukan samaran halus dari sekolah luar biasa ya.

Beberapa hari terakhir aku meminjam buku-buku yang berbeda dari biasanya. Kisah-kisah yang, meski dua, tiga tahun terasa lebih muda, membuatku segar. Seperti memugar kembali perasaanku. Seperti mengingatkan aku tentang arti hal yang dimiliki manusia: rasa.

Mungkin produksi hormon oksitosin, dopamine atau norepinephrineku jadi meningkat. Meski ceritanya bukan ceritaku, kadang tanpa cerita-cerita yang demikian dunia terasa seakan terlalu serius dan terburu-buru. Penuh. Penat. Yang nyata terasa fana. Hidup seperti hanya mengejar masa depan, dan melupakan, mengabaikan hari ini. Bahagia terasa sangat jauh, jauh di depan. Aku hanya ingin.. merasa bahagia sejak sekarang, setiap hari, hingga nanti. Nanti yang sudah ditentukan.

Suatu hari aku terbagun di kamar di rumah.

Pagi itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan dengan diriku sendiri. Melewatkan waktu bersama, mengobrol dan bercerita bersama. Betapa cepatnya lima tahun berlalu. Betapa banyaknya orang-orang yang dulu ada pergi. Betapa banyak wajah-wajah baru yang singgah. Betapa banyak hal-hal yang seharusnya terjadi. Berapa banyak kesempatan yang terlewat. Berapa banyak mimpi yang tetap menjadi angan. Seberapa jauh jalan yang sudah ditempuh. Seberapa cepat. Seberapa jauh lagi. Seberapa dekat. Sampai-sampai aku takut. Meski tidak lebih takut dari fenomena bernama overpopulasi dan hukum eksponensialnya.

Pagi itu kulalui bersama diriku, pikiranku, perasaanku, jiwaku, ragaku, harapan dan angan-anganku.

Perjalanan, menurutku, bisa ke mana saja.

Tapi perjalanan ke dalam diri sendirilah yang paling mengesankan. Perjalanan ini, mengorbankan banyak hal. Sekaligus melegakan. Ego, keangkuhan, rasa bersalah, penyesalan, penyangkalan, dan penerimaan. Segala dimensi dan hukum dunia seakan menciut, menyusut. Manusia lahir setiap hari, dan mati setiap menitnya. Manusia-manusia lain sibuk menafsirkan pesan-pesan pencipta. Menebak, mencari,  menemukan, mengembangkan. Agar membuat diri mereka berguna, berarti, bernilai. Tapi apakah ini alasan mengapa dunia ada? Menciptakan peradaban? Yang pada akhirnya akan........musnah? Banyak orang yang sukses menciptakan materi, lalu bagaimana kabar mereka setelah mati? Apa yang mereka lakukan? Akan kemana kah kita jika seluruh hal sudah ditemukan? Penghargaan, nobel, keliling dunia, ke luar angkasa... ke luar galaksi, menembus kecepatan cahaya.... sampai manakah manusia mampu membatasi dirinya? Atau, terbatasi oleh yang Ilahi? Ataukah batas yang kita ciptakan di dunia menentukan seberapa jauh kita akan pergi setelah meninggalkan keterbatasan itu sendiri? Setelah mati? Ataukah tepat di ujung hari kita menjalani kehidupan, yakni sesaat sebelum kita meninggalkan keterbatasan, akan ada sebuah tanda, piala, tentang seluruh hal yang kita lakukan di dunia?

Siapakah yang pertama kali menciptakan konsep cita-cita? Angan-angan? Karena hal itulah yang membuat jiwa tetap mengisi raga untuk menjalani kehidupan. Sebuah konsep yang naif, tapi adiktif. Sebuah konsep yang materialistis tapi dinamis. Sebuah konsep yang... teramat sangat.. besar.

Monday

Logika akan membawamu dari A ke B.
Imajinasi akan membawamu kemana pun kau mau.

-Albert Einstein

Thursday

Monday

Pernah gak sih dalam suatu waktu, you've been this way for long time, thinking you've done these whole things alone, but one day, you find that apparently your idol thinks and writes and sees the way you exactly do. BAM.

Aku kenal Olga Elisa menjelang akhir tahun 2014. I accidentally saw her post on my following likes-feed, and I directly stalked her home feed. Wow, I love her visual perspective, like how she sees through things and constructs her feed to be a delicious brain digest and nutritious for the visual cortex. And she writes too. And she blogs. And her simplicity (i knew the number of the so called monochromatic style and endorsement and celebgrams are increasing these days, and that everyone is going to be on their own path being a new visual celebrity with these fancy model-look or traveling feed, i've seen so many women users been done that awhile) but hers is natural, original and, honest.

I once felt so connected with her but, I was not in that level to stalk further (like to her blog or profiles), I just loved having hers on my feed (bc i rarely follow celebs and or nonsense user such cantik sana cantik sini--I had, but I stopped last year hehe).

Until I unfollowed her.

And she came to a talk held on a literally-300-meters-away-from-my-bedroom venue. And I didn't come. And my friend, who has actually recognized her later than me (padahal dia join the community duluan) took a photo with her, posted it on instagram, and I was like.. chatted him at second.

That damned evening, I had nothing to do on my bedroom, feeling lonely and useless and unproductive, and unfortunatelyy, left a very hot event held nearby.

Then I began to be so curious about the lady. Then BAM.

What she writes on blog, about herself, the way she answered the interviews, bring me away on de javu. It's like I have written my own and thought and seen the same exact way as hers.

Then I went more on what she is doing. I visit her linkedin, and stalk her job, her foundations and, I also would never guess I did so, googled her kind of job's salary.

I found my self. This can probably save me!!! I've been kind of lost these days, stressing out on the fact that I will do accounting for money on my whole life, and it's really haunting me, and I started to freak out. No. I do my grade very well, but I do not like to do this actually. I know, it's a shame. You will see me as an immature young lady who's been living a life she's totally not.

At young age, I learned that I should be the one I want to be, the one I've been dreaming of. At the juvenile, I learned that society will force you to be whoever they want you to be and it's called reality. That learning philosophy is a total vain, and creating cool videos and writing won't really makes you a thing. It's not enough. You should aim more real, be that one, and creating your own fairy tale.

And reality hits me deep down on the deepest depth. That I fall on the accounting choice. Because it makes money, and people need you more when you are going this way.

How about my passion of books, and movie, and musics. Well every people also loves it. And they can become expert on it practically. And being the one who thinks it will be your life looks unreal. BUT I LOVE PEOPLE. I LOVE WRITING. I LOVE CREATING A MOTION PICTURE. I AM EXCEEDINGLY IN LOVE IN DIGITAL AND MODERN ARTS. And I am not an expert of em all. I just twice or some times made a people-said awesome videos, and succeed a concept and teamwork of self-done coolest yearbook of four years, and wrote a people-liked stuffs. And this is wrong. I don't have enough money to buy the cooler mirrorless camera, or macbook, or theory of the good film-making, or an adsensed blog. I haven't manage them all in a proper way. But there are so many people who loved the things that I love and they strive for it or maybe use their money to make it happen.

But I just went for another direction. My family keeps asking me why and why, 'you should have been choosing communications, or film course at ISI (i actually applied but left it for my current major), or visual communication design.. or matthew keep asking me to set a plot and start writing a cool book, and or my seniors and juniors keep wondering why am i not going for loans and studying on Jakarta or somewhere else that have a bigger deal for these stuffs.

I just keep doing my best on accounting. Then I found Olga Elisa. And I feel I found myself back.

She once said on an interview,

What is your true passion and vision in life?
I’m a person with big dreams and I'm passionate about many things; art, design, literary, people, and digital stuff! But when it comes to my life vision, I want to live a slow living life, someday, somehow. Just like most people today, we tend to lose the real meaning of the life we live. We talk about targets, strive to reach achievements, while time ticks as a burden as if it is chasing us down. I want to fully appreciate and enjoy life and what’s within, with no excuse. Doing what I'm passionate about is my bridge towards my vision.

and this other interview, which I have written on my bio too! EXACT THINGS.

My happiness is just as simple as good book, good movie, and good music. Saya hobi membaca dari kecil, dan terkadang saya juga menulis, walaupun cuma sekedar nangkring di blog.
Untuk film, saya suka film dengan gambar yang brilliant seperti Amelie dan film - filmnya Wes Anderson. Musik, teman-teman bilang saya cukup random, karena playlist favorit saya berisi lagu-lagu Bobby Caldwell, Simply Red, Sade, Incognito, Earth, Wind, and Fire, tapi tiba-tiba ada lagunya Naughty Boy (hahaha..red)

and on her blog,
Olga Elisa.She claims herself as a full time human who lives in the idea of God’s imaginarium. Frequently caught denying reality, she shares all of her thoughts and imaginations trough words, photographs, or maybe your head.

Jadi siapa sih dia ini?
Olga Elisa adalah seorang sarjana arsitektur lulusan UGM, yang memutuskan untuk menekuni bidang digital, marketing dan branding sebuah yayasan NGO bernama YACB Foundation (yayasan Cinta Anak Bangsa Fd). Dia juga merupakan Founder dari Do Something Indonesia, sebuah program asal USA yang kemudian berafiliasi di beberapa negara dan berfokus pada perubahan sosial bagi kalangan anak muda.

And a summary on linkedin which becomes the most mind-blowing thing that has hit me hard:

Right after I graduated, a prospective employer once ever laughed at me, as he said; 'So you graduated from architecture school, and now running business in digital world while being a freelance photographer, then applying for this sales position? You're losing orientation.'​
 

At the moment, I was struck by his words, and it remained in my head for a pretty long time afterwards. It made me rethink about what I really want. Positively talking, it was such a wake up call to get to know about what my real passion is at the first place.
 

I realized that I always enjoy being in the realm of creativity and strategic thinking. I believe that being demanded to think out of the box is one thing that keeps human alive. Yet, to be able to produce a work that people can enjoy and create impact for others is another noteworthy thing.
Deciding to dive in quite different world from my education background, I tend to be an observer and a self learner. I've been working in many jobs, both as a full timer and freelancer; digital specialist, social program coordinator, freelance social media consultant, freelance market researcher, freelance photographer, and freelance content writer.
 

Feel free to reach out if you want to talk about one of those areas.
 
Specialties: photography, social media strategy, marketing strategy, market research, trendspotting, social campaign, community development, graphic & branding design, content writing.

Sunday

Friday

Where do you think I fit into?

I genuinely love the idea of idea itself. I love observing people and their minds, their creations, then I usually curate them into journals and notes and, whenever I go, thru or passing by these cute artworks or maybe quotes or books, or even some lovely settings, architecture, photographs, visual, I keep it in my scratches notebook. I love creating the ideas, I love sharing them, mostly in visual motion or pictures, and words, and combine it with some particular musics. I love seeing things. Wondering things. Noticing my surroundings.

I love being in-charge in certain projects and works that contain arts, visual, dynamic production with creative people and collaborating the thoughts, the soul together. I really enjoy reading. Words, quotes, again―ideas, stories, thoughts, philosophy, idea again.. mostly the very basic idea why we are here, alive. breathing. thinking. feeling.

For me body is only a medium. In this dimension of space and time, you need this body system to be not considered as ghost. But soul is everything. I mean, your body without a soul remains a corpse. Without body we're only floating spirits, but a body itself also has imprisoned our souls. It cuts some possibilities. It helps our souls to do lots of things, but in the other consequences it limits ours to do other things. We called it the adverb: physically. An the noun: reality.

Talk about this space and time dimension, so, the idea of travel the world is irrelevant anymore (?) I mean, look, with a vivid retina display screen notebook and very good quality of wifi, we can travel the world. Our mind experiences it. We can type and google and surf and stream to wherever we want, we can take a look, follow the updates and whatever happens there to seconds, we'll be able to know oh there is this thing, and that one too and so on. But not real, not physically.

Actually we can follow the class. No, we can't. We only follow the matter, the books or modules or theme they are talking, but we won't experience and even happen to hear the real voice of the lecturers, speakers, and their accent and the competitive atmosphere right there at time---wait, we can do video calls or long distance interaction, but again not physically. I mean, our indras (eyes, ears) do, but not physically, we're not there, it's virtual. Not real. Dimension limits us, our body is only a medium. It's basically known by: not at all.

So, back again to my thought about body and soul. Body helps the soul as the medium. But the soul itself, the most vivid soul belongs to they who awaken the minds to create ideas. So idea is the very inner core, essence of our lives. I mean, this kind of life on earth is very short and temporary, and we'll live in this other next level called forever in another dimension. I dont know what stuffs belong to that dimension, if it's still time and space or maybe anything, I literally can never guess.

But really, God gives us this common sense of mind, idea, reason, intellect or whatever you call so we could be distinguished from animals. And this common sense help us to grow the knowledge, the society, the civilization, the culture. And value. And money. And there was Adam Smith and there was Karl Marx. And then the capitalism happened. And the world is getting creepier today, for everyone's ruled by it. Intellect's bought. Moral's bought. The idea's bought. Well there are still plenty doing school and college for passion, for their exceeding curiosity for education and knowledge, for building the self esteem and actualization as it was placed on the top of Maslow's hierarchy of needs.. And still, everyone think people who takes major in philosophy is vain, regardless of Socrates, Plato, Aristotle.. who taught us the basic of knowledge itself.

People think of job and working and money and prosperity, and capitalism takes over the society and knowledge, and people start to just live and work, time is money, no need to look around and breathing, and keep achieving, running, forgetting to enjoy the road, attempting to enjoy the top of the road, which is the end, and then.. well, it works differently depends on the people. Some enjoy sitting along, reading the newspaper and books and brewing coffee. Some stress over the doing-nothing in their old days dealing with a very productive and intense young lives.. your body, which is limiting your mind and soul, will not let you travel the world and walk along the most extreme, exotic and private beach.

You are not just living, and working, and keep moving, and dead. You need to L I V E this life. Instead of wasting your time, you will curse yourself for having a very limited time, and limited will of the body, at your old days. Or if you even don't mind the limited time just to remember and tell your grandchildren the golden days of the younger you. It is up to you.

I don't say you must stop working and achieving. I don't say you should waste your whole time to think and notice the lives. I suggest you not to forget on balancing your life.

And die with no regret.

She is genius.


Tuesday

“I believe the universe wants to be noticed. I think the universe is inprobably biased toward the consciousness, that it rewards intelligence in part because the universe enjoys its elegance being observed. And who am I, living in the middle of history, to tell the universe that it-or my observation of it-is temporary?”
John Green

Monday

A DIET REVOLUTION

Good morning.


I just wanna make some quick post. Well, yeah, holiday has made me gaining some weight and to be honest, it is not about being fat or ugly or not being pretty, skinny, etc. ButI don't know, just how a few weeks, in case less than 3 weeks, my body could change so fast. Like how strong, how bad the fat did I eat? How many carbs intakes I had?

I, then, feel unhealthy. I have done the eating mistakes for real here in my whole life.

No diet never means the recipe of getting skinnier. It is always a world's first mistake. Grandma told me this big deal when I was 8 and instead of most people here in Indonesia think, dictionary said:

ˈdīət/
noun
noun: diet; plural noun: diets

1. the kinds of food that a person, animal, or community habitually eats.
2. a special course of food to which one restricts oneself, either to lose weight or for medical reasons.

Well, it's the way you eat. An obese person, he also has diets. Maybe eating junks and high cholesterol foods everyday.


Until on the last Monday of September, I went to the wholesale market. An these were what I bought:
A pack of Green Tea (Brewed)
A pack of Oatmeal
A sack of Brown Rice.

While here is my current daily digestion:
/Breakfast/
At the morning I drink 2 glasses of Mineral Water until one day it ought to be 12 at minimum and 3 liter as wished.
I brew the green tea (lenten)
Then I cook a bowl of Oatmeal (also lenten because I don't blend it with milk, it would make me even bigger)

/Lunch/
Because I am not a vegan, so I still go to the faculty cafe, and instead of eat nothing I buy a plate of:
1. The veggies: kale (my favorite), broccoli soup, or whatever it offers that day
2. The vegetal side dish: especially dried tempeh, or tempeh bacem, or for real, the tuna fish
3. The angel hair. HAHA you should google it. In Indonesia it is called so'on or bihun. Yesh I still need the carbo, I just cut the intake. I substitute these white carbs with the complex carbs which will make me fueled a bit longer (e.g.: brown or wheat bread not the whites, etc)
4. If I lunch outside at some cafe that offers the brown rice, thank God.
5. And I go for 2 sip of yakult every noon.
6. I still can consume chicken or anything but it should be baked. Well at least I tried. And if not, I still eat fried food. But it is important not to consume the junk one.

BUT.

I can never ever replace or substitute or stop consuming the SWEET ICED TEA. Never. Oh that was the genuine, classic guilty pleasure of mine. I consider myself as lucky tho, because soda is the biggest no and I don't like it so I can enjoy the lower level of a sweet guilty pleasure.

AND yes I stop eating at 6 pm. Or I'll only consume krupuk, peyek, and some other wind-containing meals.

Hope it works. Mom got surprised about her daughter becoming a vegan. NO SHE'S NOT.

PS. You can follow me, it's healthy :) and just a simple tips but it helps really; only if you're feeling bored and about to stop and frustrating, saying you cant bear the lentenship they bring inside you anymore,
visit google and tumblr and search these beauty of food combinations. It motivates you. Visual speaks louder right?

Saturday

"Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya."
Pramoedya Ananta Toer

Saturday


For me personally, this video reflects three things.

Firstly, DO NOT always skip the advertisement opening video on youtube. You will regret for missing something significant and educating or maybe just for advancing your way of seeing things or visual perspectives.

Second. I'd really, really love to make such film with concepts, visual, tools and stuffs. I actually took the making video instead of the finished form of this short movie bcs every time I watch a good video or visuals work, I don't stay too long on how it brings the enlightenment, or say 'wow this is great i cry candies' but wonder and never stop asking inside, great, how the maker perceived this and how he thought that, how he noticed such way, where and what exactly he did when thinking about the backsound, how and by which idea were things existed, how could it sprout out from the mind and so on. I mean, look at those people. They didn't only work for money or prosperity or these nice tux but really, they could notice things in which way others didn't. And made money.

And third, I always believe a thing. There are people who are caught to think and stand on (and for) the major capitalism's side (really, i will make it not looks so rough), and others who are still interested to do things on, I don't say an opposite, let's just say.. the authentic existence's side. I swear I still look for the better word to define what I want to say.

A bit sure that this entry will look inevitably naive in some parts.

//to be continued

Monday

Seek meaning and connection in ideas, relationships, and material possessions. Want to understand what motivates people and are insightful about others. Conscientious and committed to their firm values. Develop a clear vision about how best to serve the common good. Organized and decisive in implementing their vision.

myersbriggs.org

Thursday

I Was Moved for this Disney Pixar's Newest Short Movie

Yes, it's only the audio bcs I still couldnt find the full version officially uploaded on youtube. Saw it first at Inside Out | Aug, 19 2015 and I should thank Windy for the company. Hope it will win the 88th Academy Awards!

 

Delevingne Quits Runway For Real

“I am not doing fashion work any more, after having, like, psoriasis and all that stuff. Modeling just made me feel a bit hollow after a while. It didn’t make me grow at all as a human being. And I kind of forgot how young I was … I felt so old.”

Cara Delevingne quits modeling: It made me 'hate' myself and my body
 
The eyebrows, the mile-long stare — those were a few of the things that made Cara Delevingne a supermodel. But with a burgeoning movie career and a permanent spot on Taylor Swift’s BFF squad, Delevingne tells The Times (via People) that she is giving up the runway life for good.

(usatoday.com)

Anyways! Cant wait for her upcoming so so called movie, Paper Towns! Just read some reviews, and I should take Rolling Stone's here as linkrollingstone.com | Movie Reviews: Paper Towns

Tuesday

Paradigma Liberal Arts

Note: This articles talk about Liberal Education or Liberal Arts as Paradigm instead of Major/Subject
Further Reading:
Liberal Education Definition
Liberal Arts Education (Wikipedia)
Liberal Arts (ISeek)
Liberal Arts Education (topuniversities.com)
Pendidikan Berparadigma Liberal Arts - Why Rektor UI once wanted to apply the paradigm
Kurikulum Liberal Arts sebagai Tawaran bagi Pendidikan di Indonesia (2009)
Critics of the Liberal Arts Are Wrong (TIME)
Liberal Arts sebagai Solusi Krisis Multidimensi
Benefits of Liberal Arts Education
Liberal Arts Education (YALE)
What Is A Liberal Education (AACU.ORG)
Why Liberal Arts Education Is Not A Mistake (FORBES)
Purpose of LA-Ed (MINNESOTA)

Walaupun berkembang di Eropa sejak zaman antik, dunia kontemporer mengenal pendidikan liberal arts mengakar di Amerika Serikat. Kecuali community college yang menyediakan pendidikan terapan, praktis semua pendidikan tinggi setingkat S-1 berparadigma liberal arts.

Hal ini dapat dibaca dalam situs web perguruan tinggi (PT) AS yang masuk peringkat utama dunia. Sebutlah seperti PT swasta Harvard, Princeton, Yale, Stanford, juga negeri, antara lain University of California, University of Wisconsin, University of Illinois, serta institut teknis, seperti MIT, IIT, dan Caltech. Menurut Academic Ranking of World Universities 2012: dari 25 PT dunia terbaik 19 adalah PT AS; dari 50 PT terbaik 36 berasal dari AS.

Tidak heran bila paradigma liberal arts makin banyak diimpor negara lain, termasuk Eropa. Bahkan, paradigma ini akan menjadi skema dasar pendidikan di Eropa dan Australia, juga di PT ternama sejumlah negara Asia, seperti Jepang, Korea, Hongkong, India, dan Pakistan. National University of Singapore pun— yang melejit masuk ranking dunia—mengadopsi liberal arts.

Pengertian liberal arts berasal dari zaman antik klasik. Liberal arts dipelajari oleh warga bebas dalam arti bukan budak. Waktu itu pendidikan liberal arts terdiri dari gramatika, retorika, dan logika. Pada periode Abad Pertengahan, ketiga kemampuan yang dinamakan trivium itu dirasa memerlukan imbangan quadrivium yang meliputi matematika, geometri, musik, dan astronomi (termasuk astrologi). Ketujuh bidang ini masuk kurikulum PT Abad Pertengahan.

Ciri penting hasil didikan liberal arts: bekal dan fondasi luas pada berbagai bidang ilmu dasar. Dengan kemampuan berekspresi lewat cara berbahasa (gramatika dan retorika) dan matematika (logika), lulusannya dimampukan mengutarakan pendapat dengan bahasa yang baik dan benar, sistematis dan logis. Mereka juga dibentuk menjadi manusia utuh, intelek yang mampu berpikir dan berwawasan luas karena juga paham geometri, musik dan astronomi.

Dengan bekal demikian lulusannya lebih mampu berpikir, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bahkan mampu mengubah lingkungannya. Jangan heran jika ada sejarawan menduduki puncak pimpinan bank.

Pendidikan liberal arts memberi bekal dasar ilmu pengetahuan yang memungkinkan lulusannya berpikir bebas, kreatif, dan bertanggung jawab secara ilmiah. Mereka akan dimampukan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan, mereka akan dapat menambah pengetahuan di bidang yang mungkin sekali dianggap tidak berhubungan, seperti ilmu pasti dan alam yang dipelajari bersamaan dengan kesenian atau olahraga.

Menjawab Pasar

Pasar tenaga kerja, terutama bagi lulusan PT, akan terus berubah pesat. Hal ini terkait dengan perkembangan teknologi dan saling keterkaitan dalam pasar global yang juga berdampak besar pada Indonesia. Maka, mereka yang berpendidikan tinggi dan ingin relevan dalam pasar kerja harus terus mampu mengembangkan pengetahuan agar peluang berganti haluan, bahkan berganti profesi, tetap terbuka.

Dunia yang berubah cepat membutuhkan berbagai profesi dan vokasi dengan kemampuan imajinasi luas dan kritis. Kebutuhan pengetahuan dasar tersebut lebih tepat dipenuhi oleh program pendidikan liberal arts yang menyiapkan siswa agar mampu menjawab tantangan yang terus berkembang (James Engell, Harvard University).

Paradigma liberal arts berbeda dengan di Indonesia. Di satu sisi, pendidikan liberal arts menyiapkan lulusan untuk terus mengembangkan pemikiran serta mampu melanglang buana menghasilkan kreasi dan inovasi secara teknologi dan sosial. Sebaliknya, pemerintah, yang meletakkan dasar harapan orangtua, bervisi jauh lebih jangka pendek. Orangtua mengharapkan putra- putrinya selesai S-1 langsung memasuki dunia kerja dengan keterampilan vokasi. Makin banyak jenis vokasi tidak lagi mengikuti ilmu pengetahuan tetapi sudah merupakan ilmu terapan.

Adalah dalam konteks demikian diusahakan paradigma liberal arts. Semua siswa diperkenalkan pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dalam kelompok (1) humaniora, (2) ilmu pengetahuan alam, dan (3) ilmu pengetahuan sosial.

Tekanan diberikan pada pengembangan kemampuan berpikir dan menulis kritis melalui perkenalan dengan kesusastraan Indonesia. Pengembangan ini menjawab keluhan dosen tentang ketidakmampuan mahasiswa memformulasikan pertanyaan, pendapat, ataupun menulis esai untuk membangun argumentasi secara ilmiah.

Pengembangan bahasa Indonesia didukung pelajaran matematika yang menekankan logika sebagai dasar berpikir. Perkenalan pada berbagai bidang ilmu pengetahuan alam dan sosial diharapkan membangun kesadaran mahasiswa tentang lingkungan fisik serta sosial yang tidak terpisah dan harus dihadapi pada saat bersamaan. Dengan landasan pendidikan liberal arts, diperkirakan lulusan S-1 lebih siap menyerap pengetahuan, termasuk ilmu terapan dalam dunia profesi yang akan digelutinya.



Mayling Oey-Gardiner ;
Ketua Pusat LA, UPJGB FEUI; Anggota Komisi Ilmu Sosial AIPI
KOMPAS, 28 November 2012