Saturday

Lalat Dalam Bus

Jarak rumah saya dengan tempat saya berkuliah tidaklah jauh. Saya biasa berpergian dengan bus, agar hemat. Seringkali seorang diri, beberapakali ditemani Matthew dan berpisah di Kota Madiun saat saya harus turun untuk transit dengan bus yang datang dari Surabaya.

Suatu kali, saat saya tengah asyik mendengarkan lagu, seperti biasa sambil membayangkan jutaan potongan gambar dan latar tiap detiknya, saya menemukan hal yang sedikit menarik.

Ada lalat 'terjebak' di antara kaca jendela dalam dan luar samping saya.


Lalat itu harus terus mengepakkan sayap agar ia tidak terlontar ke belakang, meskipun ia secara tak langsung juga 'menumpang' bus tersebut. Ia tak punya pilihan lain, ia harus tetap terbang walaupun ia berkendara. Tidak seperti saya yang bisa duduk manis dan merasakan kehebatan pesawat sederhana bernama roda.

Mungkin ia menatap saya. Dan saya hanya tersenyum.


Saya seperti berkaca. Lalat itu mengingatkan saya pada kita, manusia.

Kita berada dalam sebuah subsistem yang senantiasa bergerak maju. Dan kita harus terus berlari agar tidak menjadi sampah yang terlontar tanpa ada yang peduli. Kita seperti terjebak dalam dimensi waktu, yang terus melaju.


No comments:

Post a Comment