Friday

Energi dan skeptisme

Aku iri terhadap aktivis di era Soeharto. Jujur saja, era itu memancarkan energi yang sungguh besar yang cukup untuk membakar pemuda-pemudi generasi selanjutnya selama beberapa dekade, yang, sayangnya, tekadang gagal memahami dan menggunakannya tanpa mempedulikan sekat dan batas tertentu.

Generasi pada zaman selanjutnya, yang sudah kadung terbakar energi di era Soeharto, jika tidak hati-hati, terlihat seperti kopi. Lama kelamaan menjadi dingin, dan menyisakan gundukan ampas. Seperti bernas, padahal kosong.

Banyak yang hanya tebakar tapi tidak memahami. Asal seruduk. Asal berpegang. Asal roboh dan asal tumbang.

Dianugerahi oleh teknologi hashtag dan konsep mutual bernama ngelike dan liked, follow dan followed, ask and answer, generasi ini sungguh jaya akan cepat dan pesatnya suatu informasi dan pengetahuan tesampaikan. Sungguh mudahnya suatu hal menjadi persuasif dan begitu memonopoli selera serta preferensi.

Padahal tidak mengecap apa-apa. Hanya di permukaan. Menyisakan ampas yang tidak larut, dan pahit.

Era ini sudah berbeda fase dengan sebuah rezim yang berlangsung selama 30 tahun. Meski banyak hal yang hadir di era sekarang sebagai dampak yang diimbulkan dari era orde baru (korupsi, hutang, politik kotor, faham religius, freeport dan militerisme), tidak semata-mata segala hal yang ada di era sekarang pas dengan gelombang energi di masa lalu. Banyak energi lama yang sudah tidak sesuai, dan butuh lebih banyak lagi energi baru yang dihasilkan. Terkadang saya ingin generasi di era sekarang mampu menciptakan energi energi baru, bukannya melulu mengamini para idealis dari era berbeda yang bahkan di masanya sanggup menciptakan sendiri energi tersebut.

Apa yang sesungguhnya menjadi masalah.
Bagaimana untuk menjadi solutif yang win-win. Tanpa harus melulu mengatasnamakan uang, monopoli, kepentingan politis, keuntungan mayoritas dan kapitalisme.
Bagamana menyikapi aliran dan bendungan informasi serta paham-paham.
Bagaimana melihat secara terbuka.
Mendengar seutuhnya, dengan netral.

Menilai dengan jujur tidak hanya dengan benar.

Karena sebenarnya apa itu benar?
Siapa yang menetukan apa yang benar?
Mengapa ia yang menentukan
Siapa yang diuntungkan
Bagaimana sesungguhnya hal itu lantas dianggap benar
dan lagi-lagi oleh siapa dan mengapa mereka pantas diamini pendapatnya


Karena tidak semua yang dianggap benar itu benar.
Dan segala hal yang tumbuh dalam masyarakat adalah ciptaan dan rekaan masyarakat itu sendiri.

Dan satu lagi, sudah waktunya kita secara bijaksana dan sadar menyikapi ke-mayor-dan-minor-itasan, terutama di negeri ini.

Tulisan saya belum selesai.

Aktivis era orde baru, memiliki lebih dari cukup alasan yang dapat membuat mereka berkarya. Situasi masa itu juga sangat kondusif untuk melawan arus. Menjadi tidak benar menurut mayoritas. Tapi jujur meski benar secara minoritas. Secara kiri. (yang energinya masih melingkupi pemuda-pemudi di era kini).

Banyak karya-karya yang tertriger dengan liar yang akhirnya menjadi manifesto tertentu, terutama melalui sastra, jurnalistik, seni dan budaya.

Pada generasi masa kini, bahkan jurnalisme itu sendiri yang menjadi terkekang oleh tangan-tangan besar politikus. Bahkan ada yang tadinya pengusaha media dan komunikasi, kini terjun menjadi politikus.

Di era lalu, jalan-jalan terbuka bagi para sastrawan, seniman, jurnalis dan pelaku budaya. Pernahkah sekali waktu Anda mengetik mengenai Goenawan Mohamad, mendengar soal AJI dan aktivitas lainnya, membaca mengenai manifes kebudayaan, nieman fellow, mengulik apa yang sebenarnya berlangsung di balik (tak hanya sekedar mengoleksi dan menikmati) novel-novel Ayu Utami atau bahkan Pramoedya, dan membandingkan dengan jurnalisme atau aktivis muda zaman sekarang (?)

Terbelenggu sistematika, konsep skor (saya tidak menggunakan kata nilai karena sesungguhnya nilai berarti lebih dari pada nilai sebagai skor dan menurut saya kini mengalami makna konotasi), kosnep prestasi-cv-pengaruh, pekerjaan, uang, politik, anggapan publik dan kapitalisme.

Sayang sekali, keliaran sudah sirna. Hanya menyisakan energi yang lanjut usia.

Friday

Entahlah.

Saya sedang berada di ujung kepala satu.

Hidup, atau setidaknya, kisah yang Sang Pencipta sematkan pada saya pada dasarnya tidak sederhana.

Seperti saya yakin bahwa pada setiap bakal kehidupan telah dipercayakan sebuah misi, jalan kehidupan setiap makhluk merupakan sebuah misteri.

(bersambung)