Monday

bersama seikat bara yang kian redup
bersama segala upaya meredam deru nafas yang kelu
bias resah di antara jemariku
buncah temaram di kedua matamu

sav | entahlah, okt.

Thursday

eulogy & the new tuts.

dulu waktu di smp, ketika semua anak sudah pulang dan seantero sekolah sepi tidak ada orang, hampir setiap hari aku duduk menikmati jaringan hotspot yang kala itu masih jarang dimanfaatkan. sendirian, karena saat itu masih sangat sedikit yang membawa laptop ke sekolah. kadang kelesotan di lantai selasar. kadang di tangga. kadang di ruang kelas kosong. kadang di sebuah bangku yang gatau kenapa ada di situ di balkon lantai dua kantor guru. kadang di mbak kem. pernah di emperan fotokopian seberang jalan. hari-hari itu, sore-sore itu, aku sudah bertualang ke mana mana. dalam arti harfiah maupun khasanah digital.

semua itu berkat acer. laptop empat belas inchi pertamaku di kelas delapan. yang kugunakan untukku sendiri. acer adalah serba pertamaku. pertama kali bikin blog. pertama kali bikin film pendek. pertama kali kenal photoshop. pertama kali bikin artikel untuk koran. dan banyak pertama-pertama yang lain.

satu hal yang luar biyasa, acer gak pernah rusak. gak pernah, sekali pun. charger yang jarang tercabut meski sudah penuh. hampir tidak pernah ter-shutdown. sering terbentur di sana sini hanya karena aku males make tas laptop atau bahkan untuk sekedar membalutnya dengan case. pernah terinjak, mungkin, pernah aku tiduri. pernah kena hujan. dan masih banyak lagi hal yang sebenarnya membuat aku kagum dia gak pernah nyerah. dia bertahan, dan nyaris mustahil dia baru rusak setelah aku duduk di bangku kuliyah. mungkin memang sudah waktunya. acer sudah ingin beristirahat. 6 tahun, nyaris 7 tahun acer sudah begitu setia menemani, menampung, membantu dan mempermudah hidupku dari segala aspek. banyak hal yang kulakukan dan kuciptakan bersama acer. banyak cerita, bayak puisi, banyak rupa manusia dalam folder-folder nikon d3100a hingga z hingga aa sampai zz, banyak nada-nada. banyak mimpi-mimpi, dan rahasia. banyak hal yang masih tersimpan di dalamnya. dan banyak hal yang sebenarnya masih bikin aku berat untuk beralih ke layar dan tuts yang baru.

but after all..

terimakasih acer. terimakasih untuk segala hal yang telah, pernah, masih, dan akan terus ada. terimakasih untuk setidaknya memiliki andil dalam perjalananku menjadi aku yang sekarang. hardiskmu aku mumikan. dan semoga kamu tenang,
di.. alam baka mu.

amin.


setelah nyaris setahun+ lamanya hidup tanpa workspace, akhirnya aku akan bisa kembali.. produktif (harapannya). hehe. rasanya lumayan aneh ketika kamu sedang dalam masa-masa produktif dan punya pasokan bahan berlebih tapi ga punya alat produksi. sekarang, teman baru ini bernama hewlettpacker. teman baruku, mohon kerjasamanya ya. semoga kita bisa melakukan dan menciptakan banyak hal baik. semoga kamu ga rapuh dan ga gampang menyerah. semoga kamu bisa terus kuat dan bertahan.



Tuesday

apakah..
apakah kamu.. nyata?

semalam aku bermimpi.
samar samar kulihat sepasang kaki
berjalan.. jauh berjalan
membelah temaram
jauh ke dalam pusaran
menuju lintas tak bertuan
di mana tiada batas
di mana kau dengar gerutuku menjadi resah
namun tiada henti ku dilekas.. gelisah..

sav | entahlah.

Friday

limbung diterpa anuku
gusar dicaci anuku
anuku bila kembara
kembali ke baradaya

sav | yogya, sept

Thursday

These rainy nights

these rainy nights i always want to solo drive nowhere around town, headset on ears, then sit at the 0-km just watch people pass by.

pantulan bias-bias bayangan dari air yang menggenang.

cold and warm
and cold.

leaving my bike somewhere. standing alone inside the bus. let it bring me wherever it goes. just, me and the world.

Wednesday

Pernah gak kamu ngebayangin kamu lagi duduk di sebuah bangku di atas bukit; dari sana kamu bisa duduk sambil memandangi kota dari jauh. lampu-lampu kendaraan, atap-atap rumah, dan orang-orang yang tampak kecil. langit, bintang, dan.. semesta. memandangi seolah kamu bukan bagian dari mereka. tertawa, bersyukur, menangis, memaafkan. menerima.

aku.. pernah.

70 People Ages 5-75 Answer One Question: What’s Your Goal In Life?

it's not 11-9 anymore.

it's 9-11.

3:55PM, and i just casually open my LINE and The Economist told me a thing, Donald Trump had been elected 45th president of the United States. i was shocked. i shouted to ones (that time we were on the way to have lunch). and i posted it on instagram on 3:56PM. and yes i deleted it on 10PM because i felt i am not US citizen why should i post it and chill.

but no i cant chill.

i didn't state my side though (1. what for, it's not my election. 2. i dont think both candidates fit the 'leader' terms.) aku belum menentukan sikap atau mengambil langkah. waktu itu aku hanya merasa ingin ngepost. that's all. dan ada sekitar belasan respon pada bagian comments section. dan.. kebanyakan memberikan reaksi negatif.

jangan salah, what for nya bukan what for nggak peduli, tapi what for untuk menentukan keberpihakan. kenapa, karena aku gak mau keminter dan sok tahu, padahal itu bukan negara ku, aku gak punya mata kuliah US Gov atau pernah tinggal di sana dan cukup paham untuk berbicara dan latah menanggapi. aku butuh mengamati dulu. melihat keadaan. ke belakang. ke depannya.

we can just predict. and ruled by the wave of millennial things called trending topics dll. sometimes it's not accurate. and we can't just told things that way.

satu-satunya sumber kasual yang aku pantengin adalah diskusi grup LINE SA Malang 3rd Gen (grup alumni sma angkatanku) yang sejak issue ahok dan demo 4-11 terus 'ngadain' diskusi terbuka yang, kasual, tapi teoritikal, berdasar, bebas, jujur, timbal balik dan responsif (ga reaktif) sekali.

there might be groups (mungkin grup-grup BEM atau komunitas terkait) yang mungkin sama kondisinya kayak grup SA Malang #rd Gen ini. But i dont know, till now, i always feel these 150 something fellas WILL BE something in this country. in the 5-10-20 years. aku gak bakal kaget salah satu dari kami, orang yang dulu pas di asrama makan di seberangku atau tidur di kasur sebelah di klinik atau antre kamar mandi bareng bakal jadi presiden, menteri menteri, ceo ini, ceo itu, pegiat ini atau itu dan lain lain. what proved it was... sekarang, tersebar di berbagai keberadaan, entah universitas, negara, di mana pun mereka, kami, selalu jadi pasti senggaknya sesuatu di tempat kami masing-masing. we always lead something. (in a wide-ranged context).

there are so many people yang masa bodoh sama issue itu, la lapo, bahkan nanya kui sopo sih atau kui opo sih.

ada juga yang apatis.

tapi buatku, meski itu bukan negaraku, pemilihanku, demokrasiku, tapi segala hal yang akan negara itu lakukan akan selalu ngaffect negara lain, terutama negara yang masih berkembang kayak negaraku. langsung  gak langsung. cepat atau lambat.

tentang trump dan hillary, let's be strong and stronger inside. gausah lah mengumpat. sok ngehate atau kecewa berlebihan. think again. it's their, their democracy, their election. it's their systme, it's how they want a leader to be. it's what they need. it's what they feel matched their needs.

yes we just witnessed a history. we need popcorn or something.

Sunday

(im sorry it's not the official upload. omam didnt post it on their account and i don't really like the clip so i put this one anyway. oh and, stop the player once the song end. i put last dino's apollo on 2 entries before so u can scroll there a while and play it then go back up here if u havent finished reading.)

i heard this song on 2014. from 3 sources. somebody's path (he won't read it btw :), one of About Time trailer, and my friend's school yearend-short film.

and i always find the same huge energy listening to it until now. still the first song in my head when im thinking about making a video. especially a throwback video. wish my lappy get well soon. i really miss pressing that red button on my little nikon.

like every words of it. the lyrics.


i wrote on my snapgram today:

bias-bias sinar matahari sore. 
messy hairs. muted giggles.
berkas-berkas cahaya dari balik
celah-celah daun pohon. jendela
bus yang sedikit bernoda di sana
sini. tangan keluar dari kendaraan
yang sedang melaju. the hugs.
the fallings. the rollings on the
sands. the running on the grass
field. the closed eyes. the tears.
the laughters. the beautiful free
souls.

udah rada basi sih, skip aja.

isu yang aku bahas udah berlalu 6 bulan lamanya. kayaknya lebih enak ga sebut subjek aja kali ya, dan aku lagi pengen bahas ini gak dengan teori-teori saklek atau kata-kata nasehat nan logis. cuman pengen ngomong sebagai sesama anak muda selengek yang juga hobi skroling sana sini kalau lagi gabut. gak dengan eyd, tulisan semiformal atau sastrawi juga. ya sekenanya aja.

jadi gini. aku juga suka musik non-lokal. barat misalnya (meski australia teknisnya di selatan bukan barat, dan aku banyak suka musik aussie). aku suka jazz, alternatives, punk sampe rnb. aku suka kendall jenner. aku ngefans cara delevingne. winona ryder. kate moss. jolie. filem filem hollywood dan indie barat. model-modelan barat, gaya berpakaian dan lain lain. aku, suka.

aku udah dalam tahap bisa menempatkan diriku dari perspektif tertentu dan memisahkan norma dengan estetika, maupun melihat sesuatu yang vulgar tanpa bernafsu (mungkin karena aku cewe juga kali ya). misal nih, katemoss foto telanjang. telanjangnya gak porno. telanjangnya sensual, sensual gak menggoda kayak slut atau prostitute, sensualnya indah. estetis. dan aku sama sekali ga nafsu liatnya. atau, gerakan freethenipple dan yang sejenis-jenis feminisme ala negara liberal. konteksnya bukan hubungan seksual, yang melibatkan hormon atau apa. tapi estetika, dengan pandangan terbuka, free-valued, dan pure seni.

TAPI.

aku juga sadar. aku lahir di dunia bukan jiwa ku tok. yang melayang layang free di udara bebas. aku punya keterikatan ruang. aku punya pembungkus bernama raga. dan ragaku ini bikin aku terikat pada takdir-takdir tertentu, lahir dari rahim ibu yang mana, dari sperma ayah yang seperti apa sampe bentuk wajah dan fisikku sedemikian rupa, struktur dalam darahku kayak apa, dan fakta aku dilahirkan di mana. dan hidup di mana. ada negara. sing sejarah e dan filsafat e duowo kayak yang pak kus eddy sartono jelasin di kelas. eh kudune tak sensor ya. mbok menowo aku ternyata salah ngomong terus ada yang nggugel terus ngerelasiin aku anak didike sopo :(

ada negara. ada sebuah keterikatan yang mengatur bagaimana aku berada di antara jutaan manusia lain. aku punya hak. tapi hak ku bersinggungan dengan hak banyak orang lain. aku juga merelakan sebagian hak ku pada mereka yang aku percaya bertugas mengatur ikatan itu. ada negara. ada aturan. ada ganjaran.

ada aturan yang tertulis dan formal. ada aturan yang melekat pada masyarakat di mana negara itu berada dan bagaimana sejarah serta kebudayaan yang membentuknya. ada aturan tidak terlihat, yang terbentuk seiring waktu dan tercermin dari sejarah budaya masyarakat itu sendiri. (btw iki aku asal nulis ga nggo riset-risetan gugel sepurane nek salah yo).

ada norma. ada nilai. ada (mau gak mau) hal-hal yang dianggap sebagian besar masyarakat benar, diakui dan mengakar pada hidup sosialnya.

kenapa kita gak boleh vulgar-vulgar. kenapa kok harus bertetangga. kenapa harus beragama. kenapa sebaiknya gak ngomong jorok atau ngumpat. kenapa harus manggil pake embel-embel julukan, 'bu' 'pak' 'mbak' 'mas'. dan buuuanyak kenapa kenapa yang lain.

 ada fitur fitur di dunia ini yang harus kita pahami dan terima. iya, harusnya kita jadi free souls, orang bebas yang gak munafik. tapi ya jangan naif juga. ada hal-hal yang punya batas.

itu hal abstrak pertama. yang kedua adalah.

sebaiknya kita sadar--selain pada ada di mana kita dan gimana kita menempatkan diri--bagaimanakah kedudukan kita di lingkungan kita dan, apa atau seberapa besar influens dan impact yang kita timbulkan dari kedudukan kita.

misal. kalo kita (anu wes, iki kasuse mau gak mau ya. gak make kenyataan kalo emang pengen beken atau sengaja bikin drama kayak kim kardashian--padahal tadi aku udah janji gak nyebut subjek loh maaf) ternyata, adalah seorang influencer, yang diperhatikan banyak orang, terlepas dari penialian mereka itu apa. yang sadaro, berarti apa yang kamu lakuin, mau gak mau, udah jdi 'milik' publik. kamu akan (mau gak mau) dinilai dan diekspektasikan melakukan atau mencapai poin-poin tertentu. dan ekspektasi itu jahat. sadaro, pause-think-do. apalagi, a pa la gi, kalo kamu mengintensikan hal yang kamu lakuin untuk jadi konsumsi publik. kalo aku gini ga ngintensikan untuk 'dikonsumsi' lho ya, soale aku ga share-share banget. nek mampir yo mampiro. tapi aku gak yang dari awal menyengajakan ini jadi produk konsumsi. cuma nggawe-nggawe dan ini portal semi-satu-arah. bukan facebook yang ada timeline (jenenge timeline guduk yo, aku marai gatau dolanan fesbuk), atau youtube yang bisa viral di first row di home.

sadaro, apa yang kamu lakuin nginfluens, dan nginfluensnya nginfluens siapa. dan apa kiranya impact yang bisa ditimbulkan.

anak-anak kah? remaja puber? orang dewasa yang udah cukup ngerti banyak perspektif? orang luar? orang dengan adat seperti apa. dampaknya apa. menurut pandangan 'kebanyakan' orang 'di sana' gimana.

sa dar o.

aku suka ngomong enggres, soale sing kasar bisa terbiaskan, sing bertele-tele kadang ringkes, tapi nek pengen mbulet dan ambigu ya bisa digawe. aku suka nonton dan dengerin karya 'luar'. suka kate moss. ngefollow kardashiansclip di instagram. sering pake rok selutut (atau di atasnya sedikit wkwk) dan sering meso fak, dayum, atau shit.

tapi kadang aku juga sadar, aku ada di mana, di lingkungan yang bagaimana, dan berada di suatu tempat sebagai apa.

angel, tapi at least aku ga masa bodoh.


iyo sepurane sik kadang.

my mind is made up/ i’m willing to come down and wake up/ the longest i’ve known in this life/ it’s not the world for me

The moment when they start make certain circles, and you're not in it.

no, they're not your friends. they are your links. or they make friends for links.

i know bestfriend can be good links too (and better to be, or thank God if they be).

but it's different to seek friends for links, and sincerely make friends with everyone. the differences between bestfriend and links are, when your 'links' didnt perform a good vision for your future, you leave them. you start to talk about them and mock on what happened to them.

but when you call them your bestfriends. once you see them perform a bad vision about future, whether or whether not it affects yours, you walk backward a lil, take a step back, kneeling, and tell them they still have a long road to walk on. with, or without you. but you let them know, you're always there when they need you.

please if you do, do use them as human. not a to-be-success commodity.

conclusion of the title: yes, they take things for granted. in the name of success in capitalism sight. or business motivators have their doctrines stuck so deep and rooted in their heads. it's good. i dont say capitalism is bad. u get it wrong. i provoked u with connotation. what i try to show was, make friends. sincerely. if they're not sure about future, dont kick them out of your success-smelled circle. ask them to join. wake them up, sincerely.

how about.. try win-win. try not win lose. it seems so two thousand and seven.
iya sih bukan berarti kalo kamu ga berbuat apa apa kamu juga win lose. tapi kamu juga gabisa dibilang win win kalau nyindir-nyindir aja atau bertahan untuk melakukan apa yang tengah kamu lakukan dari jauh dan, menyerahkan pada semesta apa yang kamu lakuin ngimpact atau gak. terus bilang at least aku udah ngingetin, atau itu hak dia aku gakbisa sok ngajarin, atau takut dibilang maksa dll. jangan hobi suka 'di tengah tengah' ah. atau yah, mungkin emang dia bukan siap siapa mu jadi ngapain kamu juga ngurusin kan

Wednesday

u're never ready.

it's funny how sadness could make a whole exciting day becomes blue.
and yea, sadness. it's come and you're never ready.


midnight 1st to 2nd novembre, lonesome daughter missing his dad.