Friday

the thing is, my friend, to keep being yourself and
doing what you really love wholeheartedly. it doesnt
have to be the best out of everything, the greatest or
all, but to be sincere,

because every single thing you do with your heart

will light up one more star in the sky

that slowly, you can see a way unfolds in front of you,

even in the darkest of times.


_

Tuesday

Sesajian di Jalan

Beberapa titik jalan di sekitar kota Yogyakarta sempat digegerkan dengan adanya penemuan sesaji. Titik-titik jalan tersebut seperti, pelengkung wijilan, jalan panembahan, Pelengkung Gading, perempatan Wirobrajan dan sekitar Kota Baru. Hal ini dibuktikan dengan beredarnya foto yang menangkap wujud sesaji di depan pelengkung Wijilan. Pria yang ber inisial EK ini secara tidak sengaja menemukan sajen ketika hendak pulang, setelah seharian berkeliling mengantarkan penumpang. Pengemudi ojek online ini, tidak cukup kaget dengan penemuan sesaji di sekitar jalan yang dilaluinya. “saya ndak terlalu kaget kok mas, tapi kok yo onok wangi dupane barang” yang ditemui ketika tidak sengaja berhenti untuk mengabadikan momen tersebut.

(Pelengkung Wijilan, tempat sesaji diletakan)

Sesaji, memang erat dikaitkan dengan konteks bahasa rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa. Adapun hal ini juga sebagai ungkapan untuk menolak dari datangnya bencana atau melindungi dari marabahaya. Manusia memiliki caranya sendiri untuk dapat mengungkapkan rasa syukur dan kegelisahannya kepada semesta. Istilah sesaji ini, memang sudah tidak asing di telinga kita. Sejak jaman dahulu, bahasa ini ada dan memang diturunkan dari nenek moyang kita hingga menjadi sebuah tradisi. Tradisi ini yang sebenarnya sudah menepi secara perlahan karena arus modernisasi.

Melihat peristiwa ini sebenarnya juga menjadi menarik untuk dikaitkan dengan konteks Yogyakarta hari ini. Kota yang terkenal dengan tradisi budayanya ini, kini dihadapkan dengan kebudayaan masyarakat milenial. Yang mana kondisi masyarakatnya sudah sangat berkembang pesat sejalan dengan dengan perkembangan teknologi. Hal-hal yang demikian pun, akhirnya tidak lagi akrab di kehidupan mereka. Jika masih ada pun, hanya orang tua atau kalangan tertentu yang masih melestarikan ritual ini.


Pak Ogah dan Penguasa Jalanan


Ruas-ruas utama jalanan Yogyakarta begitu padat memasuki rush hour, selain bunyi mesin kendaraan, suara klakson selalu mengiringi kebisingannya. Masyarakat yang dikenal ramah dan halus, bisa seketika menjadi ganas dan liar di jalanan dengan kendaraannya masing-masing. Dalam situasi ini dibutuhkan peran apparat untuk mengatur kekacauan-kekacuan ini. Sementara aparat yang sudah digaji untuk melakukan tugas ini kerap abai, atau justru malah menugaskan orang lain, “Pak Ogah”. Berkat keabaian dari aparat ini, peran “Pak Ogah” terasa sangat berjasa, padahal jika dilaksanakan oleh yang sudah sewajarnya berkewajiban tentunya jadi biasa saja. “Pak Ogah” yang mengatur lalu lintas Jogja di jam-jam sibuk ini seketika dapat menjadi penguasa jalanan atas kekacauan. Dengan seragam dan peralatan seadanya, kendaraan-kenadaraan berpacu tinggi ini mematuhi himbauan untuk berhenti atau jalan terus. Nyatanya memang jika diatur dengan baik, toh pengendara jalan bisa teratur juga.


Terlihat antara 11 Oktober-15 Oktober, 2-3 orang berseragam Prajurit Keraton Yogyakarta, Lombok Abang, sebagai pengatur lalu lintas di beberapa titik ruas padat jalanan Yogyakarta. Mereka tersebar di, Jalan Sayidan, Patangpuluhan, Jalan Solo, Jalan Affandi, Jalan Kaliurang, Sarjito, Perempatan Tugu Pal Putih, Taman Budaya Yogyakarta, Progo, Jalan Paris, pada waktu pagi, siang dan sore hari. Aktivitas ini sontak menarik perhatian warga, tidak hanya aktivitas, tetapi juga outfit yang dikenakan “petugas lalu intas” ini.

Warga net merespon dengan beragam melalui cuitannya di akun twitter. Akun @lalinjogja menuliskan “Siang tadi, kembali melihat kearifan lokal dalam  bekerja, nyebrangin pengendara dengan bajy prajurit Wirabraja di Jln. Parangtritis, pertigaan bank BNI”. Kemudian @guyonangkring mencuitkan “15:37 gon potongan jalan ngarep angkringan gejayan sik ngatur lalin anggo seragam prajurit, mantap jaya!”

(Aksi Pak Ogah Prajurit Keraton Lombok Abang)

Reresik Sampah Visual

Kenangan, ketenangan, kenyamanan, keindahan dan kesederhanaan, merupakan kesan yang terlintas ketika menggambarkan kota Yogyakarta. Sebuah kota yang kaya akan alam, sejarah, pengetahuan, kesenian, budayanya menjadi magnet bagi siapa pun. Karena itu lah, kota ini menjadi salah satu tujuan utama bagi para turis, baik domestik maupun luar negeri untuk menghabiskan waktu liburan bersama sanak famili. Namun siapa sangka, dibalik itu semua, Jogja begitu orang memanggilnya, yang begitu mempesona, juga memiliki persoalan yang menarik untuk dicermati.

Sampah visual, objek ini sering ditemui di berbagai sudut tempat atau ruang secara nyata di kota ini. Tentu saja objek tersebut merujuk pada sebuah benda yang sengaja diletakan oleh sekumpulan orang yang tidak bertanggung jawab, di beberapa titik ruang kosong, yang dianggap layak dan terlihat di mata publik. Beberapa lebar kertas saling tumpeng tindih, menutupi objek apa saja yang ada disekelilingnya dengan tujuan untuk menyampaikan informasi. Hampir semua informasi yang disampaikan melalui selebaran tersebut mengumumkan hal yang tidak penting untuk disimak, seperti “sedot wc”, “butuh dana segar, hubungi nomer ini”, “terima gadai bpkb cepat” atau poster acara band adalah visual yang “menghiasi” sudut kota Yogyakarta hari ini.

(Aksi “reresik” sampah visual oleh seorang seniman jalanan Yogyakarta)

Aksi reresik ini, kemudian mendapatkan berbagai macam respon dari netizen yang dicuitkan oleh melalui media sosial twitter. Dari akun @gothed: vandalisme di siang bolong, yang lewat hanya melihat, tanpa berani menegur, piye iki min?”. Ada pula yang menanggapinya dengan berswafoto di akun twitternya, seperti yang dilakukan oleh @anerbref: “Gardu listriknya ngeblend ma jilbab eike belum ya?”

Apa yang ditawarkan melalui beberapa aksi tersebut, merupakan respon dari tebaran sampah visual yang kian hari kian tak terkendali penyebarannya. Aksi kecil seperti ini dirasa menjadi langkah solusional untuk menghias kota Yogyakarta agar tetap mempesona, terlepas dari pandangan publik yang mengatakan sebagai aksi vandalism atau bukan. Tapi beginilah cara kesenian merespon persoalan yang ada di sekitarnya.


Masihkah kita buang sampah pada tempatnya?


Sampah hanyalah sebuah kumpulan dari beberapa benda (tak dianggap) tak terpakai. Mungkin itu saja yang ada dibenak kita, ketika mendengar kata tersebut. Tidak ada yang banyak dilakukan terhadapnya. Acuh, abai adalah sikap yang kita lakukan dan bentuk respon ketika kita dihadapkan langsung dengan objek tersebut. Bahkan, ketika berhadapan dengan pesan himbauan sekali pun, kita masih tetap abai. Berbagai jargon “dilarang membuang sampah di sini”, “di sini bukan tempat sampah”, “jangan buang sampah di sungai”, hanyalah bahasa himbauan untuk kemudian dilihat. Tetapi kenyataannya, tak jarang untuk dilanggar. “Persoalan sampah memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah” begitu kebanyakan masyarakat menanggapi permasalahan ini, sehingga mereka seolah enggan untuk merespon lebih jauh tentang persoalan ini.



Namun tidak terkecuali bagi para seniman. Seniman memiliki konsepsi tersendiri tentang bagaimana membahasakan sampah ke dalam suatu ungkapan tertentu melalui daya kreativitasnya. Entah ia akan menyadarkan masyarakat atau tidak, tapi setidaknya ungkapan ini secara tidak langsung, dapat memberi pesan kepada yang melihatnya. Di beberapa kesempatan, ditemui beberapa olahan sampah seperti patung atau boneka khususnya di daerah tertentu, seperti Jalan Solo, Kawasan Pasar Beringharjo dan Pertigaan Terminal Giwangan, menjadi ruang penyalahgunaan pembuangan sampah oleh masyarakat. Patung boneka ini tediri dari kumpulan plastik yang digabungkan dengan tumpukan kertas, lalu kemudian diikat membentuk wujud 3 dimensi. Tidak hanya itu, patung itu diberi warna agar terlihat seperti orang-orangan yang biasa terdapat di pinggiran sawah.

Keberadaan orang-orangan tersebut, mungkin bisa jadi merepresentasikan sosok hantu, atau figur yang bergentayangan bagi orang yang melihatnya. Ia akan menghantui siapa saja yang akan menyalahgunakan tempat sebagai pembuangan sampah. Juga menjadi pengingat untuk kita semua bahwa tidak seharusnya kita membuang sampah yang bukan pada tempatnya.


Fenomena “Emas” Kali Code

Kali Code, Sungai yang membelah kota Yogyakarta ini, sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan publik pada eranya. Bagaimana tidak, Code yang dulu terkenal kumuh, bertransformasi menjadi bersih dan tertata. Peran perubahan ini menurut berita yang beredar, tidak lepas dari peran Romo Mangun, yang mengajak warga sekitar untuk lebih peduli terhadap kebersihan sungai. Sejak itu pula, Code menjadi magnet bagi para wisatawan untuk menikmati keindahannya. Meskipun tidak se asri dulu karena pertumbuhan penduduk yang bermukim di sana, Code masih memiliki warisan pesonanya. Namun, akhir-akhir ini ada pesona lain yang menjadi perhatian publik, yakni pendulangan emas.


Selama kurang lebih satu minggu sudah, masyarakat yang tinggal di kali Code, Yogyakarta, dikejutkan dengan sebuah peristiwa unik “dulang emas”. Kegiatan yang sebenarnya sudah lama tidak kita jumpai, apalagi di daerah sungai perkotaan. Peristiwa ini cukup mencuri perhatian warga yang tinggal di seputaran kali tersebut. Beberapa warga yang penasaran dengan aksi ini, ikut memperhatikan dengan seksama proses pendulangan emas tersebut, namun ada pula yang mengabaikannya. Bermodalkan wajan berukuran kurang lebih berdiameter 35cm, 3 orang pria dan seorang wanita yang tidak diketahui inisialnya itu, asik mengayak-ayakan pasir yang diambil dari dasar kali tersebut. Tentu dari peristiwa ini, menimbulkan banyak pertanyaan maupun respon dari masyarakat.

Respon yang muncul pun beraneka ragam, contoh warga sekitar yang mengatakan bahwa “Dahulu, ada seorang keluarga yang pindah dari Jawa Timur ke daerah sini, sengaja untuk membuka tempat pembuatan gigi palsu. Pembuatan gigi palsu tersebut dipercaya terdapat kandungan emasnya. Tentu sisa-sisa dari pembuatan gigi tersebut tercecer dan tenggelam di dalam sungai” tutur salah seorang warga yang setempat.

Tidak hanya ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat setempat saja, fenomena ini juga ramai diperbincangkan oleh netizen di media sosial. Berbagai macam respon yang muncul seperti, cuitan celo: Jadi, kabarnya, di bawah Jembatan Kleringan dulu ada ahli gigi emas yang suka buangin hasil press giginya ke sungai situ, Njuk piye?. Cuitan lainnya oleh GuyonanAngkringan: Ada orang mencari sesuatu di kali Code dengan menyertakan video, juga turut meramaikan fenomena ini.

Sunday

quarter life crisis (2)

i thought by keeping myself busy i would reduce the time to feel depressed. i would prevent sadness, emptiness, loneliness or any other related state of negativity.

i was wrong.

i felt depressed for being useless. then one day thank God i turned to be productive and felt depressed no more.
as the time goes by i become 'very' productive, and once you did these things you started to crave doing more things. that was when productivity started consuming you.

your life ran so fast you didnt see things coming. everything is rushing, shooting, you can only keep running--maybe flying in some cases. i tell you, being productive is very addictive. it was satisfying to make other people satisfied and once you made it, you wanted to keep their trust, and they became your priority.

your directions are slowly changed and you didnt have much time even to think about it. you think you're getting to the next level, one step closer to maturity. in fact instead of being wise, you just learned to choose your priority, to focus on the things that worth your energy, or the things that will give you something fair; a stair, a career, the state of being secured, clarity or recognition. or maybe a family, this sense of belonging, intimacy, maybe ambition.

now that your speed increases, you can accelerate. but everything is getting complicated and the more you knew, the more you realized you have known nothing. it's overwhelming.

the more thing there is, the less time there will be. the less time you have, it's getting harder to comprehend everything as a whole.

time flies so fast you start begging for a slow life.

ah, once you could spare a little, maybe it was a lil bit too late. everything was pilled up, you had no idea where to start, how to snug, you just keep watching em, hopeless.

yknow sometimes the more things happened, the more you wanted to share. and lesser time you had, the more you would know that, it's better to just enjoy the present,

and let everything lasted.


dude, honestly, i just miss being alone sitting at the park bench somewhere looking at the sky, at the people passing by among strangers, recalling every single thing that has happened. i miss being on my own, being not necessarily obliged to do anything. it's not that when im productive i miss being useless or when i am useless i feel depressed for doing nothing. it's just that, i need a break some time im just tired.
so scared of getting older
im only good at being young
so i play the numbers game to find a way
to say that life has just begun

had a talk with my old man
said, "help me understand."
he said, "turn 68,
you'll renegotiate
dont stop this train
dont for a minute change the place you're in
dont think i couldn't ever understand
i tried my hand
john, honestly, we'll never stop this train."

quarter life crisis?

i guess existentialism issue sounds so 2014 already. so now let's try another one we may fit in. lmao.

well i was afraid had suffered depression or any-cool-named crisis lately, like i just felt sad every once awhile without any reason. it happened once, then it's gone, and came again, and the cycle kept turning to the other side.

u may feel familiar, i might have told u before, the same situation ever happened--a bored, confused girl with a medium level frustration tried to both curse and conquer the world. but that was an old issue i finally could overcome. this recent 'crisis' is kinda different. i feel productive instead, i go to college, i have some jobs at the same time, i earn, i enjoy my work environment. but i felt sad anyway, occasionally. and its been bothering me.

shiz im no kid anymore. i should've not expressed this whole condition in a seamless, total explicit recount. anyway.

you know what, it's not. i think i dont suffer the so called quarter life crisis. afterall people my age is going through the same phase elsewhere in this world. we all begin to leave our comfort zone to enter a total real life. barefoot. naked. some of us bring curiosity. some of us, anger. some of us, passion. maybe other with bad intention we never know.

disoriented, confused. we feel lonely and small. but maybe it's just that we are tired. we are tired and somehow we just feel demotivated. we're only human. all of these growing up things may drain our energies sometimes. yet everything remains unfulfilled. the world is very demanding these days. we might push our limit a lil bit too hard. society told us it will paid off. and sure it will. it's ok to cry, but i want u to know, you're not alone. we all go through this phase with that pain in the ass and u know what, it's ok.

it's not a crisis, it's not a shit talk. honestly it's just a casual exhaustion, a sign form our own selves that we need a rest, sometimes. to sit down, calm our mind and come back to that one lil park where we start it all. we need to see how the seeds we'd planted have grown to those beautiful flowers. we need to find back the reasons why we all start it and stop seeing the other park.

let's focus on our park. how green it is no matter how yellow it actually was. dude we need to mow some areas later. look how the plot of the garden is asymmetrical and how beautiful it is. and why dont we embrace the weather? it's raining and going to storm. it's snowing and we start to freeze. the sun is up and our skins turn red.

let's do it anyway
listen to good songs and dance to it
go to karaoke, live concert, sing your heart out to these songs u love
find somebody to hug
find someone to have fun with, laugh out loud, and cry

say thanks

smile to strangers passing by

forgive everybody. forgive ourselves.

then stand up, and let's continue the journey.

Saturday

(the end of the blog) (please close the tab)

Monday

A Journal of Merb.

last week i said i would blog about merbabu by thursday.

i didnt. but i will begin to type the entire journal right now.

Wednesday

sobriety & perspectives upon girls who smoke cigarettes.

(it's a casual writing, not a research.)

it's interesting to finally tempt, tease society with some event thrills, see their responses--the way they see things and reflect their thought about it. i actually didnt try to deliberately show them. i always used to filter which things society can accept and which things they cannot when i wanted to share something, but last nite i tried to play loose. it was not that i show them, but i choose not to hide it. and it's interesting then, to see the waves.

i come from the middle social class with a very strong cultural internalization, the people who stick to the norms. so yea predictably, most of them shocked and frowned. some of them are moderate enough to know that it is actually a choice and it doesnt define somebody's basic attitude. some of them kept silent but i know they're watching because the viewers raised a lot. puput and ipang said people started to stalk them---hehe see.

interesting.

seeing how people reacting is more intriguing than thinking about our public images itself.

i grow up in this cultured environment whose people tend to be judgmental. basically the way they keep the norms is as strong as the way they talk about whoever breaks it. it's funny how society constructed. i myself stick to the norms, i have strong moral values i have no doubt about it. i know what is wrong and what is right, morally.

but not all the things that seem normative are relevant to be called as norms.

over the last one year i happened to casually observe about so many backgrounds and personalities. i know so many people with great normative attitudes, i grew up with them in school. back in junior high, i hate my friends who smoke cigarettes. mereka itu nakal. kurang perhatian. dan lain lain dan lain lain yang diajarkan seminar-semianar dan textbook pada kami semua, tentang kenakalan remaja. until now, i know that drinking liquor is bad. i know that alcohol, drugs, even cigarettes are bad, and it cost us negatively. but it doesnt make the people who drink and smoke a bad person.

ada yang namanya batas. ada yang namanya kontrol. ada yang namanya tujuan dan konteks.

langsung aku substitusi sama apa yang kami lakukan semalam. bagi yang tidak tahu (atau tidak sadar), @ozbezarious adalah puput dan @enakantidur adalah ipang. keduanya teman saya sejak sekolah menengah atas. kami bertiga bahkan satu kelas di kelas 10. kami berasal dari keluarga baik-baik, kami memiliki hidup akademik dan lingkungan yang sehat dan sama-sama pernah tinggal di asrama.

tentu saja, segala hal yang diajarkan dalam seminar-seminar kenakalan remaja itu bertujuan baik. saya setuju bahwa hal-hal itu buruk, dan sebaiknya jangan dilakukan karena cenderung merugikan, terutama bagi kesehatan. yang saya sayangkan kemudian sembari saya mulai beranjak dewasa dan mengenal banyak orang, saya baru sadar, hampir semua ajaran itu cenderung membuat kita berpikir bahwa hal-hal itu buruk secara normatif. padahal norma itu sudah mengakar kuat pada masyarakat sebagai suatu standar yang diyakini, meski norma ada pada hakikatnya untuk mengatur perilaku pada situasi tertentu, bukan secara mutlak memutuskan salah benar (kecuali hukum dan agama). jadi kebanyakan pelajar yang menerima materi cenderung berpikir bahwa itu buruk -- semua orang bilang begitu (secara norma) -- jangan dilakukan. kita tidak di-triger untuk berpikir logis bahwa 'itu buruk, sebaiknya jangan dilakukan' tapi lebih didoktrin bahwa 'itu buruk, jangan sampai dilakukan.' dengan adanya pemahaman yang general (pukul rata, mungkin dengan tujuan mengantisipasi kemungkinan terburuk), akhirnya kita cenderung memiliki asosiasi negatif dengan segala hal yang berkaitan dengan misalnya minum, atau merokok, tanpa berpikir logis terlebih dahulu.

bagi saya, merokok dan minum sampai mabuk itu buruk. bagi beberapa norma agama, minuman yang memabukkan itu haram. narkoba sudah tentu berbahaya.

tapi merokok dan minum tidak lantas membuat seseorang buruk secara sosial. melakukan hal itu tidak lantas membuat kita mengasosiasikan seseorang pada stereotype yang pukul rata. derajat seseorang tidak ada hubungannya dengan rokok atau kegiatan yang ia lakukan. ada konteks, ada batas dan ada yang namanya kontrol, selain itu merupakan pilihan pribadi orang tersebut.

merokok buruk bagi kesehatan. bagi orang lain yang menghirup asap rokok. merokok di kantin kampus yang sesak misalnya, tentu itu baiknya dihindarkan meski katanya merokok sehabis makan itu luar biasa nikmat. tapi itu bukan warung umum dan kampus merupakan institusi pendidikan dimana kegiatan utama mereka yang berada di dalamnya ialah edukasi formal. merokok buruk bagi kesehatan seseorang, ada baiknya kita mengingatkan orang atau mencegah orang tersebut atas nama kesehatannya, bukan secara sosial (bahkan atas nama derajat) menganggapnya buruk. saat masih di sekolah berseragam, kita memang masih di bawah umur sehingga ada baiknya mendapat pelajaran tentang perilaku yang benar atau sebaiknya dilakukan. sayangnya dengan kecenderungan asosiasi yang terlanjur terpatri, setiap ada teman sekolah yang kemudian merokok setelah lulus, terlihatnya buruk. derajatnya turun. lagi-lagi mungkin karena asosiasi normatif.

ngomong-ngomong, mungkin kalau cowok memang lebih bisa diterima ya. tapi yang malah bikin pertanyaan, kenapa sih kalau cewek yang ngerokok daat tanggapan yang agak berbeda?

memang rokok itu masalah gender ya? karena toh saya jarang sekali menemui orang yang memicingkan mata melihat teman perempuan merokok langsung menjurus tentang rahim dan janin mereka. nyaris semuanya soal bahwa ia itu perempuan. seharusnya tidak merokok. lagi-lagi perkara kacamata sosial. asosiasi normatif.

oke, kalau protes ia merokok karena kesehatannya, itu memang rasa peduli. logis sekali. toh kembali lagi itu pilihan yang tak bisa dipaksakan. tapi kalau sampai bilang perempuan tidak boleh merokok. itu.... aneh sekali.

saya pernah ada di masa ketika melihat teman merokok, entah lelaki atau perempuan, saya jadi risih. kemudian saya masuk kuliah dan saya mulai menjadi terbuka. kemudian teman-teman perempuan saya merokok, awalnya saya tidak biasa, kemudian saya tahu. saya termakan asosiasi normatif yang terlanjur negatif yang saya telan mentah-mentah ketika masih berseragam.

teman-teman perempuan saya yang merokok semuanya anak baik-baik. ipk mereka nyaris sempurna. mereka sehat dan ginuk-ginuk. merokok tidak ada hubungannya dengan perilaku sosial mereka.

jika moral dibentuk oleh budaya setempat, maka moral dihasilkan secara kolektif oleh suatu kumpulan manusia, yang sebenarnya juga punya logika untuk berpikir bukan? bisa sedikit memberi jeda untuk melihat konteks, iya kan?

saya tidak menyoal maupun menyalahkan orang yang menganggap apa yang kami lakukan salah. saya hanya menyayangkan. pun saya gak menyalahkan teman-teman saya yang minum atau merokok, saya hanya bisa mencegah, dan jika itu pilihan mereka, saya hanya bisa menyayangkan. namun yang paling saya sayangkan adalah masyarakat yang inevitably judgmental ini kok terlanjur memiliki asosiasi negatif tanpa mau merunut logika terlebih dahulu.

teman saya berkerudung, ia anak baik-baik, datang dan besar dari keluarga baik-baik, berkuliah dengan baik dan aktif dalam keorganisasian bahkan sudah magang sana-sini. ia tidak lepas-lepas kerudung dan dia tetap berpakaian sopan bahkan sholat lima waktu. ia perempuan. dan ia merokok. saya berusaha membuatnya mengurangi bahkan berhenti suatu hari (dalam 2 jam ia bisa habis 7 batang bayangkan, itupun karena teman lelaki saya ikut mengambil stok dalam kardusnya), tapi saya tidak beranggapan buruk pada personalnya. ia adalah pribadi yang sama selain ia sudah gak sehat. titik. derajatnya sama, justru saya sempat kagum akan kemerdekaannya dari pengaruh konstruksi sosial. ia buruk secara riwayat kesehatan, sudah pasti. tapi rokok tidak terasosiasi dengan kepribadiannya. ia mengonsumsi rokok, ia goblok karena itu tidak sehat. sudah, sampai di situ.

saya pribadi bukan perokok, sempat tertarik karena makin kesini saya makin terlepas dari doktrin asosiasi negatif dan justru melihat bahwa rokok bukan untuk dipermasalahkan. saya melihat kakak kakak yang smart dan profesional dengan rokok di antara jari tengah dan telunjuknya. tidak ada asosiasi apa-apa. mereka bukan keren karena smart tapi merokok. mereka bukan keren karena berani merokok. mereka keren karena bisa membuat saya menghilangkan asosiasi apapun yang ditimbulkan rokok pada adjektiva lain yang melekat pada diri seseorang. mereka merdeka. meskipun kesehatannya terjajah. paru-parunya tidak sehat. sudah. seperti minuman kardus yang dikonsumsi, mereka hanya mengonsumsi rokok. tidak ada asosiasi normatif dalam benak saya. tapi kembali lagi, saya cuman sempat tertarik, bukan pengen. maka saya tidak mengonsumsinya. semalam saya mencoba menghabiskan sebatang, dan saya tidak menemukan kenikmatan, maka saya memutuskan untuk tidak mengonsumsi karena tidak ingin.

tentang minum beer. beer berbeda dengan liquor ya, meski sama-sama alkohol. minum 2 botol beer saja masih akan sangat sober. mungkin saya cuman jadi tambah gendut. tapi tidak mabuk (meski itu tergantung kekuatan orang-orang). saya bukan minum buat mabuk-mabukan. buat apa. tapi menurut saya, beer itu bukan 'minum' karena ibarat minuman beer hanyalah es teh yang rasanya seperti jus tape nenek saya. nanti saya malah ditertawakan yang level minumannya jago.

dari stroy yang bikin heboh semalam, bagi yang penasaran, saya minum 2 botol beer ringan dan saya sober hingga pulang. saya justru berani minum juga karena kami bertiga sudah menjadi teman baik dan kami sama-sama anak baik-baik yang mengerti apa yang kami lakukan. toh kami sudah cukup usia, dan puput sangat penasaran dengan rasanya. bagi yang mungkin berpikir saya yang memengaruhi puput atau menularkan hal buruk, itu saya sudah menolak ajakan puput. lagian saya mau diet untuk kondangan teman minggu ini (hahaha). tapi ya sudah. kami tidak 'minum-minum' atau 'mabuk-mabukan'. kami hanya bercerita sambil memesan minuman. kebetulan minumannya sedikit mengandung alkohol, 3-5%. nenek saya aja minum. om om saya juga minum beer saat kami merayakan pergantian tahun. tidak mabuk. bukan liquor. yang penting tahu batas. saya juga sudah bilang ibu saya, dan beliau bilang beer nggak apa asal jangan mabuk. mama saya tahu saya ngerti batas. sayang asosiasi negatif terlanjur mengakar.

saya sempat menulis story pagi ini untuk menanggapi banyaknya respon yang saya terima, meski saya hapus:

i was sober last nite, i drive
we are good friends since hi school
we are good people, we know what we did
i didnt smoke still, tried but fail
and i start a healthy diet this morning.
life is good y'all, i'm 21, chill.
(when u grow up in certain environment)
(mom said it was ok to drink if i cud stay sober) (granny said the same, she drinks beer, not a drinker tho)

just because somebody drinks doesn't mean s/he's a bad person.
just because a girl smoke cigarette doesn't mean she's bad person.

and it's beers. i doubt we can call it 'drink'
it won't crack u unless u want to.

and, yea, even if s/he is a bad person and drunk doesn't mean they are worse than you.
who are you to give score on people's level? like, really, derajat orang? derajat apa? dewata kah kita?


BUT I DONT PERSUADE OR ENTICE OR INVITE U TO TRY IT. dont confuse between perspectives and doctrines.

ps. bonus. saya bukan tipe orang yang datang ke klab malam karena tidak terlalu suka keramaian meski saya bisa menikmatinya 'secara sosial'. socially drink, socially dance. karena lagi-lagi saya datang dari lingkungan sosial yang sangat normatif. tapi saya tumbuh dan besar dengan sangat liberal. hanya saya ngga pernah mabuk dan sangat mengerti batas. beberapa kali saya berkesempatan untuk melihat orang mabuk oleh red wine, dalam situasi yang aman. saya pernah melihat orang menangis sambil minum vodka. dan jujur, membahas sobriety atas nama beer sebenarnya sedikit membuat gemas.

Monday

tersesat.

tersesat memang diakibatkan karena salah mengambil jalan. tapi kemudian kita punya pilihan dalam mengambil sikap saat tersesat. tersesat itu bisa melemahkan, atau justru konstruktif.

katanya, peta kehidupan itu sudah ada yang menggariskan ya. tapi ternyata si pencipta memutuskan bahwa kita boleh menjalani hidup yang seru. tidak tertebak, dan membuat berdebar-debar. mungkin agar tidak spoiler. mungkin agar tetap semangat karena yang bersambung-bersambung biasanya membuat gemas; gemas ingin tahu kelanjutannya, atau gemas ingin berakhir saja. makanya ada tokoh seperti hannah di serial populer tiga belas alasan mengapa.

si pencipta (saya nda mau menyinggung yang percaya kita ini ada karena proses semesta yang sedemikian rupa lho, tapi saya pribadi memang percaya adanya Sang Pencipta, yang maha yoi dan maha artsi) rupanya memberikan kita sebuah otonomi, untuk menafsirkan dan memilih jalan yang kita ambil pada peta kehidupan kita.

saya sih banyak revisi ya. mungkin karena saya orangnya sok ide dan suka trial-and-error gitu. jangan ditiru. nanti labil dan njelimet. tapi serunya bisa punya koleksi 'luka-luka sandung' yang berbeda di titik-titik berbeda dari area-area yang berbeda dalam peta hidup saya.

mungkin yang mengikuti kendablekan saya di blog ini, atau kenal saya pribadi dan cukup dekat untuk bisa sedikit mendengarkan curhatan saya yang banyak.. bisa dirunut bagaimana seringnya saya begitu senang, kemudian begitu sedih, kadang terlalu skeptis, dan seringkali mengeluh. bertanya tapi tidak menemukan jawaban. kemudian menyalahkan keadaan. kemudian membela diri. kemudian mencari retorika yang menyokong pembelaan diri tadi. kadang dengan pongah, kadang alpa dan lupa diri. kadang satir. kadang romantis.

ya, itulah bagaimana gaya saya memanfaatkan otonomi yang selama 21 tahun ini disematkan pada saya. bukan gaya nungging atau gaya katak ya. banyak revisi. muter-muter. nyasar. kadang stuck di satu tempat--karena mager, atau karena lelah berjalan dan takut kembali tidak menemukan jalan yang benar. kadang malah ternyata menemukan jalan pintas yang ajaib.

dulu, saya kira konsep nyasar atau tersesat itu adalah di saat kita mengambil jalan yang salah. tapi njuk saya sadar, bukan, bukan gitu. tersesat memang diakibatkan karena salah mengambil jalan. tapi kemudian kita punya pilihan dalam mengambil sikap saat tersesat. bisa ling lung, bisa sigap, bisa takut, bisa gemas, bisa marah, bisa senang, bisa kerasan, karena baru sadar kalau bukan salah jalan, tapi salah menentukan tujuan. tersesat itu bisa melemahkan, atau justru konstruktif.

atau jangan-jangan, tersesat adalah kesempatan bagi kamu untuk beristirahat dan berpikir jernih. jangan-jangan dengan tersesat kamu diberi kesempatan untuk merunut ulang jalan yang kamu ambil, bahkan tujuan yang kamu cari. mungkin tersesat adalah cara bagi kamu untuk memiliki lebih dari satu pintu yang 'benar'. mungkin tersesat adalah cara si penggaris peta memberi kamu ruang untuk kembali bertanya pada diri kamu sendiri, dan melihat kemantapan kamu.

kalau saya sih, sebenarnya cuma bingung mau cari basa-basi apa untuk memulai gulungan entri yang sepertinya akan mengular setelah hampir separo tahun memutuskan mengurangi menulis reflektif dan lebih menyibukkan diri 'berpartisipasi', bahkan berhenti (dan jadi mikir dua kali untuk) menulis caption yang kata orang-orang dulu, kayak nulis cerpen.

'pipod i le gawe caption ko sepur'
'mesti cerpen to caption e'
'lak dowo mengko hahaha'

dulu.

celetukan yang pada suatu masa sangat awam saya dengar di sekitar. (kalo sekarang celetukannya karena spam instastory ya haha). dan waktu itu saya jadi.. hmm apa iya ya, saya seharusnya tidak seperti itu. jadi merasa berlebihan, romantisasi, kadang dramatis dan sentimental. rasanya belum dewasa dan jadi cheesy, tidak chill. (sama seperti sekarang, saya jadi suka risih sendiri kalau lihat garis putus-putus insta story saya melebihi lima linier. njuk biasanya saya hapusi haha maaf milenial.)

padahal enggak. ternyata enggak. menulis caption panjang itu gak papa. menulis reflektif itu boleh. menulislah dengan bebas, lepaskan semuanya. ternyata saya cuman kemakan omongan orang. tersesat yang dekonstruktif. selama bukan hal yang membuat polusi, kita boleh kok, jadi diri kita sendiri. asalkan bisa memfilter. toh banyak opsi yang bisa mereka lakukan juga. misalnya kalau saya terlalu spam insta story, ada pilihan untuk mute story profil saya. atau kalau blog dengan tidak mengunjungi blog saya. dan alhamdulilah ada read more jika caption melebihi 3 baris.

masalah tersesat karena omongan, salah satu dampaknya ya begini, tulisan saya tidak semengalir dulu, kalau dulu rasanya kayak jari saya punya otak sendiri karena setelah selesai nulis dan membaca ulang saya suka bingung apakah saya menulis ini.

tapi saya punya misi baru. saya mau mengurangi instastory. jadi, silakan bertandang kemari kalau kangen saya. hahaha. saya cuma bercanda. bukan jablay.

kerasan

lalu kalau kerasan, bagaimana? gimana kita tahu apakah yang kita kerasani itu sudah tepat atau belum?

saya masih ingat jelas bagaimana pertengahan tahun 2014 hingga tengah tahun 2016 menjadi tahun slump bagi saya. saya menjadi pribadi yang satir, terhadap lingkungan saya, terhadap diri saya sendiri, pada keadaan dan yang paling saya dukani, major studi saya.

saya ngerasa salah jalan. tersesat. jengkel karena sulit keluar. jengkel karena rutenya harus muter jauh untuk kembali pada tujuan yang benar. dalam paradoks realita saya, nyatanya belajar akuntansi adalah jalan yang benar dan berprofesi senada adalah tujuan utama. sebenarnya saya hanya merasa terjebak. saya capek tapi banyak ngeluh. banyak retorika kebanyakan satir.

namun sungguh bagaimana caranya kita bisa tahu apakah yang sedang kita perjuangkan (dan gagal mulu) itu memang harus diperjuangkan atau harus ditinggal karena mungkin, bukan jodohnya?

kalau toh kita memang legowo karena yang kita paksakan memang bukan jodoh, bagaimana cara kita tahu bahwa apa yang kita tinggal sebenarnya sudah sedikit lagi?

bagaimana cara kita tahu, apa yang kita perjuangkan itu pantas kita perjuangkan, atau sebenarnya kita hanya memaksakan dan buang waktu?

saya juga nggak tahu.

kita hidup itu gambling guys. biar seru juga. sayangnya, kita terlalu sering bermain ekspektasi. berharap berlebihan lalu kecewa. meremehkan lalu kuwalat. menungso rek. nduwe akal sonu mbulet dewe.

tapi judi tanpa pertaruhan ga afdol. meski salah. judi itu salah guys jangan judi ya. ini cuma analogi. oke, saya akan mengucapkan hal klise yang sebelum ini lebih banyak saya mentahkan, saya bantah karena terdengar naif. tapi kini saya akan memberi testimoni, bukan teori. jadi, mari berjuang sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya. jalan terus aja. jalan aja. percaya aja. percaya aja, jangan takut. selama kita ga sabotase jalan dan peta orang, keajaiban itu ga cuman ada di filmnya tim burton. mungkin ini klise, tapi peta kehidupan memang sudah digariskan dan Pencipta nya maha yoi.

suatu saat ketika kamu merasa tersesat, tetaplah percaya diri, pada lumut dan arah matahari, lalu berjalanlah terus. jika merasa kembali dan hanya berputar-putar, jangan takut dan berjalan terus saja. tidak semua hal yang terjadi pada kamu ada dalam kendalimu. ada kekuatan di luar sana yang mengawasi kita dari jauh, dan pada suatu waktu rimba akan terbuka. tetaplah berjalan. jika kamu berjuang dan gagal, mungkin saja kamu kurang berjuang, atau mungkin itu bukan waktumu. jalanmu sedang disiapkan. bersabarlah. tapi tetaplah berjalan.

lalu bagaimana jika kerasan?

ada sedikit gagasan lucu dalam benak saya beberapa waktu yang lalu. saya pikir, saya tersesat. saya pikir saya salah jalan. saya pikir saya terjebak. kemudian setelah beberapa waktu (yang tidak sebentar) saya jadi dark, emo, protes sana-sini seperti masih bisa dilihat berceceran di blog ini 2 tahun terakhir... tiba-tiba, menjelang akhir tahun lalu, jalan mulai terbuka dan sepertinya ternyata saya nggak tersesat. saya mengintip jalan alternatif yang terbuka, dan jebul saya kerasan. lucunya, saya jadi ngerasa beruntung malah diberi kesempatan untuk mengintip, bukan menjalani jalan itu.

saya rasa, saya nggak akan sanggup. saya rasa, saya harusnya tahu diri. talenta saya ndak nutupi, gabakal bisa mengkover apa yang akan saya hadapi. jalan saya sebenarnya sudah benar. saya aja yang selama ini merengek karena belum dibelikan permen yang saya mau. setelah itu saya toh marem. seperti sekarang.

saya masih belum tahu apakah saya akan meneruskan menapaki jalan alternatif itu, ataukah saya akan kembali ke titik dimana saya tersesat dan kembali menempuh jalan utama. tapi saya lega.

saya lega karena bisa membedakan apa itu kerasan dan penasaran.

Sunday

sebelum turut mengambil bagian.

[last lines]

Charlie: [voice-over] I don't know if I will have the time to write any more letters because I might be too busy trying to participate.


saya memang penyendiri. saya sebenarnya orangnya berisik, tapi beranjak remaja saya menemukan kenyamanan dalam menjadi penyendiri jika waktunya memungkinkan. untuk membaca buku, mengamati sekitar, bising akan suara di tengah pesta, silau akan lampu sorot, kadang insecure, kadang malu, kadang enggan, dan kadang lelah.

saya suka duduk sendirian di balkon kamar asrama saya dulu, di atas bukit di lantai tiga. memandangi langit, melihat dunia basah saat hujan, memandangi mercusuar, ladang tebu dari ketinggian. melihat gunung dari kejauhan. saya suka duduk di samping jendela di bus, sambil mendengarkan lagu. saya suka ke perpustakaan, membaca buku (selain karena ruangannya enak, mungkin saya memang anti sosial). saya suka diam dan mengamati. bukan karena saya pendiam, tapi saya memang menikmati saat menjadi penyendiri. bukan karena saya individualis, tapi saya merasakan kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan jika saya sedang sendirian.

setiap hari minggu pagi, saya akan diantar ke gereja oleh angkot sewaan sekolah ke daerah sarinah (malang) bersama teman-teman yang akan misa dan kebaktian. biasanya di dalam angkot, karena masih pagi, kebetulan kami lebih sering tenggelam dalam headset masing-masing. sambil melihat ke luar jendela, menyusuri jalanan tlogowaru hingga alun-alun di tengah kota. suasananya sangat menyenangkan. melewati ladang-ladang tebu di pagi hari, sinar-sinar matahari yang masih teduh dari balik pepohonan jalan, aktivitas pagi di beberapa pasar yang dilalui, jalan raya sepi karena biasanya hari minggu adalah saat bagi semua orang untuk bangun lebih siang.

karena biasanya misa dimulai satu jam kemudian, kami akan duduk-duduk di mcd yang terletak tepat di samping gereja. kami memang memiliki privilege kecil: kami boleh mengenakan baju bebas, yang sedikit menguntungkan memang hehehe. biasanya setiap siswa asrama atau anak dorm (karena ada siswa non-asrama atau siswa day) harus mengenakan seragam jika keluar asrama. kewajiban itu mutlak dan berlaku dalam hal apapun, termasuk parent visit dan kegiatan lainnya. maka kemudian, hak istimewa kecil itu sering kami salahgunakan untuk jalan-jalan.

salah satu hal yang selalu membekas dalam ingatan saya adalah saat saya jalan menyusuri pertokoan kayutangan dari sarinah ke bca pusat di jalan kahuripan. sendirian. waktu itu hari masih pagi sekali, hanya segelintir kendaraan yang berlalu lalang, dan udara membuat malang rasa eropa. sendirian, mengenakan baju bebas, menikmati udara pagi kota malang di jalan dengan pertokoan gaya lama, diiringi lagu-lagu. rasanya indah sekali. saat-saat itu jiwa solitary saya sedang mestakung-mestakungnya.

waktu itu iphone masih menginjak seri ke 4. hape saya masih samsung. saya masih bermain kamera besar, tapi entah kenapa karena instagram belum sepenting sekarang dan saya ga mainan fesbuk, saya lebih banyak melakukan segalanya dengan jenuin. saya lebih menghargai penglihatan dan memori saya. meski sekarang toh saya menyesal, andaikan saya sudah membawa kamera analog kemana-mana hari-hari itu.

di rumah, saya merupakan anak tunggal dan ibu saya bekerja, jadi saya punya lebih banyak privilege untuk menjalani kesukaan saya. menyendiri. oleh karena itu mungkin saya sangat suka dengan buku, film, lagu, mengamati dan kegiatan yang berhubungan dengan kesendirian. atau jangan-jangan, iya ya, karena itulah mungkin saya jadi suka menyendiri.

saya suka menyendiri, tapi saya tidak kesepian.

blog adalah sarana saya menyalurkan waktu-waktu menyendiri saya. saya menulis, saya berbagi gagasan, saya mengobrol dengan diri saya sendiri. lama kelamaan, karena semakin lama saya makin harus berinteraksi, blog menjadi sara saya dalam menyaur utang saya saat saya tidak sempat menyendiri. saya menceritakan peristiwa-peristiwa, kejadian, dan pengamatan yang tertunda. menulis menjadi hal yang reflektif bagi saya.

entah bagaimana, kemudian menulis reflektif menjadi sangat adiktif. saya jadi menyisihkan waktu tersendiri untuk melakukannya. hingga, saat saya benar-benar tidak sempat melakukannya, saya jadi menunda-nunda hingga tidak melakukannya sama sekali seperti yang terjadi di tahun 2015. bertepatan dengan transisi keseharian saya menjadi sorang mahasiswa yang sibuk dan kala itu ngambis, menulis menjadi sedikit membebani. ditambah lagi saya lebih sering berbagi melalui instagram yang menjelma microblog, dimana caption panjang saya sedikit banyak sudah bisa merangkum peristiwa. saat mencoba kembali menulis, ternyata yang keluar malah rasa-rasa yang negatif: sedih, marah, galau, kesepian, satir, curhatan. blog saya jadi dark dan emo. menulis reflektif justru membuat saya tenggelam dalam kesenduan. menyendiri membuat saya jadi kesepian. hingga tahun 2016 datang. tahun itu, banyak hal dalam hidup saya yang mengalami perubahan. kemudian saya memutuskan untuk mengurangi membuat caption panjang dan overexposing di instagram, bahkan berhenti bermain media sosial lainnya seperti path, snapchat, askfm. toh ada instastories yang bisa merangkum semuanya. instastory yang simple, sambil lalu, hilang dalam 24 jam, memungkinkan orang untuk melewatinya atau memutenya, dan memungkinkan interaksi secara langsung melalui dm. lalu dengan adanya insta story itu ternyata saya jadi labil lagi. saya overexpose melalui story (which is saya ga ngerasa karena semuanya hanya jepretan sambil lalu) dan jadi merasa untuk tidak perlu menulis reflektif atau bercerita melalui tulisan.

awal tahun 2017 saya memutuskan untuk mengurangi bahkan berhenti menulis di blog ini. blog ini saya deactivate. saya hanya menulis review film suka-suka saya dan draft buku yang memang harus saya selesaikan. saya membuat portal baru yang saya anonimkan, namun isinya bukanlah tulisan reflektif. saya, seperti Charlie di akhir cerita, memutuskan untuk lebih menyibukkan diri ambil bagian.

saya menjalani saja hari-hari saya. saya datangi apa yang saya ingin datangi. saya lakukan apa yang saya ingin lakukan. saya tinggalkan apa yang tidak saya inginkan. saya berusaha hidup tanpa beban. hidup bebas, dan mencintai diri saya sendiri. menjadi diri saya sendiri.

kemudian saya ingat lanjutannya.

And there are people who forget what it's like to be 16 when they turn 17. I know these will all be stories someday. And our pictures will become old photographs. We'll all become somebody's mom or dad. But right now these moments are not stories. This is happening. This one moment when you know you're not a sad story. You are alive, and you stand up and see the lights on the buildings and everything that makes you wonder. And you're listening to that song and that drive with the people you love most in this world. And in this moment I swear, we are infinite.


_______________________________________
*sekarang sekolah saya beralih kepengurusan berada di bawah naungan pemprov jatim--sebelumnya pemkot malang--dan berubah menjadi SMA Taruna Nala Jawa Timur, baru saja diresmikan awal juni lalu oleh bapak Jokowi.

hari-hari dimana saya memutuskan lebih sibuk ikut ambil bagian.

saya udah hampir lupa gimana gampangnya nulis caption panjang.
saya udah nyaris lupa gimana nulis yang enak dibaca, yang ngalir.
saya hampir lupa gimana caranya harus bercerita. saya bahkan bingung mau pake saya dan nulis indah, mau pake aku dan nulis kasual, atau pake gue dan nulis rese. akhirnya saya gabungin aja ketiganya.

suatu hari yang saya lupa kapan, saya sangat sedih. kemudian saya tidur dan medapat mimpi buruk. lalu saya terbangun dan memutuskan untuk.. ikut ambil bagian. seperti kata charlie. meninggalkan apa yang menjadi beban. menjemput apa yang diinginkan. terserah kata orang. gapapa meski sendirian tanpa teman. saya mendeaktivasi blog. saya melupakan seluruh obilgasi saya pada diri sendiri dan pada pembaca blog saya bahwa saya akan menulis dengan rajin karena saya ga akan sempat main kemana-mana semester enam. dan saya meninggalkan portal refleksi saya.

waktu itu, teman-teman makan siang dengan saya sepertinya sedang sibuk kuliah dan bekerja. levy puput dan nando sepertinya terasa begitu jauh di jakal. ones sibuk kerja sambilan di lokal. mega sedang magang di jakarta membuat film bersama upi. lalu saya sekelas dengan windy dan kos kami dekat. saya sudah kenal dengan windy sejak semester pertama, tapi kami jarang sekelas dan sebelumnya saya kebanyakan pacaran kalau sedang tidak kuliah dan ngevent ini itu. hari-hari itu, bahkan teman-teman yang sudah lama kenal saja banyak yang enggan mengontak karena saya terlihat sangat sibuk, atau karena ternyata pesannya tidak saya balas (yang baru saya sadari setelah selow saat menghapusi history chats). atau setidaknya begitulah jawaban mereka saat saya marah-marah kalau ketemu, marah kok saya jarang dikabarin lagi, diajak main lagi. lalu saya jadi sering mengajak wincung makan. lalu kami sering menonton serial drama amerika bersama. basically we shared many things in common so yea we could have topics to talk and things to do bersama-sama. (cung, gak sah ge-er koe). lalu kami iseng melakukan kesukaan terpendam kami, seni. kesukaan, bukan kemampuan. kami tiba-tiba iseng main ke acara seni. kami membelah jogja di hari selasa saat selang sesi kuliah. kadang hujan-hujan dan sepatu kami jadi basah. haha geblek.

begitulah. setelah saya memutuskan melepaskan banyak hal dan menjalani keseharian baru, saya akhirnya punya waktu--yang trenyata berlebih--untuk melakukan segala hal yang dulu saya lewatkan. misalnya berteman, menghabiskan waktu bersama keluarga, membaca buku, ke perpustakaan, ke gig musik, tidur nyenyak, nonton film dan akhirnya, kuliah sepenuhnya. saya jadi lebih banyak ikut berpartisipasi, mengambil bagian. sayang saya jadi jarang nulis dan menjurnal. karena takut jadi sedih dan overthinking yang berlebihan.

setahun terakhir ini, ya tepat setahun ternyata, saya akhirnya jadi diri sendiri. di tahun 2017, setelah tidak membuat resolusi, akhirnya proses ambil bagian saya membuahkan hasil,. tahun ini, saya akhirnya menemukan tombol on yang sempat ketelisut. semua itu ternyata berkat saya menyibukkan diri berpartisipasi.

tapi sayangnya, semuanya jarang ada yang ter-refleksi. semuanya terjadi begitu saja. awalnya karena sengaja berhenti, lama kelamaan jadi terbiasa. mungkin itu yang dikatakan teori bahwa kita sedang bahagia. kita terlalu sibuk ambil bagian hingga tidak sempat mengabadikan.

maka kini, biarkan saya bercerita. meski tulisannya kaku dan wagu karena sudah lama tidak dideraskan.

jadi, saya habis putus. saya agak geli nulisnya karena bagi saya saya sudah terlalu berumur untuk membicarakan soal status, putus, balikan, dsb. sudah bukan waktunya.

saya... saya rasa saya akan bikin satu entry sendiri untuk cerita soal yang itu.

Thursday

kangen menulis.

Monday

ada saat-saat di mana aku merasa terpenjarakan oleh tubuhku sendiri. oleh konsep ruang, konsep waktu, konsep fisik dan wadah daging. aku harus menempuh jarak tertentu, dengan kecepatan tertentu, meninggalkan suatu tempat tertentu menuju tempat tertentu lainnya. terhalang identitas. terbatasoleh kata mampu-dan-tidak-mampu.

energy bug.

pernah gak sih kamu ngerasain seluruh tubuhmu bergetar karena merasakan sebuah energi yang mengalir dari dalam benakmu, yang gak yerbendung, tapi pun kamu gak akan mampu menderaskannya pada suatu medium? saat-saat di mana kepalamu hendak meledak hanya karena termenung sesaat dan memikirkan jutaan potong gagasan yang kamu sadar gak akan sempat kamu petakan, entah dalam tulisan, perkataan, atau sekedar coretan sambi lalu? terlalu banyaknya sampai tak ada satupun yang terdepiksi dengan sempurna kamu ingin mati saja.
can i just disappear? right now, out of the blue.

ah i know the exact word; vanish.

Sunday

it's funny.

it's funny how the world makes you feel smaller.
not the sad smaller but flabbergasted smaller.

it's funny how the world himself is actually so small.
it's funny how some words can lead strangers to have a deeper midnite-talk.
it's funny how spiders wander thru the edge of the web to spin the wider one.

it's funny.

it's funny how this interconnected world works.
it's funny that we share interconnected destinies, interconnected choices, interconnected stories, interconnected flaws. it is.

it's funny to have a casual deep talk with strangers.

it's funny how much we do not know, how we can never complete the puzzle without each other.

Wednesday

catatan perjalanan.

akhir akhir ini saya merasa gak berguna. saya merasa menjadi sampah negara. mungkin karena saya gak produktif secara finansial. mungkin karena saya merasa bisa melakukan sesuatu tapi belum merealisasikannya. saya mulai membandingkan diri dengan orang lain. termasuk orang-orang yang baru saya ingat pernah berkompetisi dengan saya, saya ungguli, yang sekarang sudah meroket jauh di atas saya, yang masih teronggok setengah 'bernyawa'. bahkan ada kalanya saya jadi berpikir dua kali hanya untuk menulis menggunakan bahasa inggris, yang saya senangi, karena merasa 'saya ini nulis seperti ini, sok-sokan, tapi toh saya cuman omong doang'. teman teman saya sudah melanglang buana ke negeri negeri bersalju yang berbahasa inggris, toh saya masih di sini, bercuap-cuap. beberapa waktu saya sempat takut, saya takut saya ini hanya konsep, saya ini cuman bisa mimpi. takut mimpi saya sudah kadaluarsa. saya merasa menjadi liabilitas. saya merasa tidak mengeksplorasi potensi saya seperti seharusnya. saya... saya merasa... tidak berharga.

lalu saya tetap menjalani hari. malam demi malam, pagi jadi siang hingga malam lagi.
belajar setiap malam, mengerjakan apa yang harus saya kerjakan, meninggalkan apa yang saya senangi, menjalani semuanya sesuai aturan. tidak bermain keluar, tidak bermain media sosial, tidak menulis, tidak mengamati film. hanya belajar, mendengarkan radio, kembali pada sms, mengerjakan tugas, memasak, bahkan berjalan instead of menunggangi motor. sampai suatu hari saya putuskan baiklah, saya akan keluar, hanya setiap hari selasa di selang sesi untuk mengunjungi skena seni.

saya hanya menjalani hari. tidak mengeluh, tidak meratap, tidak berharap. hanya menjalani sebaik yang saya mampu.

terkadang berkawan dengan cacian bayangan di cermin. kadang berkawan dengan makian sebelum tidur dari suara di dalam kepala.

saya tetap menjalani hari.

kadang meliburkan diri dari cacian cermin dan makian sebelum tidur, lalu bertelekomunikasi dengan kawan lama di seberang provinsi, merencanakan studi lanjutan di luar negeri, atau bertelerefleksi dengan kawan baru, membicarakan beberapa projek yang produktif agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, sambil merencanakan liburan.

hingga suatu hari, saya sadar.

saya gak boleh capek. saya boleh sedih. tapi saya, gak boleh capek. buat kalian yang merasakan hal yang sama, stop, jangan capek dulu.

ini bukanlah tulisan yang dibuat setelah sukses dan sarat bukti. ini tulisan dalam perjalanan, di mana tak seorang pun tahu hal apakah yang tengah menanti di ujung perhentian. ini bukanlah pencarian, tapi pembaktian diri, akan jalan yang ditapaki, bertahan agar tidak mati. meski kawan menggenggam belati, dan lawan mengucap makian yang berarti.

ucapan terimakasih.

gue merasa labil. gue merasa masih menjadi beban angkatan kerja dan menjabat sampah negara paruh waktu--at least ketika gue lagi di kampus, kuliah, gue merasa melakukan apa yang menjadi keharusan gue, meski gue ga enjoy.

di umur gue yang ke-20 gue lagi-lagi masih menjadi labil. sekarang gue bilang gue ga stories-bombing nyatanya gue masih. sekarang gue bilang gue mau kembali menulis dan menjalani blog, lalu gue deact karena merasa telah overexposing, lalu sekarang mau gue aktifin lagi. gue merasa masih lebih sering trial-and-error ketimbang melihat-memahami-dan tidak melakukan. tapi syukurlah mental health gue membaik, terimakasih kepada orang-orang yang mau meluangkan waktu buat gue meski kita baru-baru aja kenal, atau jarang ketemu, yang malah kadang jauh ngerti melebihi yang lebih lama sohiban. meski cuman sekedar nemenin gue berkelana ngeliatin kanvas berwarna, atau patung keroak, atau hujan-hujan. meski guenya di tengah jawa dianya di bagian pulau jawa yang lain. meski kita punya kehidupan masing-masing dan ga selalu berkomunikasi intens. gue mau makasih banget banget banget. udah menemani gue di saat sedang terpuruk dan cuman punya tembok untuk bersandar.

wincung, ogiv, puput. i owe u a lifetime friendship. tuh kan gue kayak anak labil.

Friday

Metodologi Penelitian

halo, sekarang saya masuk semester enam. salah satu makul yang mengekor adalah metodologi penelitian. makul ini sebenarnya bisa diambil di semester lima, tapi secara normal merupakan makul semester genap tahun ketiga. minggu depan saya harus ngumpulin judul, dan ratusan judul yang muncul di kepala saya selalu berkutat pada ilmu budaya, sastra dan sosial-antropologi. saya kadang gemes sama diri saya sendiri. kalau ada masukan jurnal-jurnal, artikel atau isu akuntansi yang menarik dan researchable (i mean saya sekarang fokusnya cepat lulus saja agar segera bebas dari akuntansi dan kembali utuh mengejar passion dan mimpi, jadi harapannya topik skripsi mudah--secara literatur maupun pengambilan dan pengolahan data empirisnya) silakan kontak saya melalui email, whatsapp, line, sms, telepon, kartupos, apapun. saya ingin segera menyelesaikan kontrak saya kepada orang tua dan kontrak saya (mau-tidak-mau, dipungkiri-tidak-dipungkiri) terhadap standard sosial agar bisa lega dan bebas mengejar apa yang seutuhnya menjadi keinginan saya. misalnya, menerbitkan fiksi, sekolah perfilman, membuat proyek musik, menjadi penggerak seni pertunjukan dan menekuni ilmu budaya. dan berwirausaha kreatif. juga belajar memasak. dan menjadi pengajar anak-anak di hutan-hutan di sulawesi dan papua. dan kalimantan atau sumatra. atau mungkin kerja di vogue. atau menerbitkan majalah sendiri, siapa tahu. hhe hhe.

Monday


part 2 : how to become a creative director
full documentary

now lemme reveal something, i usually watch so much youtube videos. i saved em offline, replaying em again and again i'll never get bored of. and then few days ago i just realized something, why didnt i put em on my blog? and i really love alexa's hair tbh

i love models with strong characters. i love alexa chung, i love cara so much (who doesnt?!), and of course i love camille rowe. the three are very genuine and smart, and weird, they're not only physically beautiful but also personally attractive.

other video starring camille rowe i saved online:
my favvvvv one! how to speak french with camille rowe - i-D (because of this video--and vira talisa too--i want to learn french, lul)
model wall - vogue
how to shop vintage denim with camille rowe
french vs american

// cherry blossom song

inspired by the song sakura no uta by kana-boon. (maybe u can play it while reading)

seorang remaja lelaki terbangun dari tidur siangnya.

sembari beranjak, ditenggaknya setengah botol air mineral yang semalam ia beli dalam perjalanan pulang menuju flat yang terletak di tengah kota tokyo itu. langit di luar jendela tampak mendung. ia lupa menutup jendela rupanya.

melintasi ruangan menuju ke arah jendela yang masih terbuka, flat itu redup dan terasa lapang meski sedikit berantakan. sejak menempatinya tiga tahun lalu, tidak banyak barang yang ia tambahkan. tempat sampah di sudut dipenuhi bungkus mi instan dan kaleng minuman. remaja lelaki itu baru saja menuntaskan tegukan terakhir saat butiran hujan tiba-tiba saja berjatuhan.

melempar botol kosong ke tempat sampah, ia menggeser jendela di hadapannya hingga menutup sebelum kemudian memutuskan untuk kembali menjatuhkan diri ke atas ranjang.

natsuno terbangun suatu pagi oleh suara kencang alarm yang memekakkan telinga. bukan, itu bukan alarm. itu suara ibunya.

pagi itu adalah hari pertamanya menjadi siswa baru tokaichiba shogakko sejak keluarganya pindah ke osaka bulan lalu. ayah natsuno merupakan seorang kontraktor, dan sebuah proyek besar membuat mereka sekeluarga terpaksa meninggalkan tokyo selama beberapa tahun. beberapa tahun, ayahnya berjanji, dan natsuno dapat kembali bertemu dengan teman-teman bermainnya di tokyo.

saat itu musim semi, dan jalanan di dekat rumah barunya dipenuhi oleh pohon sakura yang sedang mekar. lalu BRUK.

seorang gadis asing yang berjalan tak jauh di depannya baru saja menjatuhkan buku-buku yang tampaknya berat. natsuno mendongak pada ibunya dan bersama-sama mereka menghampiri gadis asing itu. namun sesaat setelah semua bukunya terkumpul, gadis itu menggumamkan terimakasih dan berlari pergi.

"manis sekali, sepertinya ia malu padamu." kata ibu sambil tersenyum dan menoleh pada natsuno. natsuno rupanya tidak mendengarkan. ia sibuk mengingat-ingat nama yang tertera pada seragam gadis itu. harumi.

*

lelaki itu kembali terjaga. namun kali ini ia hanya berbaring, menatap langit-langit. hujan di luar sudah reda. matahari kembali muncul dari balik gumpalan awan. ia mendongak ke arah meja tempat jam digitalnya berada. sudah waktunya.

'natsuno, mereka sudah mekar!' harumi berlari mendahuluinya sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. natsuno yang lupa membawa bekal makan siang hari itu sedikit enggan untuk ikut berlari menyusul teman kecilnya.

harumi selalu sama saja, terlalu berlebihan menyukai musim semi dan bunga sakura.

'lihat mereka mekar!'
'ya aku melihatnya, berhentilah berteriak seperti ibuku, kau mulai terlihat menyeramkan tahu'
'mereka indah sekali. apakah bunga sakura selalu terlihat sama di mana saja?'
'kudengar yang terindah berada di sini'

'kalau begitu aku tak akan pergi kemana mana'

'tentu saja--'

'mereka sangat cantik.'

kemudian angin berembus lembut, membuat beberapa bunga gugur berterbangan, sama seperti rambut mereka. hari itu tak seperti biasanya harumi tidak mengikat rambut. natsuno tidak pernah melihat harumi seperti itu.

'kono hana yori mo.. kirei na hana ga me no mae ni saiteru,' entah mengapa kata kata yang keluar dari mulutnya tiba-tiba saja memelan menjadi bisikan. natsuno tersenyum melihat harumi tertawa.

tanpa terasa lima tahun terlalui begitu saja sejak hari kepindahan natsuno ke osaka. usai pesta perpisahan, seperti yang telah dijanjikan, natsuno menunggu harumi di bawah pohon sakura yang biasa mereka lewati saat berangkat ke sekolah.

malam itu, harumi mengikat rambutnya. malam itu mereka berjanji untuk saling mengunjungi di kemudian hari. seperti yang dijanjikan ayah, natsuno akan berangkat kembali ke tokyo untuk melanjutkan sekolah menengah.

*

tujuh tahun berlalu, natsuno merupa seorang remaja lelaki yang tampan. ayahnya masih tetap bepergian untuk menangani proyek di prefektur lain, namun ia memilih untuk menetap di tokyo dan melanjutkan perguruan tinggi meski harus tinggal seorang diri.

jarak antara tokyo dan osaka dapat ditempuh hanya dalam waktu 2,5 jam. baru saja terdengar suara seorang wanita dari speaker di salah satu sudut yang mengumumkan nama stasiun tempat mereka akan berhenti. siang itu langit musim semi sedikit berawan, namun hujan sudah sepenuhnya pergi, menyisakan genangan air di beberapa bagian. natsuno menghambur bersama para penumpang yang turun di stasiun shin-osaka yang penuh sesak, kemudian berjalan menyusuri jalan-jalan yang sudah tak asing lagi.

sebuah buku catatan digenggamnya di tangan kirinya. bertahun-tahun yang lalu, buku bersampul biru muda itu pernah menjadi tempat dimana ia menggoreskan apa saja ketika sedang bosan. tak sepenuhnya menyadari berapa lama ia telah berjalan, tiba-tiba saja natsuno telah sampai di sana.

miyazano harumi. harumi yang sejak dulu selalu diingatnya.

pusara batu itu tampak rapi dan terlihat baru saja dibersihkan. beberapa ikat bunga masih tampak segar, sepertinya juga ada yang berkunjung sebelum dirinya. tahun-tahun telah berlalu semenjak ia meningalkan osaka, namun tempat itu akan selalu menjadi rumah kemana kenangannya bersama harumi berpulang.

'hey harumi!' kali ini natsuno belari mengejar teman kecilnya.

ia sangat kesal karena harumi baru saja merusak sketsa yang sudah dikerjakannya selama satu minggu penuh. besok mereka akan melakukan pesta perpisahan sekolah, dan natsuno akan kembali ke tokyo bersama ayah dan ibunya.

mereka menghabiskan siang itu dengan bertukar bekal di bawah pohon yang sama--selalu sama, pohon sakura kesukaan harumi. lama mereka duduk berdampingan dalam diam, menikmati makan siang terakhir sebagai siswa tokaichiba.

'hey harumi' gumam natsuno di tengah kunyahannya.
'ya?'

'kau tidak akan kemana-mana kan?'

'tentu saja.'


*

dalam perjalannya kembali ke stasiun, natsuno melewati sebuah pohon sakura. pohon yang sangat ia kenali. pohon yang tak pernah berubah sejak ia meninggalkannya tujuh tahun lalu. sejenak genggamannya pada buku bersampul biru muda itu mengencang.

cepat cepat dihapusnya air yang tiba-tiba mengalir keluar dari sudut matanya
tapi air mata itu tak mau berhenti mengalir.

'apa yang sedang kautulis?' tanya harumi yang melihat natsuno begitu tenggelam dalam pensil dan bukunya.
'aku tidak sedang menulis'
'lalu?'
'bukan apa-apa'
'kalau begitu aku ingin lihat' buku yang sedari tadi berada di pangkuan natsuno terenggut begitu saja.
'gambar apa ini, buruk sekali'
'kau ini--'
'aku harus memberinya sedikit keindahan'
'jangan kau akan merus--' tapi terlambat, harumi telah menggoreskan sesuatu menggunakan pena miliknya.
'suatu saat jika kau merindukanku lihat saja gambar ini' ucap harumi tersenyum puas.
'apa ini? puisi bunga sakura--kau menambahkan puisi bunga sakura ini di atas gambar godzilla--'
'ah kau pasti akan merindukanku suatu hari nanti, terima saja' ucap harumi sambil berlari menjauh, menghindari natsuno yang mulai beranjak untuk memberi sedikit pelajaran pada teman kecilnya itu.

*

siang itu musim semi tampak begitu indah. sebuah buku bersampul biru muda tergeletak di bawah pohon sakura yang rindang. angin yang lembut meniup beberapa kelopak yang gugur berterbangan, seperti halnya halaman-halaman buku itu. pada halaman yang terbuka terlihat sketsa monster godzilla yang dibuat menggunakan pensil, yang, entah bagaimana memiliki rambut-rambut tak beraturan. jika dilihat lebih dekat, rambut-rambut itu merupakan tulisan seorang gadis berisikan kalimat-kalimat indah tentang bunga sakura.

'mereka indah sekali. apakah bunga sakura selalu terlihat sama di mana saja?'

'kudengar yang terindah berada di sini'

'kalau begitu aku tak akan pergi kemana mana'

'tentu saja--'


_________

february 6, 05:26 AM. inspired by the song sakura no uta by kana-boon.

you said you liked cherry blossoms/ but what i think in my head is,
'a flower far more beautiful than those flowers is right before my eyes'

yeah right/ i was a child, unable to say a single joke/ i'm ashamed of myself
melodies are always what come out of my mouth
i couldnt even come up with a simple line

walking along the highway, i sang with you--i cant forget it
i sang my feelings to you discreetly, the cherry blossom song

when i open my notebook your writing becomes your voice and pierces at me
i gather the borrowed words that i had kept/ and make them into a song to return to you

yeah right/ tough i dont have an ounce of that kind of talent
melodies are always what come out of my mouth
by the time they're completed it's already too late

running along the highway, i sang alone; a song i cant forget
crammed with memories of just the two of us, the cherry blossom song

why--why, tell me, answer me
i was a child, i guess we cant go back now

but hey, the cherry blossoms we saw together are blooming beautifully again this year

so come back, my cherry blossom

running along the highway, i sang a song i made; so i wouldnt forget you
crammed with my true feelings, the cherry blossom song

Saturday

For A Pessimist, I'm Pretty Optimistic.

one of the reason why i put the title that way (up) is because it was the song i used to sing on stages (read: yes on stages) with my cover-band back in junior high school.

i actually wanted to write this in line with my previous post about paramore, but i just felt it will look better as an independent entry, so here it is.

ok the time i began to write the title, my spotify playlist was playing when it rains, but now it heads on let the flame begins. well let it does. anyway, it's funny how my heart literally (ok i will stop exaggerating) exploded after knowing zac officially reunites with paramore (as he and his bro left in 2010 followed by davis who left in the end of 2015, making hayley as the only original formers of the band). now with zac's homecoming, i as a diehard fan hope that paramore will find back its soul. and just in case they change their minds, for josh and jeremy to come back too. hehe.

this post is dedicated for the energy i gained during my adolescent and my true love for the band, paramore.

basically i had all of their albums and i can sing every single lyrics of every single song like a native, although i slightly have less excitement when it comes to their last album, the self-titled one. i bet i'm too used to listen their songs when farros were in it but yea i still love em and sing it out loud. and when i sing theirs i sing with my whole heart, i jump, i close my eyes and shoot a high note, i also do headbangs even when nobody's around. but my mom knows it.

their song are just so nicely crafted (to be honest i will just say fuckin great instead but i need to watch my mouth now), i mean it was alternative rock, but it's still very enjoyable and easy-listening. the lyrics are very *not-excessively* poetic and deep and honest but still edgy. its frontman is female, has a strong character and yet so cute (too cute tho for a rock band) and has a very awesome hair. and its songs are very melodic yet energetic in the same way the drums never fails. i wrote on my gram yesterday:
(picture)

so i was (ok this is confession) beyond happy when risang, my jhs band guitarist, texted me one afternoon, asking me to join the cover-band for festivals where they would perform paramore's songs. ok i love musics, my family is all about it but in our circle we usually go for classic or jazz and now i would hit the stage with alternatives and rocks stuff. now i tell u, i was very on fire that time because i'd been listening to riot! and all we know is falling (as brand new eyes was released in the same year) and of course i said yes.

there we began, i met dion and ata and we hit stage to stage singing paramore's songs (we still covered several other songs but it's mainly paramore songs). i remember we were still 8 graders that time and it's really amazing now to know i was able to cover my favorite band's songs at such a very young age. in my age now, whenever i see junior high students i always feel they're actually so small and young yknow. when i was in their level i always felt i was so grown up and seemed having my own choices and perspectives about the world but in fact i was not.

but i was 8 grader and i covered paramore stages-to-stages basis even i did headbangs several times and omg they are paramore, even this time i can listen to them and still am impressed with the musics and energy. and to imagine a small junior high school girl singing those songs on the stage is very surreal yet interesting.

now i'm proud of myself a little. lol

(and to be honest, kok sekarang aku jadi kangen ya. hehe. nyesel waktu itu udah nolak buat reunite the band. i wish they ask me again and i will say yes now.)

so this very time i will recall and bring back those nostalgic dramas. and i will rate 1 to 10 on each one to show you how strong the song became engaged to me. wkwk

the most frequent songs i used to cover on gigs with my band were: misery business, born for this, for a pessimist i'm pretty optimistic, crush crush crush and ignorance.

all we know is falling.
basically this album was really honest and did represent their emotional lives as juvenile. it's mainly about love and breakups but the musics are really great for their ages and their songs are just so genuinely epic for a debut level.
1. All We Know // 8,7. i listen to it everytime i was angry or upset about certain relationship
2. Pressure // 8,9. i used to dislike it until i listened to the acoustic version and began to really like it, even the original bandset one.
3. Emergency // 7,1. very dramatic i like it.
4. Brighter // 9,1. if you happen to breakup or split with your lover (or who you actually in love with but ended up unsaid or something) try to listen to this song. the tune and lyrics are just so true you cant handle but sing it deeply.
5. Here We Go Again // 7,5. cocok didengarkan saat bepergian.
6. Never Let This Go // 8,6. breakup? hard to fix the things but still happen to love each other? or again unsaid love? friendzone? listen to it.
7. Whoa // 8,3. it's good when it comes to the chorus.
8. Conspiracy // 8. dramatic one, pretty deep.
9. Franklin // 7,9. time to calm down a bit (i mean after those energetic drums and high notes)
10. My Heart // 9. i just loooooove the musics and lyrics as it was dedicated for their fans. but it's also a good song of a lover. i perhaps will sing it on my wedding day. or when my child's born someday.

riot!
in this albums each instrument becomes more complex and bolder as the themes widen the lyrics and mood of the songs. the lyrics are provocative and sometimes very personal yet interactive, somehow just feels like dialogues.
1. For a Pessimist, I'm Pretty Optimistic // 9,5. because it's very heating up and i used to sing it from stages to stages :p but the musics is so good and complex and energetic and kinda very personal.
2. That's What You Get // 8,6. i dont know why i used to dislike this song while during high school, i didnt get it why every people really love this song bcs i tought the tempo and tunes are slightly monotone but now i like it anyway. i mean i love it and i dont know why i used to be questioning its goodness. he.
3. Hallelujah // 9,1. BECAUSE it's so gewd. especially the live one.
4. Misery Business // 9,8. i used to sing it on festivals too, one of the most frequent playlist. it's tune, it's tempo, it's indian-folk touch on the intro, the provocative lyrics and the quality of relief after singing the song takes it to a whole next level.
5. When It Rains // 9. it's good listening to the song when it rains. not as melancholic as other gloomy songs but it also can fit the mood.
6. Let the Flames Begin // 8,2. very energetic.
7. Miracle // 8.  the drums so gud.
8. Crushcrushcrush // 9,2. idk i feel cool while singing this song. the tunes and drums, and everything in this song just can make everyone feels cool wkwk. the lyrics tho.
9. We Are Broken // 7,9. very emotional.
10. Fences // 9,8. aaaah i loooove its melody and rhythms, and bass, and the turning points where everything is heating up, then cooling down again, then it'll reach climactic bridges and yea everything's so on point. 
11. Born for This // 9,8. i used to sing this one to on stages haha even it was the first song we performed. the song make you feel sexy when you sing it. not a lusty sexy but a powerful sexy.
12. Stop This Song // 9,8. i. just. loooove this song i can never stop it.
13. Rewind // 8. the rhythms so good. the lyrics too.

brand new eyes
brand new eyes is a proof that the band was getting mature to the musics and lyrical content. the songs are becomng more melodious and somehow not as wild as riot! but most of the songs are trippy and sound very personal, best story-telling song(s) all the altrock band fans can ask for.
1. Careful // 9,8. the musics is so genuine and dramatic and energetic. emotional, provocative and somehow very personal. one of the rock song a girl can perform beyond measure causing eargasmic feeling.
2. Ignorance // 9,9. THE LYRICS can be so provocative but also really interactive, u feel like talking to the person u accuse. the tempo, the rhythms, the drums, even the shouting, the melody itself. the climax. everything. bring u to a highest point of relief.
3. Playing God // 9,9. regarding the era where spiritual identity becomes very sensitive these days, this song is really, REALLY fit to the cases. the lyrics is very on point, it sums up everything i thought about people upon their spiritual things:

you don't have to believe me, but the way i, way i see it
next time you point a finger i might have to bend it back, or break it, break it off
next time you point a finger, i'll point you to the mirror
if god's the game that you're playing, well we must get more acquainted
because it has to be so lonely, to be the only one who's holy
it's just my humble opinion, but it's one that i believe in
you don't deserve a point of view, if the only thing you see is you

4. Brick by Boring Brick // 9,92. ah ONE OF MY FAVORITE, even the clip is really cute though for a very energetic rock song. this song is a proof that a progressive rock song can have a poetic lyrics too. very brilliant. very brilliant. (full of metaphors, but really, really on point).
5. Turn It Off // 8,7. i'll turn it off, in all my spite. in all my spite, i'll turn it off. :)
6. The Only Exception // 8,9. the song somehow fits my stories so much but then it gets overrated just maybe bcs it was the one of very few paramore's song that sounds poppy. but i love it tho. who doesnt?
7. Feeling Sorry // 9,5. the lyrics man, so personal and real u feel like telling a specific story of yours.
8. Looking Up // 9,7. God know the world doesnt need another band, who-o-a who-o-a.... another story-telling one, i really love it.
9. Where the Lines Overlap // 9,95. one of my favorite!!! story-telling as always, and the melodies just sounds so alive and emotional in its own way. now i've got a feelin if i sang this loud enough, you would sing it back to me. no one is as lucky as us! we're not at the end but oh we already won :))
10. Misguided Ghosts // 9. time to calm down with a good lyrical pleasures..
11. All I Wanted // 8. yes i'm out of word now.

paramore (self-titled)
after the farro bros' farewell, this album looked like losing the usual, energetic paramore. some of em sound slighty monotone and less complex, even poppy without hayley's high notes.
1. Fast in My Car
2. Now
3. Grow Up
4. Daydreaming
5. Interlude: Moving On // 9,8. basically (poor me, stupid me, it's all there but idk where have i been) i just realized it was all about the band's response to farro bros who left the band 3 years before. but it sounds so good and easy-listening and provocative and yea i'm out of words now.
6. Ain't It Fun // 9. every single word in the lyrics is very, very on point.
7. Part II
8. Last Hope
9. Still Into You // 9,2. yah, finally, one sweet song again!
10. Anklebiters // 8,9. very provocative yet enjoyable.
11. Interlude: Holiday // 8,6. effortlessly enjoyable. a bit jazzy and poppy but still very paramore.
12. Proof // 9. ah i love this song. the lyrics suits ldr couple (or just some ordinary couples who are lack of trust to each other). tbh i miss farro's noise in some parts. they would've actually filled some holes there.
13. Hate to See Your Heart Break // 8,4. one poppy song wouldnt hurt. they're still paramore.
14. (One of Those) Crazy Girls // 8,4. weird one but still pretty enjoyable though.
15. Interlude: I'm Not Angry Anymore // 8,9. hahah nice one
16. Be Alone
17. Future // 8. trippy and nostalgic. in its own way.
18. Escape Route
19. Native Tongue // 8,4. i love the drums and melodies.
20. Tell Me It's Okay // 8,3. listening to this song makes me feel like listening to japanese alt bands idk why.

and, btw, the other reason is, it represents the way i feel about myself right here right now.

Dream Home.


suatu ketika saat kupejamkan kedua mata, aku melihatmu dari balik dedaunan, timbul tenggelam bermandi mentari senja.

lalu aku merasa hangat.

seolah nyata namun tersamar lembayung, seolah abadi namun ku tahu ini hanya mimpi.

dari balik kelopak mata kulihat seorang lelaki tersenyum
seakan dunia hanya ilusi ruang yang fana
kuembuskan nafas dan kutarik perlahan
seakan sgalanya lenyap saat tertiup bayu

langit menjelma atap kita, rumput merupa alas kita. perempuan itu bahagia. lelaki itu berkata,
harapan yang sederhana.
aku bernyanyi. jemarimu menari. bersama kita melagu riang, namun nelangsa.
yang sirna
saat kubuka mata.

Friday


the old song, amanda's effortlessly epic outfit and of course, the dog finn. the vibes can never be better. i just feel happy watching this whenever i woke up and felt upset.

Thursday

Perhaps someone needs to have a word with her over a coffee--and make it a double espresso.
anguish
  1. 1(n) severe mental or physical pain or suffering.

  1. 2. (v) be extremely distressed about something.

Monday

hypothesis upon La La Land.


City of Stars
Start A Fire
Audition (The Fools Who Dream)

ok it's holiday, it's still holiday and it's been almost a week since the movie La La Land hit the cinemas. actually i've waited it from the beginning of 2016 (i always look for the year's upcoming movie-list and i found its title was scheduled for june 2016). then it's not. until i began to forget about it and, nearly the end of the year, so many people starts to talk about how good it is and it wins 7 nominations on golden freakin globes.

so tomorrow i will crack my bedface and leave my comfort zone to yogya, only to watch this movie (lmao why). for more than a week i am so used to watch its trailers like hundreds time--because i really enjoy the colors, the musics, the outfits, the dancing, everything.

i didnt expect this movie would gain this euphoria. but even 80 percent people in my homefeed starts to say that it was more than a movie like it was a magical show years of waiting. is it?

Thursday

tentang kultur selebritisasi-diri-sendiri.

16:32, di samping jendela kamar.

udaranya lagi enak banget, mendung, habis hujan. dingin, gloomy, sambil dengerin danilla.

when i re-read my (older) posts, i somehow feel cheesy. so maybe from now on i will only write in bahasa when it comes to poems, or, idk maybe articles. note: if you want to read the main topic jump to the next 3 paragraph. it begins there. and oh, it's a casual post not a formal argumentative paragraph they taught me in high school.

its been almost a month i stayed in bed. perhaps once and twice with friends or alone on coffee longues but i produced nothing. the worst part is, actually i have lots of idea strolling inside my head. to write books, to go travel somewhere nearby and make videos with good musics as soundtrack, to write some reviews—movie, books or albums, to do some photoshoots, to make songs, or just to do some covers. i envy them who meet up at mlg-sby. i could’ve gone to malang and hang out with matthew, i could have gone back to yogya and watched lalaland, visited art galleries and museums besides there would have been more cafĂ© to waste some time with my laptop and headset on but i didnt do it anyway.

recently i begin to realize that if i gotta get married in next 5-6 years (guys, i dont state who become my bridegroom--cowo yg bakal aku kawini, neither, aku gak bilang udah bakal kawin dan bakal kawin dengan siapa, no) it would be here in my hometown, ponorogo. honestly i’d been always thinking of other cities for wedding; mostly yogya and jakarta, or i don’t know, bali? or whenever my jobs take me later. but then, i realize, no dude, this culture belongs to celebrity and them whose hometown were in the karta-cities. then i begin to realize, that, i only had a few close friends here, them who i kept close. well i know a lot of fellow, a lot of them maybe know me, but we actually aren’t ‘friends’ that almost of them i barely met in person. last year’s semester-break, i finally got to know some people closer. this current semester break, the time i start to realize the whole thing, i began to bond with more persons i usually touch via instagram or path. i don’t know is this still relevant to call such thing 'make friend' in this millennial age (where people can easily make friends via internet), but yeah. i do. i left gadget, i mean no, i use gadgets and actually make new friends.

ahya. a thing to confess; around september i’ve told u i stop doing social media except instagram, blog and u know, the essential ports like email and linkedin, plus.. ok let’s start with the moment i temporarily deactivated my instagram, in which i thought as pointless, and either boring and distracting. so i did a trial, to deactivate and see what happened. turned out some friends asked me what had happened with my account then i replied i wanted to leave it for weeks. but the next day, casually, i checked whether it’s still there–i mean i can activate it whenever i want to. but i hardly signed back in, few times i tried to but got fail several times, until for a second on my dozen-th times, i tried and it signed me in.

just like that. i technically activated it. the worst part was i just knew that it began to re-tag every pictures existed so that all of the tagged ones re-like even commented the pictures i posted years ago, thought i posted it in the very time. the next worst part, i wouldn’t deactivate again until a week so then i just go with it.

ok, there’s time when i became that person who loved posting every moment with those long captions. there’s also times when i used to be a location-obsessed person, where i loved to go to places that people barely know or places that soon-to-be popular, with me in it, posing like models or something alike, or actually just to try new-cafes with my well-dressed gang.

but now im just ok with it.

you know, it gets overrated. people become overrated. instagram forms a new potential world that has a powerful visual culture. well yes there are people who use it as portfolio and business necessary or chill-and-post-dude kind of person, but there also lives people who are too dumb to see the essence in gramming.

the people who is proud to join the stream of self-celebratization (menyelebkan diri sendiri, pinjam terms nya dayin) and yes sometimes it’s overwhelming that nowadays we are too busy to do fame and shape ourselves as a-well-feed person, or maybe a celeb when we, sadly, are not.

some people needs to tidy their feeds because they need to. they make money from endorsements and it comes because of how many they get the likes. other celebgrams need fame to promote their youtube, films, books, events, products, etc. if we want that, we want to be endorsed, it’s ok. or maybe we want to make it thematics or just tidy it and chill, it's up to each person. but if we want the fame alone, we want popularity itself and adoration ‘ahh that girl with nice feed’ or the title, ‘that hits girl’ ‘that hits boy’, i tell you, it’s sad.

baby it’s sad when our life depends on the amount of our likes, followers, or our feed. it’s sad that some people become obsessive to make their feeds neat because other people do so, because the stream tell us it defines who we are. it’s sad that we feel happy because many people likes us and then what? that we are famous now congratulation we are loved. that’s it? because baby it’s sad. it is.

what’s the point of being popular afterall? if you aim for being called and asked to do endorsement its ok. if you do it and turns out it looks nice and on point and dude chill and post. yes it's good. but when some of people are being too obsessive? dude, if you're obsessive, and it's actually enjoyable instead of spamming, it's ok. i like that tho. if you do it just for fun it's ok. but then what’s the point of having a neat feed? what’s the point of doing what everybody else does? what’s the point of being in the same stream with people?

or maybe, which people?

i used to. i used to take photo in a new or instagrammable places, posing like i was a model (well sadly im not), with fancy outfits, fancy words, overrated fanciness. then i realized, trus lapo? terus opo o? gek terus nyapo?

negasinya adalah, di atas aku udah bilang, pengecualiannya ketika emang pengen aja, pengen tematik aja, pengen kurasi, atau ketika seseorang make buat portfolio, atau emang dia seleb/pablik figur/cari duit karena edorsement/duta wisata pokoknya emang butuh pencitraan, ya silakan. atau memang dia tipe orang yang ya, pengen-aja-ngepost-terus-kenapa karena emang mungkin momentnya dapet, atau alasan lain.

tapi tendensinya apa. esensinya apa. pengen aja, oke. tapi kalo ga tau bahkan kenapa itu dilakuin atau karena kebawa arus, atau karena tendensinya emang pengen beken.. it's sad. (i actually dont know why am i so giving a dayum but i cant help).

kalo sampe obsesif itu lho. kalo sampe make 'hunting' cuma buat dateng ke tempat yang bahkan ga bakal pindah, bisa didatengin lagi besok, atau bajunya sebenernya oke, tapi maksa pokoknya ditumpuk-tumpuk aja biar hits, atau karena butuh 'ngefeed', biar dibilang orang kece gituloh, biar hits. omg sis, get a life. kalo ngelakuin itu karena ya, casually aja, ceprat cepret, eh bagus ya, post. atau, ih unyu nih spot, cekrik, upload gitu. atau karena lagi on point lalu cekrik, upload. why not.

cuma sedih aja kalo yang sampe obsesif terhadap selebritisasi diri sendiri, (ini kenapa si gua ulang ulang gua jg sebel sendiri) terhadap, julukan hits, terhadap sosial, terhadap pencitraan yang diinginkan. dude, it's overrated. worst when you do spamming. pengen banget nih jadi selebgram? dateng, outfit, pose, efek, ayolah. even 'hipsters' people leave that things away few years ago (because almost of us pasti pernah berada di titik itu ya gak sih). if you DO care with being hipster (ngehit bahasa gaolnya) (omg i feel so gross talk like this but i cant help), there is tint, and grain, or u can try blurry photo, and mood photo, watch hipster movies (type 10 hipsters movies of all time on youtube or google), there is scarf, theres plain tee and chill, if you want to take photo in coffeeshops, look around, even some people just sit there with laptops and headsets because they know they can sit there every evening if they want to, maybe they call you 'duh norak ya' atau 'kayak ga bakal bisa kesitu lagi aja' or if you really want to take photo there like a model, do it with class, some people can do it so. and class doesnt always mean fancy clothes, baju terminim atau baju bertumpuk-tumpuk, heels, running shoes, makeups or those things. or maybe you can start with.. simply do what you love, be you, be honest, just the way you are, just the way it is. it's much more worth the whole things. esp your kuota. and your followers's homefeed.

or maybe this is just you. maybe this culture just you and you're ok with it. it's, again, back to each of us. i cant bother anyone for their own thought i know.

but let me tell this thing. people will like it when they like it, you, the photo, the caption, the aesthetics, the whole thing, they will double-tap it if they want to. just, dont push yourself that hard. dont put your whole life on it.
chill.

pernah ga mikir gini,
1. mungkin orang yang lahir dan besar di sana, atau berdomisili di sana even gak dateng lalu foto-foto karena tahu mereka bakal bisa dateng ke tempat itu tiap hari kalo mereka mau (kecuali mereka ada proyek visual/endorsement, kecuali pengen aja foto--bukan obsesif karena pengen hits atau ngefeed)
2. kamu pun bisa ke sana tiap hari, kecuali pas itu langit dan cahaya alam lagi indah banget, atau lagi ada moment yang ingin kamu abadikan banget
3. semakin ke sini ngeliatnya malah kayak.. itu budaya-orang-luar-daerah banget iykwim
4. foto-hits-bareng-teman is actually so 2010 if your tendency is for being called as hits but if it is for cryztalizing the moments it is highly recommended (im not god tho i know. i know it)
5. foto sekali, dua kali, lima kali it's oke karena pas moment sama temen yang jarang ketemuan dan foto sebelumnya blur atau kenapa. tapi kenapa mesti over banget kalo toh demi dipost di feed. jadi salah fokus sama fotonya dan orang harus neglihat di feednya, bukan moment yang sedang terjadi.
6. if you really want it, maybe show some class
ps. i still love when people foto sendirian di tempat yang baru 'ngehip' atau ya foto hits pose kayak model, tapi tetep gak over, tetep interseting dan on point. atau foto lah foto hits hunting, tapi plis jangan spam sampe 3-3 bahkan 9 kali :( --> it is my very personal ask so dont mind it
6b. class bukan harus fancy outfit, tas mewah, makeup menor dan pose mahal. class is on your brain, and attitude. and, honesty.

or life is just too on point so the camera will help.

so after i technically activated back my account. i just go with it. but i start to unfollow so many people. i unfollow 300+ people and i keep 200+ yang mungkin bener-bener kenal, atau yang mungkin i feel like i want to hear their lives later, i follow who i want follow. because i see too much, i saw too many lives, too many news, and when it comes that i still do instagram, i want to stay healthy with it.

i follow 500 more accounts i find em match my passion and i dont need their follow-back. i started to post what i want to and chill. i dont care about followings, they can unfollow me whenever they want because they will follow me if they think they want/need to. i even dont care about the likes, about the aesthetic, because i do it for fun and chill. (sampe sini udah balik ke topik pembuka, jadi udah soal aku sendiri lagi gak maksudnya lo harus kaya gua. sampe sini gua ya cerita cerita aja soal kelanjutan kasus yang ada di pembukaan entry ini.)

i do a lot of ig-stories because i stop doing path/snapchat/askfm/twitter and i use ig-stories to replace all of its function; snapchat yes u already know why, path to show locations or words even movie and songs, askfm because with stories they could just ask me via dm if they want to and i will always reply them (i find it more communicative instead, as a social port, because it triggers people to just send and interacted, instead of giving love and in social media where we barely do comment idk why). it resumes all of other social medias' essence and the coolest part, it lets people to skip it. besides it will last for only 24 hours. and it doesnt have popularity-parameters because only us alone can know how many people have seen it. my stories usually get around 230-380 seen. a joking for my numbers of follower (I NEVER BOUGHT FOLLOWERS OR LIKES pls note that.)

im sorry if it looks pompous, or cocky, or haughty, chesty, uppish, donnish, whatever you name it. but i swear i'm not smug. and i hope you get my point. because i've lost friends of mine only because they tend and prefer to do fame dan hunting foto than just hang out and chill with me anywhere we can reach.

i dont say selebritisasi itu buruk. i say it's sad when we become too obsessive and worse when we dont know why we do it or what we mean by doing what we're doing. after all human needs to actualize their selves. and basically it's all back to each person and it's not our business to bother em, i know. i just cant help but write down what i saw and felt, im not stating it's bad. i said it's sad not bad. actually if it's interesting it's fine it's so ok. i love that. what i regret is, when they overdo it and become obsessive upon it. my title was, tentang kultur selebritisasi-diri-sendiri, tentang. if they actualy do it because all people do so. if they dont know why the do it and the essence behind their action. i talk about it from my point of view and i surely open a wide arguments upon it. correct me if i am wrong, i'd love to hear another point of view. you can comment down below, or dm me, or line me, or send me an email. or whatever, anywhen, anywhere, anyhow.


sincerely,
i really miss those times when we just hang out and go somewhere, sit and eat anything, laugh and chill without any tendency of feed, or fame.